
Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saat itu awal tahun 2025, saya sedang menunggu KRL untuk ke Solo di Stasiun Tugu. Sementara perempuan ini (yang saya pun nggak tahu namanya hingga sekarang) sedang menunggu kereta ke arah barat. Begitu saja kami berbincang. Dia berasal dari Pontianak. Senang membaca, senang menulis. Kami pun nyambung.
Sambil lalu, kalau nggak salah perempuan ini menyebutkan ada acara sastra besar di Samarinda, Kalimantan Timur sekitar bulan Juni atau Juli. Ada tiga negara. Begitu lebih kurang yang saya ingat. KRL datang, kami pun berpisah. Kami nggak berbagi contact. Nama pun nggak saling sebut.
Cuman karena disebut Samarinda, saya tiba-tiba saja berkeinginan untuk ikut. Itu pasti akan membahas Sastra Melayu, nggak mungkin membahas Sastra Jawa seperti kalau kegiatan seminar sastra di Jawa. Yach, itung-itung lihat perkembangan dan kemajuan sastra Melayu. Begitu pikir saya.
Di KRL, saya mulai menghitung budget yang harus saya siapkan untuk ikut acara tersebut. Kalau misal acara besar biasanya ya 5 hari kerja atau hitung seminggu. Berarti saya butuh anggaran selama 7 hari (2 hari untuk perjalanan, 5 hari kegiatan Senin sd Jumat). Biasanya kalau acara besar lebih kurang begitu berdasarkan pengalaman ikut acara-acara sebelumnya.
Saya langsung cek-cek harga; menghitung komponen tiket pesawat pp, transfer rumah bandara asal pp; bandara tujuan-lokasi pp, hotel 7 malam, makan 2 × 7 (hari) dengan sarapan include hotel, uang saku 7 hari, dana darurat, dana oleh-oleh beberapa pihak di Samarinda dan oleh-oleh pas balik Jogja; juga oleh-oleh untuk pribadi, biaya registrasi (bila ada), biaya publikasi tulisan (bila diperlukan), keperluan pribadi, dll. Hitung-hitung dengan rerata, ketemulah sejumlah anggaran biaya yang lumayan besar.
Saya sempat menghitung pula budget ke Derawan dari Samarinda. Tapi nanya sini situ lah… kok masih besar biayanya. Jadi besar kemungkinan, tujuan Derawan akan saya skip dulu. Ya sudah, bismillah. Ntar pas waktunya pasti ada jalan.
Waktu berlalu, saya sibuk mengajar, menulis, mengisi workshop penulisan, dll gaweyan seputar industri kreatif. Dan alhamdulillah, anggaran untuk program ke Samarinda wes ada di tangan. Tapi programnya pun belum saya dengar, belum ada kabar apapun dari Kalimantan.
Tiba-tiba di grup alumni Sasindo UGM, keluar flyer dll detail tentang kegiatan DSBK (Dialog Serantau Borneo Kalimantan) XVI 2025 bagian seleksi. Wah ini dia… yang saya tunggu-tunggu akhirnya muncul programnya. Wes, saya langsung ngisi-ngisi form dan melupakan. Saya feel free saja. Terserah panitia. Kalau warga non Kalimantan, non Melayu dianggap nggak bisa hadir, ya nggak apa-apa.
Saya pernah merasa salah ruang seminar ketika ada pertemuan internasional membahas kuliner “Nusantara” terkhusus “Sulawesi”, tapi saya menyajikan materi kuliner Jawa. Karena persepsi saya Jawa termasuk Nusantara, tapi nggak khusus Sulawesi. Toh itu sudah lewat seleksi dan kebijakan panitia.
Jadi ketika saya diserang peserta lokal Sulawesi yang nggak lolos seleksi penyaji makalah dan menganggap tulisan saya “salah program”, perwakilan panitia penyelenggara yang maju untuk menjelaskan dan bertanggung jawab.
Haish, kadang saya terlalu rajin datang dan ikut seminar begini, ya karena mencari ilmu dan melihat relasi yang lebih luas. Biar saat nulis tuh saya nggak mandeg dan membahas hal yang sama. Nyawa saya itu di penulisan kreatif. Jadi upgrade update ilmu penulisan kreatif itu wes jadi keharusan.
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari
