
Setelah kegiatan-kegiatan Agustusan 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Hidup saya (nggak selalu) mudah. Banyak jatuh bangun kehidupan yang saya lewati hampir setengah abad ini. Beragam keribetan menghadapi kenyinyiran dan kejulidan orang karena keberadaan saya yang lajang nggak sekali dua kali saya hadapi. Kadang-kadang rasanya begitu nggak sabar, tapi beruntung saya sudah terbiasa cuek dengan hal-hal yang versi saya nggak menambah isi saldo saya.
Ketika saya baru mau studi S-2, semua tetua di keluarga besar mencela dan ribut kalau makin tinggi sekolah, makin sulit jodohnya. Saya lempeng saja, sekolah saya yang menjalani, biaya saya yang bayarin. Nggak ada hubungannya dengan mereka. Urusan jodoh, itu seperti urusan kematian. Nggak ada yang tahu kapan datangnya.
Lalu ketika saya mau studi S-3, cercaan keluarga besar lebih ekstrim. Ibu saya sampai mengatakan bahwa mereka keterlaluan, bukannya mendukung keponakannya (saya) terdidik, tapi malah menghalangi kemajuan. Saya menenangkan ibu saya agar nggak menanggapi dengan emosi mereka yang asal bicara. Studi saya lanjut terus sampai selesai, dan saya baik-baik saja dengan tentangan mereka. Lha wong mereka yo nggak nyumbang sepeserpun biaya studi saya kok.
Dari situ saya belajar, untuk maju kita harus punya tekad kuat. Sungguh nggak butuh validasi atau kesepakatan dari pihak lain yang nggak ada kontribusinya dalam hidup kita. Coba kalau saya mendengarkan omongan mereka saat itu, mungkin saya belum sekolah tinggi, jodoh pun belum datang.
Versi saya, hidup saya itu tanggung jawab dan urusan pribadi. Saya memilih sesuatu, berarti harus siap dan sadar atas konsekuensinya. Selama itu sanggup saya jalani, ya lakukan saja. Masih banyak putusan besar lainnya dalam hidup saya, yang dianggap nggak biasa oleh orang lain (terutama di keluarga besar), tapi ya tetap saya lakukan. Karena kemajuan diri saya, kesejahteraan hidup saya nggak tergantung omongan mereka.
Nah, bagaimana denganmu? Pernah nggak sih kamu merasa capek banget karena seolah hidupmu harus selalu dapat lampu hijau dari orang lain? Mau ambil keputusan kecil sampai besar, rasanya masih nunggu komentar, pujian, atau bahkan sekadar “like” di media sosial. Kalau responnya sepi, langsung ragu sama diri sendiri.
Padahal, kalau dipikir baik-baik, kita sungguh nggak butuh validasi orang lain untuk maju. Salah satu jebakan terbesar di zaman sekarang adalah membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Kita gampang merasa minder karena melihat orang lain lebih sukses, lebih cantik, lebih kaya, lebih apa saja. Akhirnya, kita mencari-cari pengakuan lewat ucapan orang lain, seakan kalau nggak dipuji, berarti kita gagal.
Padahal hidup ini bukan kompetisi siapa yang paling hebat, bukan ajang pamer pencapaian. Hidup adalah perjalanan personal yang penuh warna. Setiap orang punya jalannya sendiri, punya ritmenya sendiri. Dan yang lebih tahu arah itu siapa? Ya kita sendiri, bukan orang lain.
Orang bisa bilang apa saja tentang kita. Ada yang memuji, ada yang meremehkan, bahkan ada juga yang sekadar mengomentari tanpa tahu ceritanya. Tapi, itu semua sifatnya sementara. Hari ini dipuji, besok bisa dikritik. Kalau kita terus bergantung pada validasi dari luar, kita akan kelelahan.
Validasi yang sejati itu datang dari dalam diri sendiri. Saat kita bisa berkata, “Aku sudah berusaha sebaik mungkin,” atau “Aku puas dengan prosesku,” di situlah sebenarnya kita sudah menang.
Nggak perlu menunggu orang lain berkata, “Kamu hebat,” karena kita sudah tahu dan merasakan sendiri perjuangan yang kita jalani.
Untuk bisa bersikap seperti itu, kita butuh percaya diri yang kuat. Percaya diri bukan berarti keras kepala, menutup diri dari masukan, atau merasa selalu benar. Percaya diri berarti tahu apa yang kita mau, tahu kenapa kita memilih jalan itu, dan berani melangkah walau belum ada yang mendukung.
Masukan atau saran dari orang lain tetap bisa jadi bahan pertimbangan, tapi keputusan akhir tetap ada di tangan kita. Studi S-3 saya itu saya anggap “kecelakaan” karena nggak terencana. Pembimbing saya mengatakan kalau masih mau lanjut sekolah, ya segera saja. Karena UGM makin lama makin mahal dan aturannya makin beragam. Dengan berbagai pertimbangan dan konsekuensi, akhirnya saya memilih mengikuti saran beliau. Dan syukurlah semua terlewati dengan baik. Kalau saat itu saya memilih studi S-3 nanti-nanti, wes mungkin nggak kesampaian juga; karena biaya yang makin tinggi dan seleksi makin ketat karena makin banyak peminat, sementara kapasitas sedikit.
Begitu juga dengan proses. Kadang kita terlalu fokus pada hasil, sehingga lupa menghargai perjalanan. Padahal, setiap langkah kecil yang kita ambil adalah bagian dari kemajuan. Ketika kita berhenti mencari validasi, kita bisa lebih menikmati proses itu tanpa beban.
Saya lebih sering fokus untuk apa yang jadi tujuan. Bayangkan saja kalau energi yang biasanya habis untuk mikirin, “Apa kata orang?” Nah, kalau energi itu kita alihkan untuk belajar hal baru, memperbaiki diri, atau bahkan sekadar menjaga kesehatan mental, hidup pasti jauh lebih ringan. Kita bisa benar-benar berkembang, bukan sekadar berputar-putar tergantung opini orang lain.
Pada akhirnya, yang paling penting adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Saat bisa menatap cermin dan berkata:
“Aku bangga dengan diriku, dengan segala jatuh-bangun dan proses yang sudah kulalui,”
itu jauh lebih berharga daripada seribu tepuk tangan dari luar. Karena pujian orang lain hanya singgah sebentar, tapi penghargaan dari diri sendiri bisa jadi bekal seumur hidup.
Jadi, jangan tunggu validasi orang lain untuk melangkah. Karena kebenarannya, kamu lebih dari tahu dirimu sendiri. Kamu hanya perlu percaya sama dirimu, terus bergerak maju, nikmati prosesnya, dan tetap bahagia.
Ari Kinoysan Wulandari
