Umroh Istimewa (1): Panggilan Allah (Semestinya) Kita Jemput

Pelataran depan Masjid Nabawi, Madinah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas karunia-Mu perjalanan umroh yang istimewa tahun ini (9-20 November 2025). Allahumma sholi ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad. Ya Rasulullah saya mohon syafaatmu kelak di hari Kiamat 🙏

Tahun lalu ketika duduk di depan Ka’bah, saya berdoa agar dipanggil (lagi) dengan kondisi dan fasilitas yang lebih baik. Dan percaya atau enggak, saya seperti mendengar jawaban, “Ya, Ari. Tahun depan kamu ke sini (lagi).”

Kenapa saya begitu (berjuang) untuk terus bisa datang umroh? Hanya saat umroh itulah, di Madinah dan Mekkah, saya merasa “hidup” sebagai ciptaan Allah yang patuh untuk beribadah. Di tempat itu, waktu “dunia” seperti terhenti. Serasa hanya menunggu dari saat sholat ke sholat berikutnya. Jeda waktu pun diisi dengan ibadah-ibadah. Dan saat di Madinah, Masyaallah hati begitu tenang, adem, damai. Nggak bisa saya ceritakan seperti apa harunya, sampeyan harus datang dan mengalami sendiri untuk bisa “memahami” apa yang saya rasakan.

Lalu begitu saja, muncul niat di hati, kalaupun saya harus memangkas semua agenda piknik untuk bisa ke sini lagi, itu akan saya lakukan. Semoga lebih dari cukup rezeki untuk semuanya.

Pulang umroh tahun lalu, kembali dengan aktivitas dan rutinitas yang bekejaran di akhir tahun. Desember sering jadi bulan paling sibuk bagi penulis profesional seperti saya. Tutup tahun. Rampungan dan oyak-oyakan deadline. Workshop-workshop penulisan super dadakan. Proyek buku-buku yang nyelo-nyelo. Company profile/film/video/series yang superkilat; dll gaweyan yang intinya program menghabiskan anggaran. Beuuh…

Dulu pas saya masih jadi sandwich generation yang memback up saudara saudara dan orang tua, saya iya-iya saja karena perlu uang yang sangat besar. Setelah urusan itu selesai, saya wes emoh menerima proyek dadakan yang bikin stres jiwa raga, meskipun duitnya gede.

Sudah lebih dari 10 tahun ini, hidup saya ala Jogja banget. Kerja kalem kalem, syukur syukur yang duitnya besar. Kalau enggak, yang penting wes cukup untuk hidup layak dengan seluruh tanggungan saya. Simpel banget. Hidup lebih tenang damai, nggak uber-uberan dan penuh teriakan deadline. Duit saya dengan kerja “santai” memang nggak banyak, tapi alhamdulillah selalu cukup untuk apa saja sesuai keperluan.

Desember tahun lalu pun, saya wes menghitung perkiraan duit saya di tahun 2025. Nggak banyak. Rencana piknik pun saya ganti domestik seluruhnya. Nggak selalu lebih murah daripada piknik luar negeri, tapi jelas lebih hemat waktu dan energi. Menyadari sepenuhnya, tampilan boleh muda belia, tapi saya nggak terlalu muda lagi. Kekuatan fisik wes berkurang.

Ngumpulin duit nggak selalu mudah. Nggak cuma bagi saya, tapi bagi kebanyakan orang. Jadi ketika niat umroh itu sudah muncul di hati, saya yo berusaha ngumpulin uang sekurangnya cukup nggo bayar DP dulu. Dari Nov 2024 baru di April 2025 saya selow uang 5 juta, dan langsung daftar ke Dewangga untuk November 2025.

Total biaya sekira 35-40 an juta; karena saya milih trip via Dubai dan Turki. Untuk yang hanya umroh biasanya dari Jogja sekira 25-30 jutaan. Teman-teman bisa memilih paket umroh yang sesuai dengan kondisi finansial masing-masing. Kalau baru bayar DP 5 juta, njur kekurangannya piye? Ya embuh, nanti sambil jalan.

Untuk Teman-teman yang belum pernah ke Tanah Suci, kalau sudah ada niat, nggak usah mikirin duit atau biayanya dulu. Tapi sambut dan jemput saja niat itu dengan sebaik-baiknya. Bahkan kalau saat itu hanya ada duit luang 10 rb, siapkan saja itu di celengan khusus dengan niat untuk umroh. Ikuti dengan persiapan lainnya. Misalnya nanti pas sudah ada duit 600 rb, urus paspor dulu. Karena ini nggak bisa sehari jadi dan masanya 10 tahun, jadi lumayan kalau sudah diurus. Lalu ya nabung lagi dst. Gpp sedikit demi sedikit. Tahun lalu saya jumpa suami istri (guru SD) berangkat umroh setelah menabung selama 28 tahun. Masyaallah.

Pelataran Kabah, Masjidil Haram, Mekkah, setelah thawaf umroh, 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Karena sudah niat, saya bekerja lebih keras demi memenuhi anggaran untuk umroh. Beberapa gaweyan penulisan skenario, saya kerjakan lagi; termasuk jadi supervisi naskah untuk series. Alhamdulillah, memang Allah itu memampukan yang dipanggil, bukan memanggil yang mampu. Ada saja jalan rezekinya. Dan lebih sering nggak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Dari Januari ke Oktober 2025 saya tetep full piknik. Hidup sewajarnya tetap dengan sedekah. Yo ngurusi anak-anak asuh. Dan alhamdulillah tetep bayar 5 jutaan cicil biaya umroh. Alhamdulilah. Jangan mikirin duit untuk ini dari gaji dosen di kampus swasta ya. Lha wes sekarat dari awal itu kalau saya itung-itung; untuk transport dan makan siang saya sebulan bae sering nombok😁🙈 Belum kalau kudu ngrewangi mahasiswa bayar atau nomboki kekurangan ini itu, wes… duit saya dari kampus bablas saja.

Jujurly pas pertama terima gaji sebagai dosen yang begitu rendah, padahal masuk dengan ijazah S-3 yang sekolahnya ya nggak murah, itu saya syok dan stres duluan. Tenan, saya wes berusaha ngotak-atik kalau uang saya mung segitu dari gaji dosen, bagaimana caranya mengatur duit untuk bisa hidup layak di Jogja?

Pokokmen kalau nggak inget-inget ibu yang pingin anaknya guru besar, saya wes belok kiri setelah 2 bulan diminta gabung di kampus tempat saya ngajar. Sekarang saya sudah berdamai, menerima gaweyan dosen sebagai tambahan rutinitas. Rasah diitung-itung duitnya. Versi saya kecil, tapi ada banyak orang yang mati-matian untuk bisa kerja sebagai dosen; dengan segala macam test dan prasyarat.

Saya bae yang ndilalah gaweyan ditawarin, datang sendiri, dan sering saya tolak pula kalau saya sedang nggak mood dengan kerjaannya. Prinsipnya kalau hidupmu sesuai kemampuan, nggak kebanyakan gaya, nggak ada utang atau cicilan beribet, kerja pun nggak perlu ngoyo dan bisa memilih yang “menyenangkan”.

Sekira bulan Juli bayar umroh saya wes lunas. Alhamdulilah, saat itu sekurangnya saya wes menjemput duluan panggilan Allah dari sisi biaya. Sekarang tinggal urusan fisik, mental, spiritual. Latihan fisik, olahraga lebih tertib. Umroh adalah salah satu ibadah yang membutuhkan fisik kuat. Perjalanan jauhnya, prosesi thawaf dan sai-nya, dll aktivitas untuk menyempurnakan rukun dan kewajiban umroh itu sungguh nggak ringan.

Persiapan mental jelas nggak boleh sombong, belagu. Diberi anugerah berangkat umroh tiap tahun itu beneran harus bikin saya makin menunduk patuh taat pada Allah, menyadari sepenuhnya dosa-dosa yang begitu besar, ibadah yang masih bolong-bolong, syukur yang masih kurang-kurang, dll.

Sering juga saya sudah niat sedekah, tergoda beli apa yang nggak penting tapi lucu gitu, njur ambyar. Mo ngaji 1 juz bae, malah milih nonton drakor duluan, dll. Sudah tahu punya anak-anak asuh yang kudu dibayarin biaya sekolahnya, kadang-kadang saya yo masih ngedumel geje. Apalagi kalau ngerasa kenapa ini duitnya jadi perlu banyak. Kadang masih iri sama rezeki dan pencapaian orang lain, merasa kok hidup saya mung gitu-gitu bae, dll.

Persiapan spiritual jelas, ibadah pol-polan biar “target ibadah” pribadi saya di Baitullah saat umroh bisa tercapai. Karena biasanya, seperti apa kita beribadah di rumah sebelum umroh; itu nanti yang terbawa saat kita sudah ada di Tanah Suci.

Akhirnya perlu saya ulang lagi, nggak usah kecil hati kalau kamu belum punya duit untuk umroh. Ada niat untuk pergi umroh aja, itu versi saya sudah bentuk panggilan Allah. Nah, tugas kita berikhtiar, menyempurnakan panggilan itu dengan memenuhi syarat-syaratnya. Berapa lama? Wallahu’alam. Pokoknya kalau belum kesampaian, perbarui terus niatmu dan doa yang banyak agar segera dipanggil ke Baitullah.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *