
Gambar hanya sebagai ilustrasi. Diambil semena-mena dari internet. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Tadi malam sebelum tidur, saya sudah ngelist apa yang mau saya kerjakan hari ini. Penulisan. Revisi naskah. Pembayaran. Ketemu orang. Mengirimkan pakaian sangat layak pakai (saya wes gak bisa pakai lagi semata gegara tambah gemoy🤣).
Pagi-pagi saya wes beberes, berbenah. Menulis beberapa yang harus dibereskan. Lalu beralih ke baju-baju yang mau saya sedekahkan, saya masukkan dus sampai penuh. RT tempat saya tinggal sedang ada acara sambut Ramadan; pengumpulan macam-macam untuk baksos (pakaian dll piranti rumah tangga layak pakai, sembako, uang, dll keperluan) dari awal Januari s/d 7 Februari nanti.
Saya ya wes ikut serta ngumpulin baju itu 2x sebelumnya, ya lebih kurang 2 dus. Sithik-sithik ben gak capek bongkar lemari. Beneran malah sama bebersih lemari baju yang embuh kok rasanya nggak muat teruz 🤣 Hari ini pun demikian. Wes cukup penuh dusnya, langsung saya kirim ke tempat pengumpulan.
Nginguk kulkas, inget ada nasi tadi malam. Saya ambil lagi untuk dikasih ke ayam (tetangga). Ayam-ayam di sini yo pinter-pinter. Kalau nasi atau makanan basi yang dikasih, mereka tuh nggak mau makan. Jadi kalau ngasih nasi ya kudu yang sehat, masih layak makan. Saya (kadang) malez bae manasin lagi, lebih memilih masak nasi baru. Dan ayam-ayam itulah penampungnya😂
Saya sempat inguk-inguk sosmed. Beuuh, iklan piknik dari mana-mana muncul 😆😅 Saya sampai mikir, mungkin enak betul ya kalau duit nggak ada serinya tinggal ambil, transfer, debit, nggak pernah habis bisa untuk piknik bebas sepuasnya ke 200-an negara dengan fasilitas dan kondisi terbaik 😃🤩 Hadeuh, suka banget siy saya mimpi di siang bolong 🙈
Aiih, lupakan sejenak urusan piknik yang belum ada duitnya😅😂 Saya pun menelepon CS bank untuk menanyakan beberapa hal berkaitan dengan pembayaran publikasi artikel di jurnal internasional. Terlebih karena pembayaran pakai USD, beda benua, pasti ada banyak syarat dan ketentuan, termasuk charge pengiriman.
Ya, setelah menunggu beberapa bulan, tentu saya happy banget dong pas terima surat penerimaan artikel. Termasuk pemberitahuan pembayaran, rekening bank, waktu publikasi. Noted, pada saat submit artikel, saya sudah berusaha memastikan bahwa ini jurnal kredibel, terakreditasi internasional, dll pengecekan standar.
Mbak CS yang suaranya renyah seperti keripik emping melinjo itu, menginfokan beberapa hal yang perlu saya siapkan untuk transfer uang; baik menggunakan rek IDR atau rek USD. Saya nggak perlu ke bank. Kalau kesulitan nanti bisa telpon atau WA untuk dibantu. Kalau mau lebih jelas, saya bisa ke bank.
Wah, saya nyicil ayem. Lumayan gampang prosesnya. Saya mikir akan ke bank saja dan membereskan semuanya hari ini. Ben ndang rampung, sisan cetha kalau duit tabungan saya itu berkurang, ojo mung mikirin piknik bae, Riii… Isih banyak yang perlu duit dan kudu bayar-bayar 😁
Lalu si Mbak CS ini nanya saya lagi, akan mau mengirim ke siapa (apakah institusi atau perseorangan), no rek berapa, berapa USD yang akan ditransfer, dan untuk keperluan apa. Dia akan membantu melakukan pengecekan bahwa si penerima adalah “real”. Mungkin kalau sesama bank bisa melakukan crosscheck ya satu sama lain untuk mendapatkan info yang benar.
Saya lalu memberikan detail info yang diminta. Si Mbak CS meminta saya menutup telpon dulu dan nanti maksimal 30 menit akan telpon saya. Teng tong… nggak sampai 15 menit, si Mbak wes telpon lagi.
“Bu Ari, ini nama sama, tapi alamat dan no rek berubah-ubah terindikasi penipuan. Silakan cek link jurnal yang saya kirim via WA, itu yang benar. Link yang ibu kirim untuk cc tembusan alamat pengiriman, itu link palsu yang dibuat sama persis seperti aslinya; hanya beda alamat. Kalau tidak cermat, pasti ketipu. Ibu tidak usah kirim uang karena jurnalnya abal-abal. Jurnal aslinya nama sama, dengan alamat link yang saya kirim, Bu. Itu link yang terintegrasi dengan penerbit dan universitas yang menaunginya.”
Saya wes langsung lemas, bengong beberapa saat. Ya Allah, betapa baiknya Engkau❤❤Maturnuwun atas pertolonganMu❤❤ Kalau saya nggak nanya-nanya dulu, pasti bablas kirim uang via non bank sesuai permintaan officer jurnal abal-abal ini dan sesudah kirim uangnya, pasti gak bisa ditarik balik. Amblazlah uang itu.
Jujurly, saya kecewa dan sedih lho sampai beberapa menit. Ya Allah, saya wes hati-hati saja masih nyaris kena jurnal abal-abal gini. Apalagi mereka yang serampangan buru-buru kemrungsung pokok publikasi njur akhirnya menangis darah kehilangan puluhan juta, duit utangan pula 😭Tapi ya sudah, saya pilih mensyukuri saja kebaikannya. Sekurangnya duit hampir 1000 USD itu terselamatkan. Alhamdulillah.❤
Saya yakin ini bukan karena “kehatian-hatian” saja, tapi jelas lebih karena sedekah pagi-pagi yang saya lakukan. Ikhlas tenan. Dan seperti terngiang-ngiang kata Ustadzah di depan Masjid Nabawi ketika kami berhasil ke Raudah dan selow 30 menitan lebih di areal rumah Nabi Muhammad SAW hingga puas doa, ibadah, nangis-nangis. “Pasti uang yang dipakai berasal dari sumber rezeki yang halal. Kalau uang halal itu mudah untuk ibadah dan biasanya bertahan lama, nggak mudah habis atau hilang.” Wallahua’lam.
Saya njur mikir, publikasi artikel internasional ke mana lagi ya yang waktunya nggak perlu tetahunan dan biayanya (sekurangnya masih cukup sanggup) saya bayar tanpa beribetan dengan sistem administrasi keuangan kampus? Heish, minta ganti charge publikasi ke kampus, laporannya sebejibun mumet, duitnya cair itu embuh kapan suka-suka mereka bae. Pasti diberikan, tapi waktunya itu yang embuh kapan 😅
Eh tapi yang begini, saya yakin nggak cuma kampus saya aja kok. Ada banyak yang lebih parah. Jadi saya slow motion tenan, pilih pilih publikasi internasional yang charge ringan dan kalau kampus menggantinya embuh kapan itu, nggak bikin budgeting saya rieweuh sana sini. Hidup kadang memang mung soal petang-petung uang kan 🤣
Ari Kinoysan Wulandari