
Ini cappucino di kafe dekat Marina Togo. Saya merasakan aneka “rempah” tapi nggak bisa mengidentifikasi satu per satu; superenak, beda dengan cappucino yang biasa saya minum. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Usai dari menara mercusuar, saya menolak makan malam karena masih terlalu kenyang. Kami mampir kafe untuk ngopi. Wah, ternyata kopi racikan cappucino di sini enak banget. Ini namanya kafe apa ya? Lupa. Tempatnya nggak jauh dari Marina Togo. Kentang gorengnya juga super enak, entah apa bumbunya. Kenyang-kenyang pun saya masih bisa habis makan kentang goreng dua porsi. Kalau nggak cocok di lidah saya, pasti satu porsi pun nggak habis😁😂
Malamnya saya tidur nyenyak. Selama di Wakatobi saya tidur nyenyak tiap malam, bahkan siang pun kadang sempat tidur. Makan kenyang, tidur nyenyak, slow living banget. Hidup damai nggak mikirin gaweyan, nggak diribetin urusan ngajar, bimbingan, rapat-rapat yang membagongkan, teriakan koreksi atau revisi dari klien penulisan, cecaran deadline dari manajer, telpon produser, dll yang kadang bikin mata melotot dan kelapa pusing mendadak🤣
Pak Ode mengomentari, saya bisa begitu karena duitnya ada atau sudah nggak mikir duit 😁🙏 Haha… mana ada orang yang nggak mikirin duit. Saya yo mikir, tapi pas di sana memang nggak mikirin, karena anggarannya wes disiapin. Saya sempat bengong itu pas sampe Jogja, kenapa uang tunai masih cukup banyak 🤣 Biasanya kalau habis bepergian panjang dan jauh, uang tunai memang (selalu) sisa, tapi pasti nggak sebanyak itu 😁 Lihat sisa uang, bukannya segera ditabung, saya wes mikir mo pergi ke mana lagi ya 🤣


Dermaga di Wangi-wangi tempat sandar perahu yang bolak-balik ke Kapota. Di sisi lainnya banyak bersandar kapal-kapal besar untuk jarak jauh. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Keesokan harinya, pagi-pagi kami sudah jalan untuk ke Kapota. Saya mung iya saja, nggak tahu apa itu Kapota dan nggak kepikiran untuk Googling nyari info. Pokmen Wakatobi cocok banget untuk mereka yang mo berlibur dengan menikmati kehidupan yang santai-santai. Alam laut yang indah, warga (cenderung) ramah, makanan/minuman dan jajanan beraneka macam, jalanan serasa milik pribadi. Siapin aja anggaranmu sebanyak waktu yang ingin kamu habiskan di negeri para pelaut ini.
Saya nggak ingat pasti sebelum ke dermaga yang menuju Kapota itu, Pak Ode ke mana saja. Orang satu ini embuh, energinya kayak nggak pernah habis. Pokoknya kelihatan banget dia niat tenan menunjukkan berbagai tempat agar saya tahu detail semua wisata di daerahnya. Itu pun kami masih di Wangi-Wangi doang. Belum pulau-pulau lain di Wakatobi.
Pas ketemu saya lagi, Pak Ode bilang harus nunggu temannya yang dari Kapota. Dia masih belanja. Saya mengangguk saja, mengamati lalu lalang orang yang berdatangan dengan belanjaan mbriyut (banyak banget). Anak kecil, remaja, dewasa semua ada. Kapal-kapal di kejauhan banyak yang bersandar.

Pak Ode, Bu Muna, saya di dermaga Wangi-Wangi sebelum ke Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Nggak beberapa lama, Bu Muna (kawan Pak Ode) datang dengan belanjaannya (eh ini masih dibawa atau sudah diletakkan di kapal ya, saya nggak terlalu ingat). Beberapa waktu mereka berdua ngobrol akrab dengan bahasa lokal. Tentu saja saya nggak paham. Baru ketika mereka ngomong bahasa Indonesia, saya ngerti yang dibicarakan. Bu Muna akan telpon kawan lainnya karena ada kami berdua, biar bisa motoran keliling Kapota. Intinya begitulah.
Pas waktunya tiba, kami pun berangkat ke Kapota dengan perahu bermotor. Bercampur dengan orang-orang lokal dan semua barang belanjaan mereka. Perjalanan memerlukan waktu 15-20 menit untuk sampai di Kapota. Pulau ini salah satu pulau indah yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Pulau yang letaknya di sebelah barat daya Pulau Wangi-Wangi ini, menjadi bagian dari Kecamatan Wangi-Wangi Selatan. Meski ukurannya nggak terlalu besar; tapi kalau jalan mengelilingi pulau ini, ya butuh waktu seharian 😁
Kapota menawarkan pesona alam yang memikat dan suasana khas pulau tropis. Pulau ini dikelilingi oleh laut biru jernih dengan gradasi warna yang memukau; mulai dari biru muda di tepi pantai hingga biru tua di bagian laut dalam. Pasir putihnya halus dan bersih, cocok untuk bersantai atau bermain air. Di sekitarnya tumbuh pepohonan kelapa yang memberikan nuansa alami dan teduh. Dari tepi pantai, pengunjung bisa melihat dengan jelas Pulau Wangi-Wangi di kejauhan.

Saya dan Bu Muna di perahu motor dengan penumpang lain dan barang belanjaannya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Seperti wilayah lain di Wakatobi, Pulau Kapota memiliki kekayaan terumbu karang dan biota laut yang luar biasa. Airnya yang jernih membuat snorkeling dan diving di sekitar pulau ini sangat menyenangkan. Ikan-ikan berwarna-warni, bintang laut, dan aneka karang keras maupun lunak menghiasi dasar lautnya.
Saya tahu cerita itu dari Bu Muna. Dan sebagian saya lihat langsung, termasuk ular laut; yang entah gimana, saya beruntung aja bisa melihatnya. Dalam versi cerita Mirna (kawan ngobrol di kapal pas saya balik ke Kendari, kalau sudah jumpa ular laut habis sudah takdir hidup). Ular ini bisanya jauh lebih ekstrem daripada ular kobra di daratan. Sekali gigit, habis sudah hidup.
Jadi para nelayan, penyelam lokal pun sudah tahu; kalau melihat ular laut di sekitaran mereka harus diam “seperti patung” sampai ular laut pergi dengan sendirinya. Kalau ada gerak dikit, ular akan terganggu dan langsung menyerang. Ya ampun, ngebayangin aja saya sudah merasa horor; diam di daratan mudah, diam di kedalaman lautan dengan mengatur nafas oksigen, biyuuu… wes mboten mawon. Jangan sampai deh jumpa ular laut di kedalaman lautan 😄😆

Salah satu sisi dermaga Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Versi saya, Bu Muna ini salah satu perempuan tangguh dari Kapota. Masa remajanya ketika sekolah SMA ya nyeberang laut tiap hari dari Kapota ke Wangi-Wangi, PP. Kalau sore sudah nggak kebagian perahu, dia akan minta teman-teman yang orang tuanya punya perahu untuk menyeberangkan. Lalu turun dari perahu masih harus jalan kaki sekira 3-4 km untuk sampai rumah. Besok paginya diulang lagi dari awal sampai lulus.
Biyu, hebat tenan. Saya di Jawa suruh sekolah jalan kaki 1 km saja (waktu SD) sudah teriak teriak minta sepeda. Lha ini, waah… sungguh besar tekadnya untuk sekolah. Sementara teman-teman sebayanya, lulus SMP lebih banyak yang memilih atau “dipaksa harus” menikah.
Sekarang sehari-hari Bu Muna membuka warung/toko pracangan (jual kebutuhan sehari-hari) di Kapota. Suaminya kerja di luar pulau. Tiga anaknya juga merantau di luar pulau. Praktis dia tinggal dengan satu anaknya yang berkebutuhan khusus; juga mertua dan orang tua (yang tinggal di sekitaran, tapi nggak satu rumah).

Pintu gerbang kawasan wisata Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya menangkap semangat untuk maju yang luar bisa dari sosok perempuan ini. Kalau di masa mudanya diberkahi kecukupan modal ekonomi untuk sekolah, saya yakin dia sudah terbang jauh melintasi batas untuk sekolah tinggi dan pasti jadi perempuan yang luar biasa. Sekarang pun dia seorang ibu yang hebat.
Sungguh dengan jujur ringan hati menerima keberadaan anaknya yang istimewa. Saya menangkap rasa keharuannya saat menunjukkenalkan anaknya ini pada saya. Hadeuh, tanpa sadar saya mengusap air mata yang bercampur keringat. Hanya ibu hebat yang bisa begini, sementara banyak orang tua yang “sengaja” menyembunyikan anak-anak begini karena dianggap bawa malu keluarga.
Doktrin budaya, adat, tradisi, dan orang tua yang masih menganggap anak perempuan nggak perlu sekolah tinggi, karena toh nanti yo menikah, ngurus anak dan suami di rumah; sungguh mengekang langkah perempuan. Di masa sekarang pun masih banyak modelan begitu yang membelenggu kaum perempuan.

Laut Kapota. Kalau kita melongok ke dalam air, akan terlihat gerombolan ikan-ikan kecil di tepiannya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya senang bertemu dengannya, karena sepanjang pagi sesiangan menuju sore; Bu Muna menceritakan banyak hal pengalaman hidupnya. Hingga membuat saya bersyukur berulang kali. Alhamdulillah. Masyaallah hidup yang versi saya wes jatuh bangun jumpalitan itu keknya nggak ada apa-apanya dengan “kekerasan hidup” yang dialami perempuan asli Kapota ini.
Itu kenapa dalam banyak tulisan, saya sering berpihak pada perempuan (selain karena saya perempuan, juga karena saya masih sering menyaksikan banyaknya ketidakadilan pada perempuan di seluruh Nusantara atas nama gender); meskipun saya nggak sepakat sepenuhnya dengan aliran feminisme, tapi saya tahu masih banyak hak-hak dan kesetaraan perempuan vs laki-laki yang harus diperjuangkan.
Penduduk Pulau Kapota cenderung ramah dan hidup dalam komunitas kecil yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan. Mereka masih mempertahankan tradisi dan budaya lokal, termasuk bahasa daerah dan kearifan dalam mengelola sumber daya laut. Beberapa warga juga terlibat dalam kegiatan pariwisata berbasis masyarakat, seperti menyediakan perahu kecil untuk wisatawan.

Sisi lain dermaga Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Selain menikmati keindahan pantainya, wisatawan bisa berjalan-jalan keliling desa, berinteraksi dengan warga, atau sekedar jalan-jalan di tepi laut. Kapota bisa dibilang sebagai permata tersembunyi yang belum terlalu ramai. Ya itulah daya tariknya: keindahan alami, kehidupan masyarakat yang bersahaja, dan laut yang masih terjaga.
Sebenarnya niat kami ke pulau ini hanya untuk melihat danau besar. Bu Muna justru membawa kami ke pantai Wisata Kolo, pemukiman baru etnis Bajo, dan Kapota Beach. “Bu Ari belum tentu ke sini lagi. Mumpung di sini, lihat-lihat yang bagus.” Begitu katanya saat saya bilang tujuan awalnya hanya ke danau.
Nanti akan saya ceritakan tempat wisata yang disebut di Kapota itu secara bergantian. Terimakasih banyak Bu Muna; yang sudah sharing cerita pengalaman hidupnya dan memboncengkan saya dari dermaga untuk keliling (hampir) seluruh Pulau Kapota.
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari
