Surga di Wakatobi (13): Danau Kapota dan Legendanya

Pak Ode dengan kawan barunya di sekitaran Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Wisata yang paling kondang di Pulau Kapota adalah danau besar. Keindahan alam danau ini masih belum banyak dikenal wisatawan. Danau ini terletak di tengah Pulau Kapota, beberapa kilometer dari pesisir. Danau ini menjadi bagian penting dari ekosistem pulau yang masih alami.

Akses ke danau cukup mudah. Dari parkiran depan, kita akan melihat masjid cukup luas dan terawat di sebelah kiri. Tapi piranti sholat (mukena dan sajadah-sajadah) seperti sudah lama nggak dicuci. Toilet dan tempat wudu ada, tapi saat itu dikunci dan nggak ada akses air.

Karena sudah waktunya Dhuhur, saya yo sholat di situ; sambung jamak Dhuhur Ashar dengan tayamum. Berdoa secukupnya dan melanjutkan aktivitas. Dari masjid untuk menuju danau, kita akan melewati gazebo-gazebo yang cukup banyak untuk kafe dan resto. Lalu menurun melingkar melewati jalan berpagar dan sampailah ke areal gazebo besar yang langsung menghadap danau.

Map Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Permukaan danau tampak tenang dengan air yang jernih berwarna biru kehijauan, memantulkan langit dan pepohonan di sekitarnya. Di sekeliling danau tumbuh pepohonan hijau yang rimbun, termasuk mangrove dan vegetasi pantai lain yang memberikan suasana sejuk dan asri. Ketika angin bertiup pelan, permukaan air bergelombang lembut, menciptakan pemandangan yang menenangkan.

Danau ini menjadi tempat hidup berbagai jenis ikan air payau serta burung-burung yang sering hinggap di ranting pohon sekitar. Airnya berasal dari campuran sumber air tawar dan rembesan air laut, menjadikannya danau payau yang unik. Pada pagi hari dengan kondisi alamnya, (mestinya ada) kabut yang menyelimuti permukaan danau ini.

Bagi penduduk setempat, danau di Kapota bukan hanya keindahan alam, tetapi juga sumber kehidupan. Airnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, dan di sekitarnya sering dijadikan tempat beristirahat atau bersantai. Meskipun belum banyak fasilitas wisata (tambahan), keaslian dan ketenangan danau ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang mencari suasana alami dan damai.

Masjid di areal depan Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kami berempat (saya, Pak Ode, Bu Muna, dan Pak Basri) datang ke danau saat matahari sudah sangat tinggi. Usai makan siang –bawa makan minum sendiri, yang kami beli pesan di bawah; karena di areal danau nggak ada orang jualan, saya wes berasa liyer-liyernya. Ngantuk banget dan sebentar saja wes tertidur pules. Alam Danau Kapota beneran bikin orang serasa hidup damai tanpa gangguan.

Dua adik lelaki saya pernah ngomeli saya gegara kebiasaan saya tidur di sembarang tempat begini. Pas kami makan malam (sudah larut) di kafe, usai makan mereka masih ngobrol seru, saya wes ngantuk dan tertidur dengan kepala di meja. Mereka terpaksa harus cepat pulang dan memapah saya ke mobil. Besoknya saya kena omel panjang lebar. Mereka menanyakan apa saya nggak khawatir (kalau pergi sendiri) ada orang jahat, begini begitu. Saya cuma tertawa pelan, orang jahat itu (biasanya justru) orang-orang dekat. Kalau nggak kenal seringnya malah dilewatkan begitu saja.

Kembali ke Danau Kapota, saat saya terbangun; sudah sedikit ramai karena ada rombongan keluarga yang datang. Saya sempat ngobrol random dengan mereka tentang danau tersebut. Tapi nggak ada sedikitpun informasi tentang asal usul Danau Kapota.

Jalan berpagar menuju Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di waktu yang lain setelah balik ke Jogja, saya berusaha mencari data-data tentang Danau Kapota ini. Berbagai danau yang saya kenali, antara lain Kastoba, Toba, Singkarak, Maninjau, Ranau, Kelimutu, Sentani, Poso,Tempe, Matano, Ranu Kumbolo, Labuan Cermin, Bedugul, dll. rasanya semuanya ada kisah legenda atau asal usulnya yang tersebar luas secara lisan. Lha masa Danau Kapota “yang ajaib” ini nggak ada kisah rakyatnya? Pas saya nanya Bu Muna sebagai orang lokal, nggak ada jawaban memuaskan.

Saya merangkum kisah danau ini dari googling berbagai sumber. Jadi untuk tahu kebenarannya masih memerlukan banyak riset dan data yang valid. Konon, dahulu kala danau itu bukanlah danau. Tempat ini berwujud lembah luas yang dihuni oleh sekelompok keluarga nelayan.

Di lembah itu tinggal seorang gadis bernama Wa Ndolu, yang terkenal karena kebaikan hati dan kecantikannya. Ia rajin membantu siapa pun yang membutuhkan, terutama para nelayan yang pulang melaut.

Sejauh mata memandang, air biru kehijauan di Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Namun, suatu hari datanglah seorang pemuda “asing” atau non lokal yang jatuh cinta padanya. Pemuda itu nggak diketahui asal-usulnya, dan masyarakat setempat curiga bahwa ia bukan manusia biasa.

Wa Ndolu menolak lamaran pemuda itu dengan halus karena merasa ada sesuatu yang aneh atau nggak wajar padanya. Akibat penolakan tersebut, si pemuda ini tersinggung. Dia pun mengungkap jati dirinya sebagai jelmaan pemimpin kerajaan “makhluk bawah laut” dan mengutuk lembah tempat tinggal Wa Ndolu agar tenggelam.

Dalam sekejap, air keluar dari bawah tanah dan dari arah laut, menenggelamkan seluruh lembah. Hanya puncak-puncak bukit kecil di sekitarnya yang tersisa, sementara di tengahnya terbentuklah danau besar yang sekarang dikenal sebagai Danau Kapota.

Kami berempat di Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Penduduk setempat percaya bahwa pada malam-malam tertentu, terutama saat bulan purnama, kadang terdengar suara perempuan bernyanyi lembut dari tengah danau. Masyarakat sekitaran di masa lampau percaya bahwa suara itu adalah suara Wa Ndolu, roh penjaga danau yang tetap setia melindungi keindahan Kapota.

Oleh karena kepercayaan itu, masyarakat setempat terus menjaga kelestarian danau. Mereka juga nggak sembarangan mengambil ikan atau merusak lingkungan di sekitarnya.

Bukankah kisah Danau Kapota tersebut agak mirip-mirip dengan legenda atau asal usul danau-danau lain di Indonesia, yang sudah saya sebutkan sebelumnya? Masalah kebenarannya, ya wallahua’lam saja.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *