Surga di Wakatobi (2): Wah, Ikaaan…!

Menurunkan sepeda motor dari kapal. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tiba di Pelabuhan Wakatobi sudah terang. Saya agak lama di sini mengambil foto-foto, melihat orang-orang turun dari kapal, barang-barang besar diturunkan dari kapal (termasuk sepeda motor). Lalu lalang hilir mudik orang-orang. Riuhnya tawaran jasa ojek dan mobil. Rerame keluarga menjemput mereka yang baru datang.

Buruh buruh panggul yang menggotong barang sampai gerobak dorong yang membawa banyak muatan kebutuhan rumah tangga. Semua menjadi warna khas pelabuhan Wakatobi saat kapal sandar. Warna aktivitas yang baru sekali ini saya lihat di negeri yang jauh dari tanah kelahiran.

Saya cukup takjub melihat air laut yang jernih di tepian dermaga dengan ikan-ikan bergerombol sangat banyak. Ya ampun, disiruk aja kena semua itu. Saya pikir, hanya akan melihat yang begini di laut-laut dan sungai-sungai di Papua, oh di Wakatobi pun begitu. Berasa menyesal kok nggak lebih awal datang ke tempat ini.

Setelah cukup puas, baru kami pergi dengan mobil. Buat teman-teman yang mau ke sini, tawar saja kalau harus pake ojek atau mobil. Namanya juga di areal umum, suka-suka mereka nawarin harga. Jadi kita yang harus memastikan dari awal.

Tempat jual pisang goreng dan ubi goreng di pasar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tujuan kami ke rumah Pak Ode. Hotel tempat saya menginap, check in nya sekitar jam 12. Jadi masih siang nanti. Nggak lama wes tiba di tujuan. Sebentar banget karena mung 3 km-an. Bisa siy jalan kaki, tapi dengan barang bawaan jelas saya emoh ribet 😁🙈

Rumah itu modelnya memanjang ke belakang dengan banyak ruang atau kamar. Ciri khas rumah untuk keluarga besar banyak saudara. Ibu Pak Ode sudah sepuh. Saya pun nggak mudeng apa yang dibicarakan dalam bahasa lokal. Saya bisa menangkap nada sapaan ramahnya.

Pak Ode juga tipe anak laki-laki yang berbakti pada ibunya. Pulang bawain oleh-oleh, baju, kasih uang. Kalau ada istilah sejenis menarik sejenis, saya dan teman-teman dekat, semuanya juga berperilaku sangat baik pada ibu bapak kami. Semoga tetap seperti itu sepanjang hayat kami. Amin.

Jalanan di tengah pasar yang lengang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pagi itu ada juga kakak dan keponakannya, tapi nggak tinggal di situ. Datang menengok ibu dan neneknya, njur pulang. Rumah mereka berdekatan. Lebih kurang begitu yang saya ingat. Lalu saya mengikuti Pak Ode jalan untuk ambil motor. Tempatnya di rumah kakaknya yang lain.

Jalanan di Wakatobi cenderung lengang, meskipun kiri kanan padat dengan rumah-rumah penduduk. Cukup bersih dan teratur. Oh yang paling saya ingat, udara segar dengan aroma laut dan langit yang sebagian begitu biru.

Usai ambil motor, kami ke pasar. Makan pisang goreng, dan ubi goreng. Dan yang jualan itu (kakak) atau (adiknya) Pak Ode yang lain. Ya ampun, saya agak sulit mengingat mereka karena face atau wajahnya mirip-mirip.🙏

Jalanan lengang di Wakatobi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oh iya, pasar ini konon pasar awal di daerah tersebut. Setelah ada pasar-pasar baru, banyak los, kios-kios, ruko-ruko yang kosong melompong di pasar ini. Pedagang pun hanya sedikit. Areal jalanan pasar kalau siang sore jadi ajang anak-anak main bola atau lelarian. Mungkin pemerintah dan pihak terkait perlu merevitalisasi lagi pasar ini biar lebih banyak manfaatnya (kembali) untuk masyarakat.

Di areal pasar itu juga ada tempat jualan ikan segar. Wah ikaaan…. Senang lihat ikan besar kecil, beragam jenis, bermacam warna. Rame orang beli ikan di tempat ini. Rerata kalau beli sekaligus dibersihkan. Nggak ada ukuran kiloan di sini, tapi sekelompok-sekelompok ikan dengan harga tertentu; mulai dari 20, 50, 100, 200 rb dst.

Di seberang tempat jualan ikan itu (entah sisi mana arahnya) langsung laut. Ada banyak perahu tertambat di sekitar. Pas saya tengok, laah ikan-ikan pun bergerombol di tepian. Ya ampun banyak betul ikan di sini.

Sebagian ikan-ikan yang dijual di pasar ikan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah Pak Ode membeli ikan dan menitipkan pada kakaknya untuk dimasak, kami pergi. Sebentar, saya agak lupa ke mana pergi setelah itu. Oh, kami ke pusat diving di Wambuliga. Karena pas ditanya mo snorkeling atau diving, saya jawabnya iya banget. Kalau soal pede, saya kelewat ndableg. Pokokmen kalau kayaknya bisa, iya aja dulu… ntar gimana ya dipikir nanti 😁😂

Di Wambuliga nanya jadwal, sewa alat dll. Ya karena di Wakatobi ada event besar WAFE 2025 itu dan kabar ramenya Bu Sherly (Sherly Laos, Gub Malut) mau datang untuk diving. Jadi hari Sabtu sampai Minggu semua jadwal dan spot diving wes full dipesan. Saya disarankan memilih besok pagi (Jumat) mumpung masih selow dan nggak banyak spot terpakai. Ya wes, besok janji saya ke mereka.

Di sini sewa alat snorkeling, plus guide dan dokumentasi 600rb untuk full payment. Tapi pas promosi, saya kena charge 250rb bae full fasilitas 😁😂 Kalau paket diving, berapa ya harganya? Saya lupa persisnya, sekitar 1,5 jt an. Saya jumpa dengan kepala desa yang menasihati saya kalau mau turun laut (snorkeling atau diving), saya harus jadi orang baik. Maksudnya saya nggak boleh ngomong dengan kosakata buruk, kalau lihat sesuatu di bawah laut yang “aneh-aneh” nggak boleh berkomentar, harus “permisi”, dan nggak boleh membuat keributan di laut.

Salah satu ikan yang versi saya “ajaib” di Wakatobi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya menyanggupi. Bagaimanapun buat mereka yang mata batinnya hidup terbuka, bawah laut memang bukan sekedar ikan-ikan, makhluk laut, terumbu karang ataupun air laut; tapi banyak juga “kerajaan-kerajaan bawah laut” yang tak kasat mata oleh pandangan biasa. Dan saya yang besar di Tanah Jawa dengan segala mitos atau legenda laut, wes paham betul nggak boleh macam-macam di tempat yang bukan “ambah-ambahan” atau bukan “daerah kekuasaan kita”.

Lama berbincang tentang laut di sini, kami pun melanjutkan jalan dan mider lagi. Ada beberapa pantai yang kami singgahi, tapi wes nggak keurus dan sepi dari pengunjung. Jadi saya lupa nama-namanya😂😁 Tapi tetep pantainya indah dan cantik-cantik, meskipun sarpras ke TKP kudu direhab total.

Kemudian kami mampir ke rumah Bu Tuti dan Pak Damrin. Singgah sejenak dan diundang datang lagi lain hari. Saya nggak merespon karena belum tahu bisa enggaknya. Setelah itu kami pergi ke pantai lagi dan balik pulang. Saya nggak inget sepanjang jalan, Pak Ode beli jajanan khas apa saja. Bentuknya lucu-lucu, namanya pun unik-unik; dan hampir nggak ada yang saya hafal. Sudah dikasih tahu, ingat sebentar, njur lupa 😂🙈

Pohon kelapa kembar di Wambuliga. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Karena sudah panas banget, kami memutuskan pulang. Beuh, gosong tenan saya di Tanah Laut itu. Sudah berhari-hari di Jawa pun kaki, tangan, muka gelap belang hitam saya belum ilang. Padahal yo wes dikasih sunscreen lho sebelumnya, tapi nggak mempan. 😂

Saya makan siang di rumah Pak Ode. Tentu dengan olahan ikan. Menyenangkan sekali makan ikan di sini. Ikan segar, jadi gurih dagingnya berasa. Setelah itu, baru saya masuk hotel. Namanya Wisma Maharani, yang punya namanya Ismail (bikin saya inget si Mail ponakan saya yang lucu beut). Langsunglah saya mandi puas-puas dan tidur puas-puas 😁

Panasnya ampun, AC 16 derajat gak berasa dingin. Bangun tidur saya kek orang habis lari, keringetan meskipun ruang pake AC. Saya mandi lagi. Kemudian beberes gaweyan. Baru keluar makan malam.

Kalau dibablaske dolan malam itu pasti ngopinya sampe pagi. Saya memilih pulang, tidur. Besok pagi mo nyebur laut. Butuh banyak energi.

Bersambung.
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *