Surga di Wakatobi (3): Kalau Snorkeling Nggak Mengikuti Ritualnya

Sisi depan tempat masuk areal Sombu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah. Saya jenis orang yang gampang makan, gampang tidur, gampang ketawa, gampang happy dengan hal-hal kecil, gampang pula bekerja. Di berbagai tempat dalam beragam situasi yang nggak biasa.

Saya juga lumayan gampang beradaptasi dengan berbagai sikon yang nggak menentu. Wakatobi beneran “asing” buat saya. Orang-orangnya. Bahasanya. Makanannya. Model-model rumahnya. Lingkungannya. Cuacanya yang panas ekstrem.

Toh mengingat “belum tentu saya ke sini lagi”, saya berusaha mengenali semuanya baik-baik. Menikmati makanan lokal sebisa saya. Berbincang dengan sekitaran semampu saya. Mengingat detail lingkungan setelitinya. Semua terasa ringan dan happy saja.

Usai makan malam dan wes balik hotel, saya merampungkan beberapa artikel populer yang deadline. Setelah itu saya tidur. Sebentar saja saya sudah lelap. Sempat terbangun dini hari sebentar, dan sudah pules lagi sampai Shubuh.

Ujung jembatan sebelum turun ke laut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pagi hari saya sarapan dengan gembira. Mau nyebur laut. Itu aja yang ada di ingatan saya. Gambaran yang menyenangkan hati. Apalagi wes “tahu” dari referensi betapa cantiknya bawah laut Wakatobi.

Sampai lokasi pusat diving Wambuliga, saya mengambil pelampung, alat snorkeling, kaki katak, sama nungguin guide dan fotografer. Begitu semua wes siap, kami motoran menuju spot diving di Sombu. Saya nyaris lupa; ganti baju renang tuh di sini atau di seberang ya? Kayaknya ganti di basecamp diving itu deh. Pokoknya bebaslah kalau soal ganti baju, ada banyak tempat.

Pak Ode ngingetin agar perhiasan (emas) yang saya pakai dilepas. Cuman karena biasanya mo turun bawah laut ya gitu-gitu aja (maksudnya nggak pernah copot pasang perhiasan), saya nggak mau. Ribetlah copot pasang gitu dan saya yakin cukup aman, atau perhiasan itu nggak akan terlepas kalaupun saya berada di bawah air.

Suasana di Sombu masih sepi saat kami datang. Pemandangan laut begitu cantik. Air jernih berkilauan ditimpa mentari pagi seperti perak terhampar di lautan luas. Riak-riak air kecil bergulung lembut ringan di mata. Bikin hati tuh langsung adem, ayem, tentrem, berasa hilang deh semua beban hidup… hihi… Kalau kamu keluar dari laut Sombu dan beban hidupmu yo balik lagi, itu jelas salah dan dosamu sendiri… qkqk…

Sisi lain jembatan tepian Sombu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Lagi-lagi Pak Ode ngingetin saya untuk melepas perhiasan. Saya ya tetep ngeyel bilang nggak apa-apa dan nggak mencopot perhiasan. Saat kaki saya menyentuh air laut, terasa hangat. Saya wes berasa senang.

Yang nggak saya pikirkan terjadi. Begitu masuk laut sebentar saja, saya langsung glagep glagep terminum air laut dan sesak. Alat napas saya lepas-lepas terus. Kemudian pelampung berasa naik-naik sampai kepala nggak pas di badan dan punggung saya. Kaki kataknya juga kurang nyaman di kaki saya.

Menyerah? Belum. Kaki katak saya lepaskan, nggak saya pakai. Seingat saya, di beberapa tempat, saya nyebur dengan kaki telanjang; ada yang pakai sepatu kecil tapi ekornya nggak sepanjang itu. Saya mencoba lagi turun, dan ya ampuuun habislah nafas saya gegara alatnya lepas-lepas melulu. Hadeuh.

Saya masih berusaha nggak panik. Nggak pakai alat nafas cukup bisa 5-10 detik lihat bawah laut dan naik lagi. Jadinya yang saya lihat yo mung ikan-ikan bergerombol biru hijau di sekitar laut tepian.

Pagi nggak terlalu ramai di Sombu. Hanya kami dan orang-orang di belakang itu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ampuun tenan…. Apa yang salah ya? Saya bukan orang yang gampang nyerah. Dan ini bukan hal baru buat saya, nyebur udah berapa kali ke laut? Kok ini malah pas air lautnya jenis hangat dan bersahabat gini nggak bisa turun. Kesian kan guide sama fotografer nya, jadi nggak kerja. Padahal keduanya ya mung mengawal saya doang. Sabar banget pula mereka.

Ingatan saya ke kepala desa yang kemarin mrmberi ulasan tentang bawah laut Wakatobi. Kayaknya saya sudah berdoa, “permisi”, dan nggak do something bad deh… pikir saya. Jadi pasti bukan karena itu. Saya juga nggak menangkap energi “buruk” di sekitaran areal tersebut.

Tiba-tiba guide saya nanya, kapan terakhir saya nyebur laut… Bhadalaaah…. Ya Gusti Allah, baru sadar… saya terakhir nyebur laut wes 2 tahun yang lalu di Karimun Jawa. Setelah itu nggak pernah turun laut lagi.

Tahun ini saya blas belum nyebur laut. Di Pantai Kasap (Pacitan) enggak turun, di Pantai Bama (Banyuwangi) yo mager, di Lovina (Bali) mung duduk-duduk di perahu liat si lumba-lumba. Haish, pantes air laut jadi berasa “asing” lagi buat saya yang bukan anak laut ini.

Habis ciblon, naik saja daripada terminum air laut melulu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Guide saya mengatakan ngggak apa-apa. Perlu beradaptasi lagi dan menyarankan agar saya lebih sering turun bawah laut biar terbiasa (yang jelas pasti nggak akan saya turuti). Di Jawa, turun ke laut itu butuh effort tersendiri. Saya langsung memaklumi diri, tapi masih pingin nyebur laut lagi. Dan jelas tetep nyebur lagi saya, biyuuu…. malah terminum air laut lagi lebih banyak.

Astaga, dari banyak kali nyebur laut-laut, ini beneran pengalaman saya paling payah di tempat yang (mestinya) paling indah di Nusantara. Keseeel beuuut saya… tapi memaksa turun lagi, wes pasti cuman beberapa detik gitu… dan akhirnya merasa sesak gegara terminum air laut.

Pas ngelihat alat nafas snorkeling itulah saya menyadari “kebodohan spontan” yang terlewat sebelumnya. Pas di basecamp diving, saya nggak nyobain alat nafas. Alat yang saya pake ukurannya terlalu besar untuk mulut saya, makanya lepas-lepas terus. Di basecamp juga nggak memasang pelampung dengan benar, sehingga nggak sadar kalau ukuran terlalu kecil. Kaki katak juga nggak pas betul, sehingga terasa nggak nyaman di kaki saya.

Menyadari itu semua, saya memutuskan segera naik saja. Sudah cukup lama ciblon di laut. Dan orang-orang juga sudah mulai rame berdatangan. Jujurly saat itu saya agak malas berinteraksi sapa-sapa sekedar senyum dan say hello pada orang yang bersinggungan di lokasi. Mudah-mudahan ada lain waktu untuk datang lagi.

Di belakang saya itu basecampnya diving Wambuliga. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Apa saya menyesal dengan kegagalan ngeliat bawah laut Wakatobi? Tentu aja enggak. I do my best untuk urusan ini. Nggak bisa lihat bawah laut karena faktor X yang sudah saya identifikasi di atas, ya itu murni keteledoran saya. Kudune cek-cek semuanya dengan teliti dan memastikan semua alat nyaman saya gunakan.

Kemudian saya sadari juga, ada ritual yang (lupa) nggak saya patuhi. Biasanya sebelum snorkeling itu, saya nggak akan makan apapun (lhah itu pagi saya malah sarapan kenyang-kenyang 😂😁). Pantas saja nafas saya seperti ilang-ilangan; energinya habis untuk mencerna dan mengolah sarapan itu. Ya ampun….

Terus yang kedua, sebelum snorkeling tuh biasanya 15-30 menit saya jalan atau lari. Lalu istirahat sejenak, baru nyebur. Lari atau jalan itu fungsinya “mengaktifkan” seluruh tubuh saya, sehingga gerak dan nafas di dalam air jadi lebih mudah. Pas itu saya nggak jalan atau lari, nggak pemanasan pula… lha yo pantes. Weslah gpp, saya tetap senang ciblon di laut luas.

Pohon kelapa tumbuh rendah mengarah ke laut di Wambuliga. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Toh saya keseeel beut pas Pak Ode bilang kalau saya nggak bisa turun itu karena saya pakai perhiasan emas. Mitosnya memang nggak boleh pakai emas kalau mau turun bawah laut Wakatobi. Begitu saya pakai emas di laut, njur seperti terhalang untuk turun menikmati pemandangan bawah laut. Mungkin penguasa bawah lautnya nggak mau kesaingan kalau ada yang pakai emas 😁

“Lha Pak Ode kok nggak bilang?”

“Kan sudah saya ingetin, itu (perhiasan) nggak dilepas? Saya bilang berapa kali tadi?”

“Dua kali,” jawab saya masih keseel. Lha saya kan mikirnya disuruh lepas perhiasan karena dikhawatirkan perhiasan jatuh, lepas, atau hilang di laut. Kalau itu siy aman aja; karena perhiasan saya nempel pas seukurannya jadi sulit lepas kalau nggak sengaja dilepas. Kalau dibilang mitosnya gitu kan pasti saya lepasin. Haizh…

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *