
Kami di gerbang Desa Panglipuran. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Usai dari Bedugul, kami mampir dulu ke pusat oleh-oleh Djoger. Soal belanja saya tuliskan nanti saja bersamaan dengan dua tempat wisata belanja lainnya. Selanjutnya kami ke tempat yang paling saya tunggu lainnya: Desa Panglipuran.
Alhamdulillah, dua tempat yang belum pernah saya datangi akhirnya terwujud di hari itu. Pantai Lovina dan Desa Panglipuran. Sementara tinggal satu tempat yang belum saya tengok, Desa Adat Pegringsingan.
Begitu masuk di areal ini, saya wes antri di seberang gerbang itu untuk foto. Walah antriannya suwe tenan; karena ada rombongan dari Surabaya foto di situ satu per satu. Beuh, akhirnya saya mlipir usai foto-foto grup ya jalan.
Saya berempat dengan Mas Adi, Kak Bebe dan Mbak Maria memakai baju adat Bali. Di sini banyak pilihan banyak tempat. Kalau mau pake baju adat sebaiknya dari awal sehingga bisa dipakai dalam waktu yang lama untuk foto. Sewa baju 50 ribu per set, tapi nggak ada sandalnya, untuk perempuan nggak ada hiasan kepalanya. Di tempat itu ada perlengkapannya tapi kudu beli dan tentu nggak worth it untuk dipakai 30 menitan aja 😁 Toh dengan baju adat yang sebenarnya “seadanya” itu foto kami tetap keren-keren kok.

Mendadak Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Oh iya, nama baju adat untuk perempuan itu kebaya atau kamen dengan kain dan selendang; sementara untuk laki-laki disebut udeng dan kamen (baju dan sarung). Berfoto dengan latar gerbang rumah tradisional atau di jalan utama desa dengan balutan busana adat akan memberikan pengalaman yang nggak terlupakan. Yach sejenak saja “mendadak Bali” seolah benar-benar menyatu dengan suasana Bali tempo dulu. Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah atas kesempatan melihat menikmati tempat indah ini.❤️
Bali memang nggak pernah kehabisan cara untuk memikat hati. Desa Panglipuran ini merupakan sebuah desa adat di Kabupaten Bangli yang terkenal dengan keindahan, keteraturan, serta kearifan lokal yang masih terjaga. Saat memasuki desa ini, kita seolah-olah diajak melangkah mundur ke masa lalu, menyaksikan kehidupan Bali yang begitu dekat dengan harmoni dan tradisi leluhur.
Nama Panglipuran diyakini berasal dari kata “pangeling” dan “pura”, yang berarti “tempat untuk mengenang para leluhur.” Warga desa percaya, Panglipuran adalah wujud penghormatan terhadap nenek moyang mereka yang berasal dari daerah Bayung Gede. Hingga kini, masyarakat Panglipuran masih menjaga tata ruang desa berdasarkan filosofi Tri Hita Karana; keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Konsep kosmologi yang mengutamakan keseimbangan dan keselarasan. Kalau orang Jawa bilang “memayu hayuning bawana”.

Foto awal sebelum turun untuk jalan-jalan di lorong Panglipuran. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Konon, ada pula legenda yang menceritakan bahwa keteraturan rumah-rumah di Panglipuran adalah simbol kesatuan warga desa. Nggak ada tembok tinggi yang membatasi antar rumah, melainkan gerbang-gerbang serupa yang sejajar, menandakan kesetaraan dan persaudaraan.
Begitu memasuki area desa, kita akan disambut oleh jalan utama yang rapi dan bersih, diapit rumah-rumah tradisional dengan arsitektur khas Bali. Hampir setiap halaman rumah memiliki taman kecil yang asri. Biasanya kalau pas ada kegiatan atau ritual keagamaan rumah-rumah ini akan dilengkapi dengan penjor-penjor yang cantik (hiasan bambu khas upacara Bali) yang menjulang anggun. Nggak heran, kalau Panglipuran pernah mendapat penghargaan sebagai salah satu desa terbersih di dunia.
Selain berjalan-jalan menikmati suasana, di sini kita juga bisa mencicipi loloh cemcem, minuman herbal khas Desa Panglipuran yang segar dan menyehatkan. Namun buat mereka yang nggak biasa minum jamu, yo gakusah. Karena akan terasa aneh di lidah. Bahan dasarnya kunyit, temulawak, dan kedondong hutan. Yach mirip dengan kunyit asam tapi ini lebih pekat. Sekitar 2018-an saya pernah minum ini karena ada kawan yang bawain. Khasiatnya untuk kesegaran badan dan menghilangkan pegal-pegal atau capek. Kali ini saya nggak mampir ke warung untuk cari minuman itu, wong versi saya itu asam kedondongnya lebih dominan😁


Foto-foto di jalan utama Desa Panglipuran. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Selain jalan-jalan di lorong utama desa, sebenarnya kita bisa mengunjungi hutan bambu yang menjadi bagian nggak terpisahkan dari kehidupan warganya. Di sini, versi orang-orang lokal kita bisa menyaksikan atau bahkan ikut serta dalam aktivitas budaya jika kebetulan bertepatan dengan hari upacara adat. Saya pikir, kaki sudah terlalu pegel untuk jalan dari hulu ke hilir Panglipuran. Jalan dari gerbang sampai ujung.
Meskipun berasa capek, mengunjungi Desa Panglipuran bukan hanya soal melihat keindahan visual. Di sini kita diajak belajar menghargai filosofi hidup sederhana, kebersamaan, dan cinta lingkungan. Dari legenda asal usulnya hingga keramahan warganya, Panglipuran seakan memberi pesan bahwa keindahan sejati lahir dari harmoni antara manusia dan alam.
Jadi bukan hal aneh pula kalau kamu berkunjung di sini ketemu anjing dan kucing berkeliaran secara bebas. Tenang, mereka memang liar (nggak ada pemiliknya), tapi semuanya jinak dan nggak ada yang mengganggu wisatawan, kecuali mungkin kalau kamu jail melemparinya dengan batu… Nah, itu saya nggak tahu risikonya😄😅
Ari Kinoysan Wulandari
Bersambung
