
Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kemarin, dengan obrolan panjang dengan kawan lama; saya merekam berapa banyak “orang” yang seringnya “nggak kita kenal” merusak kebahagiaan kita. Mereka menganggap “sepele” pencapaian kita. Sungguh ironis, di Indonesia yang dijuluki negeri damai, negeri bahagia, negeri dewata.
Saya pun, nggak sekali dua kali ngadepin orang-orang model begini. Semua pencapaian saya —yang tentu saja harus dengan effort luar biasa, dianggapnya sepele. Jian nggak mutu betul. Nggak tahu dia, kalau tiap orang punya ujian yang berbeda. Mungkin bagi dia gampang piknik ke kota sebelah saja, tapi bagi orang lainnya, bisa jadi nggak mudah.
Tapi bukankah bagi para pembenci, tukang iri dengki, julidan, nyinyiran, nggak ada satu hal pun yang lolos dari sifatnya itu? Jadi, yo weslah. Saya abaikan saja. Mari kita tetap berfokus pada tujuan dan mencapai hal-hal lain yang lebih besar, biarpun bagi mereka ya nanti direspon dengan celaan lainnya lagi.
Dan saya yakin, sampeyan semua pasti pernah merasa lelah karena terus berusaha bikin semua orang senang, tapi lupa nanya ke diri sendiri, “Aku tuh happy nggak sih?”
Kenyataannya, kita sering banget menomorduakan diri sendiri demi orang lain. Entah itu demi pekerjaan, pasangan, keluarga, anak-anak, atau sekadar memenuhi ekspektasi sosial. Tapi yuk, tarik napas sejenak dan ingat lho, kamu juga butuh bahagia. Bahkan, kamu dulu yang harus bahagia, sebelum bisa bikin happy orang lain.
Selfish? Bukan. Self-love? Iya dong! Seringkali kita merasa bersalah saat memprioritaskan diri sendiri. Padahal, memanjakan diri bukan egois; itu self-love. Kalau hatimu tenang dan pikiranmu bahagia, kamu akan punya energi lebih buat kasih cinta ke sekitar. Bayangin aja kalau kamu terus “kosong”, apa bisa ngisi kebahagiaan orang lain?
Bahagia nggak harus mahal atau heboh. Kadang cuma perlu secangkir kopi pagi tanpa gangguan, baca buku favorit, nonton ulang film yang kamu suka, atau sekadar tidur cukup. Bahkan, berkata “tidak” ke hal-hal yang menguras energi juga bentuk bahagia loh!
Belajar bilang, “Aku penting!” Mulai sekarang, coba bilang ke diri sendiri, “Aku berhak bahagia.” Jangan tunggu pengakuan orang lain untuk merasa happy. Dirimu yang sekarang, dengan segala luka, proses, dan pencapaianmu; itu layak dirayakan.
Percaya deh, dunia tetap berputar meski kamu rehat sejenak. Ambil waktu untuk dirimu. Nggak perlu selalu produktif. Kadang, yang kamu butuhin cuma duduk diam dan menyadari, “Wah, ternyata aku udah sejauh ini ya.”
Yuk, bahagiakan dirimu dulu. Karena ketika kamu bahagia, semua yang kamu lakukan akan terasa lebih ringan. Senyum jadi lebih tulus, niat jadi lebih murni, dan hidup jadi lebih bermakna. Hindari dan sebisa mungkin abaikan saja mereka yang cenderung “merusak” kebahagiaan kita.
Jadi, yuk mulai dari sekarang: bahagiain dirimu dulu. Bukan nanti. Tapi hari ini juga. Apapun itu, sekecil apapun pencapaianmu, tindakanmu, progress usahamu, piknik dekatmu, dll yang bikin kamu bahagia, rayakan saja. Nggak usah terlalu ambil pusing dengan omongan atau komentar orang. Terlebih mereka yang nggak ada saat kamu jatuh dan berjuang mati-matian untuk pencapaian, yang bisa jadi terlihat sepele di mata orang lain.
Hidup kita, tanggung jawab kita. Bahagia kita, kita sendiri yang tentukan. Bukan tergantung omongan atau validasi orang.
Happy Wednesday,
Saya penulis, alhamdulillah hidup sehat, layak, sejahtera, dan happy damai dengan penuh syukur pada Allah atas semua peristiwa dan jatuh bangun hidup saya hingga saat ini.❤
Kamu masih merasa sulit bikin dirimu happy? Syukuri hidupmu. Catat dan hitung semua pencapaianmu, sekecil apapun. Yakinkan, bahwa kamu penting. Kamu layak bahagia. ❤️
Ari Kinoysan Wulandari
