
Saya di depan Museum Mulawarman. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Cerita saya bagian ini lebih mudah dipahami oleh mereka yang menerima adanya karma dan reinkarnasi. Abaikan saja bila anda tidak mempercayai atau tidak menerima masalah karma dan reinkarnasi. 😀 🙏
Salah satu alasan penting di luar urusan mencari ilmu, silaturahmi di Samarinda; ada hal penting yang harus saya bereskan di Kaltim, tepatnya di Kutai Kartanegara. Hutang cinta yang harus dibayar. Urusan minta maaf dan memaafkan antar generasi yang harus diselesaikan.
Tahun 2018 pas saya ke Kaltim, saya juga pergi ke Tenggarong. Kami berdua (saya dan Uda) motoran dari Samarinda ke areal Kutai Kartanegara (Kukar). Termasuk mengelilingi Pulau Kumala.
Saya agak ngotot waktu itu agar dibawa ke Kukar karena ada urusan “energi” yang harus saya bereskan. Hutang cinta yang harus dibayar. Janji yang harus ditunaikan. Saya pribadi menerima hal tersebut karena adanya peristiwa yang mau nggak mau membuat saya menerima karma dan reinkarnasi. Termasuk ada banyak tempat yang saya tahu pasti belum pernah datang, tapi semua begitu familiar dan dekat. Begitu juga dengan orang-orang tertentu. Belum pernah ketemu, tapi bisa langsung dekat seperti sudah bertahun-tahun mengenal dengan baik.
Jadi, ketika menyadari saya di pastlife bagian dari trah bangsawan Majapahit yang begini begitu dan punya hutang janji pada pihak raja-raja Kutai Kartanegara; kalau dinalar ya nggak logis. Tapi ya begitulah. Dan hutang itu nggak akan pernah beres kalau nggak dibayar. Jadi pada tahun 2018 ketika ada kesempatan ke Kaltim, saya berpikir untuk membersihkan dan membereskan hal tersebut. Tujuannya agar hati jiwa beneran bersih.
Tapi ya ndilalah saat itu, areal yang hendak saya kunjungi sedang ditutup untuk umum. Pokoknya nggak bisa masuk areal makam raja-raja Kutai Kartanegara. Wes begitu saja. Saya lupa dulu kenapa ditutup, entah rehabilitasi atau acara apa. Saya hanya bisa sedih, karena belum tahu kapan lagi akan datang ke tempat itu. Artinya hutang karma itu belum diselesaikan.
Jadi begitu tahu acara di Samarinda tahun 2025, saya juga sudah berniat membereskan utang-utang tersebut. Saya wajib membayar karma. Pikir saya, kalau nggak ada jadwal di acara tujuan ke tempat yang saya maksud, saya akan mengurusinya secara mandiri. Bahkan kalau harus menginap lebih lama.
Jadi alasan tersebut juga menjadi pendorong saya untuk pergi ke Samarinda. Bagaimanapun saya merasa harus membereskan masalah tersebut. Biar nanti nggak perlu “reinkarnasi” terlahir kembali untuk membayar utang-utang tersebut.
Itu hal yang menjadi kesadaran jiwa saya. Bagaimanapun sesuatu itu ada energinya. Energi tidak terbatas ruang dan waktu. Kalau ada janji yang belum ditunaikan, itu ya masih nempel aja energinya. Nanti kalau sudah ditunaikan atau dipenuhi, dibebaskan, pasti akan terbebaskan.
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari
