
Manado, years ago, dengan ketiga kakak saya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Pak Ode setipe dua kakak saya lainnya, Pak Budi, dan Bu Mariam (Mbak Ety). Tiga orang dari Sulawesi, berbeda etnis, beda agama, punya keluarga masing-masing, tapi semuanya sangat baik pada saya.
Kalau saya sudah mulai nggak mau makan, pertanyaan beruntun terus. Saya mau makan apa, pingin apa, atau kenapa, sakit atau apa. Karena mereka tahunya saya doyan makan dan gampang lapar. Padahal kalau wes kenyang atau nggak mood makan, saya yo nggak mau makan.
Malem itu juga, karena saya di pameran UMKM hanya makan jajanan (porsi berat) dan jus (yang kelewat banyak), njur pertanyaan Pak Ode banyak beut sambil nyeberang ke Pasar Pelangi di seberang Marina Togo. Kalau malez jawab ya saya diem aja. Perut saya memang wes penuh banget gegara jajanan dan jus itu. Sudah nggak ada keinginan makan lagi.

Sisi depan Pasar Pelangi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
“Ari, kamu belum makan nasi seharian.”
“Ada roti.” Iya, di perjalanan biasanya saya juga sedia roti basah yang cukup tahan lama untuk kondisi darurat, kadang ya sampe kebawa pulang lagi.
Saya mengekori saja Pak Ode yang terus masuk ke pasar di seberang jalan. Hampir semua pedagang disapanya. Sepertinya di pulau ini semua orang kenal sama dia. Saya nggak paham kalau mereka ngomong bahasa lokal, tapi tentu nada sapaan hangat akrab itu terasa di telinga saya.
Saya memahaminya. Saya lupa kapan, kayaknya Pak Ode pernah cerita kalau masa kecil, masa sekolahnya sering telat karena dia harus jaga toko, ngurusin dagangan, harus ambil barang di pasar atau nungguin barang yang datang ke toko. Saudara-saudaranya juga banyak yang pedagang. Pasar tentu jadi sesuatu yang dekat dengan kesehariannya.

Ikan pun ada dijual di Pasar Pelangi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Setiap kali Pak Ode bilang apa saja malam itu, sebenarnya saya wes nggak terlalu mudeng. Otak saya wes cenderung “tidur” daripada memikirkan hal lain. Toh saya masih cukup melek untuk melihat dan memperhatikan bahwa areal pasar ini cukup besar dan luas. Isi barang dagangan pun kayaknya cukup lengkap. Mulai dari sayur mayur, bumbu bumbu dapur, hingga buah-buahan. Ada pula aneka jajanan dan masakan tradisional, aneka jualan minuman dan es.
Bolak-balik saya ditanyain mau apa saat melewati aneka makanan dan masakan tradisional. Sampai bosen juga saya jawab nggak mau. Westalah saat itu saya mungkin jadi orang yang nyebelin karena ditawarin makan minum apa-apa nggak mau. Sory ya, Pak Ode 😁
Ada aneka ikan segar di sudut yang agak ke dalam. Di sisi lainnya ada banyak pula yang jual ikan kering dengan aneka bumbu masakan kemasan. Ada pula yang jual perabot dapur dan rumah tangga yang ringan.

Kios kawan Pak Ode, dagangannya cukup beragam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Oh di dalam pasar kami sempat berhenti lama di salah satu kios. Karena ini yang jualan suami istri, kawannya Pak Ode. Saya lupa namanya. Mendengar meriahnya dialog, saya cukup tahu kalau mereka dekat. Ada banyak yang begitu, termasuk di pasar awal yang sekarang sudah sepi itu. Ada banyak orang yang dikenali baik oleh Pak Ode.
Pedagang di sini sangat heterogen. Ada laki-laki dan perempuan. Ada yang masih remaja, ibu-ibu, bapak-bapak sampai simbok-simbok tetua yang cukup umur. Transaksi rerata dengan uang tunai. Pedagang juga sama seperti di pasar-pasar tradisional lainnya, ramai menawarkan dagangan saat melihat orang lewat.
Di situ juga begitu. Reramai orang menawarkan dagangan, dengan bahasa lokal mereka. Saya mung senyum-senyum bae. Nggak paham apa yang mereka sampaikan. Pasti menarik kalau ada yang mengkaji bahasa pasar mereka sebagai literatur linguistik. Saya? Haish, nggak kepikiran. Biar orang-orang lokal saja yang menelitinya. 😁😂

Sayuran dan bahan obat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya nggak tahu Pak Ode beli apa saja, pokoknya seingetnya saya dibawain jajanan untuk jaga-jaga kalau saya laper tengah malam. Kebiasaan buruk yang nggak saya senangi, tapi kadang-kadang yo begitu. Biasanya kalau nggak disiapkan itu malah lapar, tapi kalau wes siap-siap malah tidur tanpa terjaga sampai pagi.
Yang jelas hari itu energi saya memang cukup terkuras. Mata saya masih melek tapi mung segaris saja. Dari pagi-pagi turun ke laut, ciblon di sumber mata air, ke Wakatobi WAVE dari siang sampai malam, hingga muterin pasar tradisional di malam hari. Perjalanan yang terasa panjang dan melelahkan, tapi sungguh menyenangkan. Hal-hal baru yang mungkin nggak akan saya dapatkan di tempat lain.
Bersambung.
Ari Kinoysan Wulandari
