
Identitas Desa Wisata Liya Togo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Jangan dibayangkan desa wisata (deswita) di Wakatobi seperti deswita di Jawa dan Bali ya. Kalau di Jawa Bali, deswita wes pasti ada tiket masuk, dipenuhi pengunjung, orang jualan, pengamen-pengemis-pencopet, tukang foto keliling, guide-guide nggak resmi, ojek-becak-delman yang rieuweuh nawarin jasa, tempat jualan souvenir, dll keramaian khas deswita.
Pas kami datang, Desa Wisata Liya Togo ini beneran sepi. Hanya ada seorang petugas sekuriti yang jaga dan menyambut kami. Setelah bertanya standar ini itu, petugas pun membiarkan kami masuk. Nggak ada tiket masuknya. Di Jawa Bali kalau deswita nggak pake tiket masuk, itu justru aneh😂😁

Rumah panggung di areal deswita Liya Togo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Di areal utama deswita ini ada satu rumah panggung yang cukup besar. Tempat ini sekarang difungsikan sebagai tempat pertemuan, rapat, musyawarah, dll keperluan kampung. Pas saya naik ke rumah ini, arealnya cukup luas. Mampu menampung 200-300 orang dalam posisi duduk tanpa kursi. Mungkin memang untuk kegiatan desa.
Lalu di sisi kiri ada makam raja-raja (mungkin bangsawan tinggi, belum raja) dan juga para penyebar agama Islam di wilayah ini. Lagi lagi karena ini di Wakatobi, nggak ada sakralisasi makam. Makam ya sudah terbujur begitu saja, tanpa sajen, tanpa kemenyan atau benda-benda wewangian lainnya, ataupun bunga-bunga rampaian melati-mawar-kantil-kenanga di atas makam. Hanya untuk areal makam ini pada bagian pintu masuknya diberi tanda dilarang masuk.

Areal makam raja-raja (bangsawan) dan para penyebar agama Islam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Setelah itu ada areal luas seperti padang rumput terbuka. Weish, kalau di Jawa tempat seluas itu di areal deswita pasti sudah penuh dengan pedagang kaki lima dan segala barang dagangannya. Atau mungkin digunakan untuk tempat atraksi-atraksi hiburan, semacam odong-odong atau sarpras wisata lainnya.
Salah satu hal yang sangat saya nikmati di Wakatobi, semua tempat wisata seolah milik pribadi. Nggak banyak orang lalu lalang atau berkeliaran. Kita bisa bebas ambil foto dari berbagai sisi sepuas-puasnya. Nggak ada yang beributan antri spot foto. Nggak ada teriakan tawaran makanan minuman ataupun jasa lainnya. Jalan sambil mikir bisa-lah, nggak bakalan nabrak atau ketabrak orang. Paling-paling kejeduk tiang kalau jalan sambil meleng, hihihi😁😂 Bener-bener menikmati tempat wisata dengan gaya slow motion banget.

Areal tanah rerumputan dan mesjid. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Di bagian ujung ada mesjid. Cukup besar dan hidup. Pas saya nengok bagian belakang, tempat wudu bersih, air mengalir lancar terjaga dan sangat jernih. Mesjid modern, lha kotak infaknya aja wes ada barcode QRIS nya. Ngisi kotak infak bisa pake uang tunai atau setoran QRIS. Jadi nggak ada alasan nggak ngisi kotak amal gegara nggak bawa uang tunai.
Dan seperti kebiasaan saya, ketemu mesjid atau mushola di manapun, pasti saya mampir sholat. Bahkan kalau itu waktunya lepas Ashar saat wes gak boleh ada sholat sunnah setelah Ashar, saya tetap akan mampir meskipun hanya sholat tahiyatul masjid. Sholat menghormati masjid.
Kebiasaan ini didorong pemahaman sederhana agar kelak di hari akhir lebih banyak bumi yang bersaksi saya pernah sujud (sholat) di tempat yang jauh-jauh, yang mungkin nggak bisa saya ingat lagi. Kadang-kadang pula kalau cukup waktu, saya suka ribet sendiri cari masjid agung kota tersebut ada di mana. Terutama kalau saya merasa di kota itu belum sholat di salah satu mesjid.

Gerbang masuk benteng Liya Togo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Hadeuh saya teringat, karena berhari-hari sholat di hotel pas seminar di Manado, saya ngajak Pak Ode cari mesjid agung. Gegara Mbak Ety dan Pak Budi bilang kalau dari hotel tempat kami seminar (juga menginap) mesjidnya deket banget; kami pun jalan kaki. Ya ampun ternyata mesjidnya jauuuh, pakai lasak lusuk nanya-nanya pula, karena nggak setiap orang tahu di mana letak mesjid agung. Ya begitulah kalau kita di negeri muslim minoritas 😁😆
Pas sampai mesjid, harus melipir untuk sholat karena mesjidnya sedang dipakai acara akad nikah pula. Balik pun kami kudu jalan kaki kepanasan karena pesan mobil online, nggak datang-datang gegara terlalu dekat. Kalau pake mobil deket banget, kalau jalan kaki yo lumayan pegel kemeng betisnya😆😅
Dua kakak saya ngekek saja pas saya cerita soal ini. Karena dibilang dekat itu, nggak minta mereka antar ke mesjid pakai mobil. Beuuuh, ternyata jauuuh…. Gegara nyari mesjid agung pula, saya pernah kesasar-sasar waktu di Vietnam.

Sisi jalan benteng Liya Togo yang menuju ke luar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sudah tahu di negeri komunis, kok ya cari mesjid. Hihi…. lha itu gegara di map ada mesjid besar di sekitaran pemukiman Sungai Mekhong. Di Vietnam ada aplikasi goviet–punya gojek Indonesia, isinya yo sama seperti aplikasi kita mung tulisannya mlungker-mlungker huruf Vietkong bahasa Vietnam. Kalau pergi-pergi saya mengidentifikasi tempat dari peta yang ada gambar dan tulisan latinnya berbahasa Inggris. Nggak kepikiran kalau Sungai Mekhong itu panjang dan luas, kudu memastikan daerah pemukiman mana yang ada mesjidnya. Toh saya selamet juga. Sampai ke mesjidnya, sholat, makan, njur balik hotel. 😆😅
Nah, balik lagi ke deswita Liya Togo. Di sisi kanan dan kiri mesjid areal perumahan penduduk. Lalu di kiri mesjid itu ada areal benteng. Di dekat pintu masuk benteng, ada makam juga; tapi makam ini tidak bersambung dengan makam yang ada di dekat rumah panggung. Sepertinya makam ini untuk warga biasa, bukan untuk bangsawan atau tokoh penyebaran agama Islam.
Dari gerbang masuk benteng (sudah nggak dibuka untuk umum), pengunjung akan diarahkan untuk menuju jalan panjang (yang sudah baik sekali) sampai pintu luar di dekat parkiran lagi. Sepanjang jalan tersebut kiri kanannya banyak pohon besar, batu-batu besar. Cukup teduh, meskipun ya panasnya udara pesisir tetap terasa.


Buah lokal yang saya juga lupa namanya. Buah ini bisa dimakan dan banyak ditemukan di sekitar jalan benteng Liya Togo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Mo foto-foto sakbosennya nggak ada yang melarang di sini. Mo duduk-duduk lama yo boleh. Mo ikut makan buah-buahan yang jauh di tempat itu yo bisa. Lumayanlah jaraknya, tapi nggak terasa bikin capek di kaki saya. Berarti cukup pendek meterannya 😂 Di sekitaran situ juga ada pohon kemiri, pohon jeruk, jambu monyet, dll.
Pas kami mau balik, ada rombongan ibu-ibu yang datang. Di parkiran juga sudah terlihat beberapa mobil dinas plat merah. Oh, berarti deswita ini sekurangnya masih “diurus” dan “dikunjungi”. Kalau nggak kan, berarti kami doang yang datang hari itu. Eman-eman, padahal sarpras bagus dan memadai banget.
Promosinya mungkin kurang atau ya orang lokal nggak banyak berkunjung. Saya aja kalau di Jogja yo belum tentu inguk-inguk deswita di Jogja. Jadi nggak usahlah saya ngomentarin orang lokal yang nggak datang ke tempat wisata daerahnya 😂😁
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari
