Soul Meter (SM): antara Tinggal atau Balik

Saya di salah satu sisi areal Tanah Lot, Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Rencana awal saya, selepas ikut trip dengan Sering Travel (catatan trip bisa Teman-teman baca di Bali Lovina (1) sd (10) di blog saya ini); memisahkan diri dari rombongan dan menginap di sekitar bandara. Tujuannya untuk melanjutkan trip mandiri ke Desa Adat Pegringsingan, melihat tenun khas daerah tersebut dan mengamati dari dekat kehidupan masyarakatnya.

Saya pikir itu rencana yang mudah. Karena ke desa ini nggak perlu nyebrang laut atau pergi ke pulau lain. Jarak dari bandara juga hanya sekitar 75 km saja. Artinya dengan menyewa mobil seharian sudah memadai.

Saya bisa pergi pagi-pagi, perjalanan sekitar 2 jam, lalu selama 3-4 jam di lokasi, dan kembali lagi sekira 2 jam. Selanjutnya saya bisa langsung njujug bandara untuk balik Jogja. Saya memikirkan rencana sempurna itu karena sudah di Bali; menghemat waktu dan biaya kedatangan. Sekaligus saya bisa “menutup” catatan bahwa semua tempat wisata di Bali wes saya tengok.

Dan begitu merasa ini adalah gaweyan sendirian, saya langsung menghitung dengan Soul Meter (SM). Kalau sendirian saya harus bertanggung jawab penuh pada keselamatan dan keamanan pribadi. Nggak ada orang lain. Segala sesuatunya menjadi urusan saya.

Saya itung-itung, tentang tinggal atau balik; pada posisi balik angkanya besar –yang berarti menyuruh balik. Pada posisi tinggal, angkanya kecil berarti “sebaiknya” nggak tinggal. Saya ukur-ukur untuk pergi ke Desa Pegringsingan di tanggal 9 September hasilnya angka kecil.

Trip Sering Travel berakhir tanggal 6 September malam, kalau saya tinggal, dengan fisik lelah begitu butuh istirahat; berarti 7 September mageran aja, 8 September karena ada kelas-kelas online saya wajib mengisi; dan baru bisa aktivitas 9 September untuk rencana jalan panjang.

Hasilnya nggak terduga sama sekali, angka kecil bahkan nyaris mendekati 0. Hitung hitung lagi di tanggal yang berbeda sampai beberapa hari kemudian, hasilnya tetap kecil. Jujurly, saya sempat berpikir connecting saya nggak bener. Mungkin karena saya capek, kurang fokus, atau kemrungsung. Saya ulang beberapa kali, dan hasilnya tetep aja segitu gitu rendah aja nilainya.

Saya njur menyerah. Mengikuti saja hasil SM, karena yakin connecting, pertanyaan, hitung radiasi, dll yang saya lakukan wes benar. Jadi, dari pengalaman pribadi saya menggunakan SM bertahun-tahun, hasil itu sudah pasti valid. Meskipun ada tanda tanya besar di hati saya, kenapa kok nggak bisa ya? Kelihatannya semua kan baik-baik saja?

Saya juga sehat, waktu ada, duit untuk biaya alhamdulillah ada, jadi apa masalahnya? Saya nggak ada pikiran atau dugaan apapun, kenapa hasilnya tetap rendah atau nggak mengizinkan saya tinggal. Belum bisa ke Desa Adat Pegringsingan.

Akhirnya, sesuai hasil SM saya tetap balik ikut rombongan bus Sering Travel. Perjalanan panjang lewat darat yang lebih banyak saya isi dengan tidur. Sampai tiba di Jogja, standar bebersih, membagi oleh-oleh, njur tidur lagi. Dan kemudian sesuai jadwal aktivitas, saya wes mulai bekerja lagi.

Tahu-tahu ibu saya menelepon di tanggal 9 September, menanyakan posisi saya di mana, sudah balik dari Bali atau belum. Saudara saya juga memastikan saya sudah di Jogja atau belum. Innalillahi, ternyata Bali banjir besar di beberapa titik.

Saat itulah, secara sederhana saya pahami, bahwa beberapa titik itu pasti akan saya lewati kalau pergi ke Desa Adat Pegringsingan. Lha kalau banjir begitu, ya wes jelas gakbisa lewat. Subhanallah, ternyata ini jawabannya kenapa angka-angka hitung SM begitu rendah dan nyaris 0 untuk rencana saya itu.

Alhamdulillah, maturnuwun ya Allah menyelamatkan saya via hitung SM. Terimakasih Bunda Arsaningsih yang telah mengajarkan “berkat” luar biasa ini kepada banyak orang. Sungguh, semoga jadi amal kebaikan beliau yang nggak pernah putus sepanjang masa.

Teriring doa untuk Bali agar segera pulih dan normal kembali aktivitas harian dan pariwisatanya. Juga berharap pemerintah Bali dan (pemerintah) daerah-daerah lain di seluruh Indonesia untuk sungguh-sungguh mengurus sampah dan tata kelola kotanya. Karena begitu hal ini “abai” atau “lalai” bencana banjir siap datang mengancam nyawa dan kehidupan kapan saja.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *