
Salah satu adegan di Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Usai acara foto-foto dan mider-mider di Tanah Lot, acaranya bebas. Sebagian duduk-duduk, sebagian masih keliling, sebagian bersiap nonton pertunjukan Tari Kecak di areal Tanah Lot. Cuman ya, jalannya lumayan cuy dari bukit karang ke lokasi pertunjukan. Rada gemper sithik kakinya😁😜
Tari Kecak tentu sudah pernah saya tonton. Di Bali, ini jenis tari yang populer dan bisa dipentaskan di banyak tempat. Mung yo kuwi, saya nontonnya belum pernah seniat dan sekomplitnya seperti pas ikut Sering Travel. Mungkin karena di sini ruang penonton lebih lega, jadi lebih enak suasananya. Datang lebih awal juga bisa mengkavling tempat yang versi saya paling nyaman untuk nonton.

Adegan lain Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Oh ya, di sini tiketnya (kayaknya) paling murah dibandingkan tempat lain. Cukup 100 rb per gundul untuk nonton dari lebih kurang jam 18.30 s/d 19.30 WITA. Ini nggak ditanggung biro yes. Sampeyan nonton, ya bayar dhewe maning 😁🙏 Worth it bangetlah, dibanding sampeyan beli secangkir kopi dan seporsi kue di gerai branded. Sementara tiket Tari Kecak di Pantai Melasti 125 rb, di GWK (Garuda Wisnu Kencana) 150 rb, di Uluwatu 200 rb sd 400 rb, di Ubud lebih kurang 600 rb untuk 2 orang termasuk tiket masuk dan shuttle (cmiiw)🙏
Usai beli tiket, saya wes duduk manis di barisan paling depan. Baru sadar, air minum saya habis. Jadi saya keluar lagi untuk beli minuman. Terimakasih Bali, yang nggak ada mark up harga berlebihan untuk semua barang dagangan di tempat wisata. Saya beli air berion 600 ml cukup 10 rb, dari harga normal di tempat saya 8 rb an (nggak sebut merek, nggak sedang mengendorse atau iklan). Minuman-minuman lain sejak awal saya menjejak Bali, ya sekira 5-6 rb an dari harga normal sekitar 3-4 rb.

Tokoh Rama dan Sinta dalam Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya duduk barisan depan titik rendah, dan mulai konsentrasi nonton. Matahari senja perlahan tenggelam di ufuk barat. Langit memerah jingga. Riuh rendah terdengar ombak bergemuruh menghantam karang. Dan di saat yang sama terdengar suara “caaak-caaak-caaak” dari puluhan penari laki-laki bergema, membentuk harmoni yang mengguncang jiwa. Itulah momen ketika seni, alam, dan kepercayaan berpadu menjadi satu kesatuan magis.
Tari Kecak dikenal sebagai “tari sanghyang” atau tarian ritual yang awalnya digunakan untuk mengusir roh jahat. Namun dalam perkembangannya, tarian ini menjadi seni pertunjukan khas Bali yang menceritakan epos Ramayana; khususnya kisah Rama, Sinta, dan Hanoman melawan Rahwana.

Tokoh Lesmana dalam Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Nggak ada musik gamelan yang mengiringi, hanya suara koor para penari yang duduk melingkar, membentuk irama khas yang membuat bulu kuduk berdiri. Saat senja, penonton seakan terhanyut oleh suasana mistis: cahaya matahari yang meredup, suara ombak, dan gemuruh koor penari berpadu dalam satu harmoni alam dan budaya.
Bagi saya pribadi, menyaksikan Tari Kecak di Tanah Lot bukan sekadar hiburan, melainkan pengalaman spiritual dan budaya. Pertunjukan ini memperlihatkan cara masyarakat Bali menjaga tradisi leluhur sambil tetap membuka diri bagi dunia. Nggak heran, pertunjukan ini menjadi salah satu agenda wajib bagi mereka yang berkunjung ke Bali, terutama bagi pecinta budaya.

Tokoh Jatayu dalam Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Lbih dalam lagi, Tari Kecak di Tanah Lot bisa dipandang sebagai simbol filosofi Bali: Tri Hita Karana, keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Lingkaran para penari melambangkan persatuan, sementara lokasi di tepi laut dan pura menegaskan hubungan manusia dengan alam dan spiritualitas.
Saat cahaya obor menyala, suara “caaak-caaak-caaak” semakin cepat, dan kisah Ramayana mencapai klimaksnya, hati kita seakan terikat pada satu hal: Bali memang sebuah pulau yang hidup dalam tarian, doa mantra, dan keindahan.

Tokoh Hanoman dalam Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Seperti pakemnya cerita Sinta diculik Rahwana dan diselamatkan oleh (H)Anoman, cerita di Bali ini ada penambahan karakter dibandingkan dengan kisah sejenis di Jawa. Di sini Rahwana ada asistennya atau raksasa yang bantu-bantuin dia gitu. Jadi tokoh utamanya ada 6: Rama, Lesmana, Dewi Sinta, Rahwana, Asisten Rahwana, dan Anoman. Terus saat mau menculik Dewi Sinta, Rahwana berubah wujud jadi aki-aki suci (pendeta) yang lemah dan butuh bantuan.
Usai pertunjukan banyak yang minta foto-foto pada tokoh-tokohnya ini. Sementara puluhan penari latar, wes nggak kelihatan lagi. Padahal seru juga kalau foto sama mereka. Karena mereka ini lintas generasi. Saya lihat pemainnya mulai dari anak-anak, remaja, bapak-bapak, simbah-simbah, bahkan ada yang (saya pikir) cukup tua, tapi sangat energik saat menari.
Saya sangat senang bisa menyimak tari ini dengan lengkap dari awal sampai akhir tanpa gangguan. Tanpa keribetan terpotong konsentrasi. Mungkin di sini tempat nonton Tari Kecak yang paling saya rekomendasikan dibandingkan tempat lainnya di Bali.
Ari Kinoysan Wulandari
Bersambung
