
Saya di Bandara Aji Pranoto, Samarinda. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kali ini ke Samarinda saya juga pikir begitu, wes terserah panitia. Boleh ya mangkat, nggak lolos ya mungkin cari acara seminar lain di sekitaran Samarinda.
Saya masih mengisi workshop penulisan di luar kota, jelang akhir Mei, ketika mendapat pengumuman list nama peserta DSBK XVI. Oh ada nama saya. Yuhuuu, ke Samarinda lagi…! Dan kabar baiknya, peserta hanya perlu menanggung transport berangkat pulang ke lokasi secara mandiri.
Sementara hotel, akomodasi, operasional acara, dll. selama berlangsung kegiatan ditanggung panitia seluruhnya. Plus tiap peserta dapat uang saku harian! Yuhuuu… 🥰 Bling-bling saya gembira betul. Alhamdulillah.
Dari komunikasi dengan Mas Amien (panitia kunci DSBK XVI dan juga alumni Sasindo UGM) saya sempat menanyakan tentang tulisan, apa bisa nyusul. Diperbolehkan dan 2 harian saya serius tenan mempersiapkan materinya. Alhamdulillah ikut dipublikasikan di buku “Perbincangan Sastra Melayu: Estetika, Didaktika” yang ikut jadi isian materi goodie bag acara internasional itu.
Begitu mendapatkan undangan resmi, saya segera mengurus surat tugas (meskipun ya sekedar surat, kampus nggak mbayari biaya saya pergi ke Kalimantan). Saya siy nggak ambil pusing. Lha dulu saja nggak jadi dosen, saya biasa ikut serta berbagai seminar internasional jauh-jauh dari Jogja, kok sekarang nggak mau hanya gegara kampus nggak kasih duit. Kan kemunduran kalau begitu.
Begitu surat resmi sudah aman dan jelas, saya langsung pesen tiket pesawat ke Samarinda, memesan mobil jemputan ke bandara, mengkomunikasikan dengan beberapa pihak di Samarinda, memesan oleh-oleh, menyiapkan sejumlah pakaian untuk kegiatan agar nanti tinggal memasukkan ke koper.
Hari keberangkatan, jam 3 dini hari saya wes bangun, packing, bersiap-siap sampai jam 5 Shubuh. Sarapan dll sampai jam 7 pagi. Lalu berangkat ke Bandara YIA Jogja. Dari rumah saya sekira 2 sd 3 jam kalau macet. Kalau normal siy ya 1 jam lewat. Kali itu saya perlu 2 jam lewat untuk tiba di bandara.
Pesawatnya delay 30 an menit. Jadilah sampai bandara Aji Pranoto Samarinda juga mundur setengah jam. Antri bagasi, praktis jam 15 WITA saya baru keluar bandara. Kawan saya saat studi S3, Pak Arifin yang sudah 30 tahun jadi dosen Unmul dan menetap sebagai warga Samarinda, sudah ada di sana menjemput saya. Untung beliau belum tugas ke desa-desa. Jadi masih bisa menjemput dan mengantar saya. Maturnuwun, Pak Arifin 🤩🙏
Usai makan, kami mampir ke kampus Mulawarman. Wah, model jalanannya seperti di Unsrat Manado, naik turun, dataran tinggi. Intinya, kalau jalan atau ngepit manual, jelas menggos-menggos 😂🤣

Saya dengan Abah dan Mamahnya Uda beserta salah satu cucunya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Usai itu, sebenarnya saya bisa langsung ke hotel. Kalau begitu, pasti nanti saya males untuk ke rumah Abah Mamah. Ini orang tua Uda, lulusan ISI Jogja; tempat saya pernah nginap beberapa tahun sebelumnya saat dolan di areal Kaltim. Sudah seperti keluarga.
Jadi Pak Arifin bilang bagus ke sana dulu, baru ngedrop saya ke hotel. Biyuu, kesasar tiga kali kami meskipun pake Google Maps🤣 Beuh Samarinda wes progresif cepat dari 7 tahun sebelumnya.
Senangnya jumpa Abah Mamah sehat. Uda masih tengok temen yang sakit. Duh, lama nggak jumpa orang tua itu bagi saya kok serasa anak durhaka yang nggak pernah pulang 😂 Tentu bukan begitu ya. YK ke SMD nggak bisa jalan kaki cuy, butuh cuan untuk terbang. Nah ituuuu….
Sejam lah kami ngobrol, belum cukup lepas kangen, tapi saya harus beranjak karena acara pembukaan DSBK mulai jam 19 sd 23 nanti.
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari
