Surga di Wakatobi (14): Kampung Bajau dan Tantangan Air Bersih

Sisi dekat laut kampung baru Orang Bajau di Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kami tiba di kampung baru orang Bajau di Pulau Kapota ini saat matahari bersinar sangat terik. Panasnya luar biasa. Air mineral yang saya minum rasanya cepat betul menguap diterpa keganasan sang surya.

Toh saya berkeliling juga di perkampungan Bajau ini. Rumah-rumah baru hibah dari pemerintah Wakatobi ini merupakan salah satu permukiman khas yang dihuni oleh orang Bajau. Secara umum, orang Bajau merupakan kelompok masyarakat maritim yang dikenal dengan kehidupan mereka yang sangat dekat dengan laut.

Kampung baru orang Bajau ini berada di pesisir yang tenang dengan pemandangan laut biru membentang luas. Rumah-rumah warga berdiri di atas tanah dengan tiang-tiang kayu yang kokoh. Rumah-rumah ini berada di tepi laut, yang cukup dekat untuk aktivitas orang-orang Bajau sebagai nelayan dan penyelam tradisional.

Rumah-rumah orang Bajau di Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Konsep rumah di kampung baru orang Bajau ini agak berbeda dengan rumah-rumah tradisional orang Bajau yang berdiri kokoh di atas air laut dan dihubungkan oleh jembatan papan sederhana; sehingga kalau dilihat dari kejauhan, permukiman orang Bajau tradisional tampak seperti terapung di atas laut. Gambaran sebuah panorama indah yang mencerminkan keakraban orang Bajau dengan alam bahari.

Di pemukiman ini telah berdiri lebih kurang 44 rumah (cmiiw) dan seperti kebanyakan lazimnya kehidupan orang Bajau, dalam setiap rumah biasanya ada 3-4 keluarga (cmiiw), maka dapat dihitung kira-kira bahwa warga Bajau di kampung itu cukup banyak.

Seperti kebiasaan etnis Bajau, warga di kampung baru itu pun bekerja sebagai nelayan dan penyelam tradisional. Aktivitas sehari-hari mereka selalu bersinggungan dengan laut, mulai dari menangkap ikan, mencari hasil laut, hingga memperbaiki perahu. Laut bukan sekadar sumber mata pencaharian, tapi sudah jadi bagian dari jati diri dan budaya mereka yang diwariskan secara turun-temurun.

Wadah-wadah penampungan air tawar (yang nggak bersih) di kampung Bajau. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kampung baru orang Bajau terlihat seperti “replika indah” kehidupan orang Bajau dalam versi riil dan tertata. Namun di balik pesonanya, orang-orang Bajau di sini menghadapi tantangan besar dalam memperoleh air bersih. Letak kampung yang sebagian berdiri di atas tanah kapur Pulau Kapota, menyebabkan penggalian sumur jadi tidak mudah. Kalau pun bisa menggali sumur, air tanah yang ditemukan umumnya asin atau payau karena bercampur dengan air laut.

Mayoritas warga Bajau di sini mengandalkan air hujan yang ditampung dalam galon-galon atau wadah-wadah besar sebagai sumber utama untuk kebutuhan harian seperti memasak dan mencuci. Saat musim hujan, mereka merasa bersyukur karena dapat mengumpulkan banyak air.

Sebaliknya saat musim kemarau, situasi menjadi lebih sulit. Persediaan air cepat menipis. Sebagian warga harus membeli air bersih dari kampung lain di daratan Pulau Kapota dengan harga yang nggak murah. Kondisi ini menuntut mereka untuk hidup hemat air dan saling berbagi dengan tetangga.

Salah satu sumur galian yang belum selesai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pada saat kami datang, saya melihat teriakan dengan ekspresi gembira anak-anak dan juga orang-orang dewasa dari sisi yang agak jauh dari rumah-rumah tersebut. Mereka menemukan sumber air tawar, meskipun belum terlalu jernih. Sekurangnya hari itu ada tiga sumur (cmiiw) yang digali secara mandiri dan bergotong royong antar warga Bajau; yang semuanya menghasilkan air tawar.

Saat saya melongok ke salah satu galian sumur yang belum selesai, (versi saya) masih tercium aroma asin yang pekat dengan air yang masih sangat keruh. Mungkin kalau digali lebih dalam dan lebih lebar akan segera ketahuan itu air tawar atau air asin/payau.

Saya pikir, masyarakat Bajau di sini bisa mengatasi masalah air tawar/air bersih bersama pemerintah desa dan pihak terkait. Beberapa solusi terpikir oleh saya saat melihat situasi kesulitan air tersebut. Pertama, membangun tandon air hujan berukuran besar di beberapa titik kampung.

Anak-anak kampung Bajau yang gembira mengambil air bersih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kedua, menyalurkan bantuan air galon isi ulang bagi keluarga yang membutuhkan (dalam kondisi darurat). Ketiga, mencari sumber-sumber air tawar dengan menggali sumur-sumur menggunakan alat-alat modern, bukan sekedar tenaga manusia; sehingga bisa dilakukan dengan lebih cepat dan identifikasi air tawar lebih mudah.

Keempat, pemerintah dan atau lembaga sosial bisa membantu menyediakan filter air sederhana agar air payau bisa diolah menjadi “air tawar” yang lebih layak digunakan. Biasanya mahasiswa-mahasiswa KKN dari program-program lingkungan, bisa membantu menyediakan fasilitas ini. Kalau enggak, alat-alat ini sudah banyak dijual di marketplace dengan harga beragam mulai ratusan ribu hingga jutaan.

Kelima, desalinasi. Secara sederhana desalinasi adalah proses untuk menghilangkan garam dan mineral dari air laut agar bisa digunakan untuk minum, memasak, atau kebutuhan sehari-hari lainnya. Dengan cara ini pasti akan mencukupi kebutuhan air tawar untuk warga Bajau sepanjang masa, karena air laut yang sangat melimpah. Biaya produksi desalinasi saat ini masih cukup tinggi; 2,5-4 USD per meter kubik; artinya tiap meter kubik perlu 40-70 K.

Kami di kampung Bajau. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sebenarnya dengan berbagai alternatif solusi itu, tanpa keterlibatan pemerintah pun, warga Bajau bisa mengatasi masalah dan tantangan air bersih ini secara swadaya mandiri. Mereka bisa memilih cara yang paling cocok dan sesuai dengan kemampuan finansial komunitas. Tentu akan lebih mudah kalau ada program pendampingan untuk masyarakat di sini.

Toh meskipun hidup dengan segala keterbatasan, masyarakat Bajau di kampung baru tetap menunjukkan semangat gotong royong dan kearifan lokal yang kuat. Mereka menjaga kebersihan lingkungan, saling membantu, dan terus beradaptasi dengan alam laut yang telah menjadi rumah mereka sejak lama.

Kampung baru orang Bajau bukan hanya permukiman nelayan, tetapi juga potret ketangguhan dan kebijaksanaan masyarakat pesisir yang hidup harmonis di tengah tantangan kondisi geografis wilayahnya.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *