Surga di Wakatobi (8): Pantai Cantik di Mana-mana

Pantai Cemara. Ciri khasnya ada banyak pohon cemara. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di Pulau Wangi-wangi, setiap hembusan angin membawa aroma laut yang pekat. Udara terasa berbeda: bersih, asin, dan sejuk sekaligus. Pulau ini juga disebut gerbang menuju Wakatobi, surga bawah laut di Indonesia.

Jujurly, saya nggak bisa mengingat detail seluruh pantai yang sudah saya kunjungi di pulau itu. Sepertinya dari satu pantai ke pantai lain itu hanya bersambungan dan berjarak pendek, tapi semuanya indah dan cantik. Saya berusaha mencatat beberapa pantai sesuai ingatan. Kalau ada salah sebut, ya mohon dimaklumi. Terlebih untuk nama-nama pantai yang terdengar asing di telinga saya 😁

Pertama, Pantai Cemara. Jalan menuju ke sana dihiasi rumah-rumah kayu dan pohon kelapa yang bergerak lembut. Sesampainya di pantai, hamparan pasir putih menyambut seperti lembaran kain sutra. Deretan pohon cemara laut menciptakan bayangan yang menenangkan.

Pantai Untu Waode. Areal ini banyak pohon kelapa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ada beberapa gazebo untuk duduk-duduk, menikmati semilir angin dan suara ombak kecil yang datang berirama. Rasanya, semua lelah perjalanan hilang begitu saja. Sayangnya, sarpras di tempat ini wes nggak terurus. Pantai ini pun sunyi sepi seperti nggak pernah dikunjungi orang.

Kedua, Pantai Untu Waode. Pantai ini letaknya nggak jauh dari Pantai Cemara. Ciri khas yang saya ingat, pohon kelapa sangat banyak di sini. Seperti areal perkebunan kelapa yang luas. Pasir putih nya juga menghampar luas. Di seberang ada pulau di tengah laut yang nggak berpenghuni. Seperti juga Pantai Cemara, pantai ini sunyi seolah sudah bertahun-tahun nggak ditengok orang. Gazebo-gazebonya wes “reyot” sewaktu-waktu bisa ambruk, roboh.

Ketiga, Pantai Waha. Ini salah satu spot diving. Konon jadi spot favorit para penyelam. Saya nggak ingat pasti, ke sini atau enggak. Karena melintasi Desa Waha, mestinya saya yo mampir ke pantai ini.

Pantai Wambuliga. Di sini ada basecamp layanan snorkeling dan diving. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya hanya ingat kepala desa sempat mengatakan di pantai ini air laut sebening kristal; karang-karang masih alami dan berwarna cerah. “Kalau beruntung, bisa lihat kuda laut.” Oh, itu saat saya datang awal sekali di Wambuliga, cari info tentang snorkeling.

Keempat, Pantai Wambuliga. Pantai ini masih alami dan jarang tersentuh wisata massal. Pantai ini dikenal karena suasananya yang tenang serta keindahan alam yang masih murni. Pantai Wambuliga memiliki hamparan pasir putih yang lembut dan air laut yang jernih bergradasi dari biru muda hingga biru tua. Di beberapa bagian, terlihat karang-karang kecil yang muncul saat air laut surut. Pemandangan lautnya sangat memanjakan mata.

Suasana di Pantai Wambuliga relatif sepi dan damai. Angin laut bertiup lembut membawa aroma asin khas pantai, ditemani suara deburan ombak yang menenangkan. Di pinggiran pantai, tumbuh deretan pohon kelapa dan beberapa semak hijau yang memberikan kesan tropis alami. Penduduk setempat sering memanfaatkan area sekitar pantai untuk mencari ikan atau rumput laut.

Model pantai-pantai di Wakatobi mirip-mirip. Pasir putih menghampar. Air laut sebening kristal, mulai dari warna jernih, putih, hijau muda, tosca, biru muda, biru gelap, sampai kehitaman (nun jauh di sana) yang menandakan lautan semakin dalam dan air semakin dingin. Kiri kanannya pun terasa setipe. Pohon kelapa tinggi menjulang di sepanjang tepian pantai dengan model yang terasa “seragam”.

Pantai Marina. Di sini ada Maritime Center. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kelima, Pantai Sombu; ikon diving Pulau Wangi-wangi. Dari dermaga kayunya kita bisa melihat orang-orang yang bersiap snorkeling atau diving. Pemandangan di bawah laut ini konon seperti taman surgawi. Terumbu karang membentuk labirin warna-warni, ikan-ikan melintas di antara sinar matahari yang menembus air. Dunia bawah laut Sombu sering dilukiskan sebagai kehidupan yang tenang, indah, damai, dan nyaris sempurna.

Keenam, Pantai Patuno; kawasan resor yang menawarkan pemandangan tropis nan lembut. Pasirnya putih lembut seperti gula, air lautnya hijau kebiruan. Di kejauhan, perahu nelayan berlayar pelan. Laut luas di depan mata. Begitu tiba di Pantai Patuno, kita akan langsung disambut oleh hamparan pasir putih yang halus dan memanjang sejauh mata memandang. Air lautnya jernih kebiruan, dengan gradasi warna yang memikat, mulai dari tosca di tepi pantai hingga biru tua di bagian dalam.

Suasananya tenang dan bersih, dikelilingi oleh pepohonan kelapa dan vegetasi hijau tropis yang menambah kesan damai. Angin laut yang lembut membuat siapa pun betah berlama-lama di sini; entah hanya berjalan di tepi pantai, duduk menikmati ombak, atau sekadar mendengarkan desir angin di antara daun kelapa.

Ketujuh, Pantai Marina. Lokasi untuk acara Wakatobi WAVE kemarin. Pantai Marina terkenal dengan pasir putihnya yang halus seperti tepung dan air lautnya yang jernih kebiruan hingga kehijauan. Dari kejauhan, gradasi warna laut tampak seperti lukisan alami; biru muda di tepi pantai, lalu perlahan berubah menjadi biru tua di bagian yang lebih dalam. Suara ombaknya lembut, berpadu dengan semilir angin laut yang menenangkan.

Pantai Liya Mawi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kedelapan, Pantai Liya Mawi. Ini ada kantor desanya di tengah laut. Pantai Liya Mawi menawarkan hamparan pasir putih bersih dengan butiran lembut di bawah kaki. Air lautnya bergradasi dari biru tosca ke biru tua, jernih hingga dasar laut terlihat jelas dari permukaan. Di sini juga bisa melihat gerombolan ikan-ikan kecil di tepian dengan sangat jelas. Beberapa ekor ikan besar kadang terlihat terperangkap di tepian di batu-batuan pantai.

Garis pantainya panjang dan tenang, dikelilingi karang alami dan pepohonan kelapa yang menambah kesan tropis dan damai. Pantai ini masih tergolong sepi dan alami, sehingga cocok bagi wisatawan yang mencari suasana sunyi untuk menenangkan diri atau menikmati keindahan alam tanpa gangguan keramaian.

Kesembilan, Pantai Liya Bahari. Pantai ini dikenal luas karena menjadi pusat budidaya rumput laut. Saat melewati kawasan ini, kita akan melihat ratusan tali-tali rumput laut yang membentang di atas permukaan air, terikat rapi pada pelampung-pelampung kecil.

Rumput laut yang dijemur di tepi Pantai Liya Bahari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pantai Liya Bahari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Warga Liya Bahari sudah turun-temurun membudidayakan rumput laut berwarna merah. Saya cek-cek ini jenis spesies Eucheuma cottonii (cmiiw). Rumput laut ini dijemur sampai kering di pinggir pantai dan dijual sebagai bahan baku kosmetik, makanan, hingga obat-obatan.

Pemandangan saat para petani memanen dan menjemur rumput laut di bawah terik matahari menjadi daya tarik tersendiri. Warnanya yang kontras dengan birunya laut; menghadirkan nuansa pesisir yang asli dan fotogenik.

Melihat pantai dan laut-laut Wakatobi itu, ada banyak rasa syukur saya. Kalaupun jauh banget dari Jogja, hampir seluruh pulau ini diwarnai keindahan. Pulau Wangi-wangi seperti lukisan alam yang hidup. Tempat daratan, lautan dan langit bertemu dalam keheningan yang menenangkan.

Setiap pantainya punya karakter tersendiri: ada yang teduh, ada yang unik, ada yang memanjakan mata dan jiwa. Jika ada surga yang bisa dijangkau dengan kapal kecil dengan wajah-wajah senyum penduduk lokal, mungkin Wangi-wangi adalah jawabannya.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *