
Ka’bah yang jadi kiblat ibadah umat Islam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Hari ini sejak pagi saya wes menulis. Cukup banyak lembaran berganti. Kalau kemarin masih setengah mageran, banyak nonton, sedikit nulis. Saya maklumi saja. Ada masanya yo malez juga 😆
Eh lha pas break nulis kok ya timeline sosmed saya isinya seliweran foto-foto Baitullah. Wah, rindu saya pun menjadi-jadi. Ya Allah, rasanya pingin nangis aja dan ya nggak sadar saya wes nangis beneran. Rasa rindu yang nggak karuan mendesak-desak untuk segera kembali ke Tanah Suci 😭
Saya, seperti juga jutaan umat Islam di seluruh dunia, Baitullah bukan sekadar sebuah tempat fisik. Ini jadi simbol cinta dan kerinduan yang mendalam kepada Sang Pencipta.
Setiap detik, ratusan bahkan ribuan jamaah dari berbagai penjuru dunia berdoa, bersujud, menangis, dan bermunajat di depan Ka’bah, menyampaikan segala harapan, keluh kesah, dan rasa syukur.
Baitullah menjadi pusat spiritual yang memanggil hati setiap Muslim, mengingatkan mereka pada tujuan hidup sejati: kembali kepada Allah.
Kerinduan kepada Baitullah adalah rindu yang tak terdefinisikan. Bagi yang belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci, Baitullah terasa seperti mimpi yang selalu dirajut dalam doa.
Harapan untuk bisa bersujud di sana, merasakan dinginnya lantai Masjidil Haram, serta menyaksikan keagungan Ka’bah adalah cita-cita yang terpatri dalam hati.
Sementara bagi mereka yang pernah menjadi tamu Allah, kerinduan itu tak pernah pudar, bahkan sering kali semakin membara setelah kepulangan mereka.
Mengapa rindu kepada Baitullah begitu mendalam? Sebagian mungkin berkata bahwa tempat ini adalah pusat dari semua doa, kiblat yang menyatukan seluruh umat Islam di dunia.
Namun lebih dari itu, berada di depan Ka’bah memberikan rasa tenang yang tak tergantikan. Di tengah kesibukan dunia yang sering kali membuat hati gersang, Baitullah hadir sebagai oase yang menyejukkan jiwa.
Beribadah di Tanah Suci juga mengajarkan makna kesetaraan dan kebersamaan. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat atau rakyat biasa.
Semua mengenakan pakaian yang sama, memusatkan hati hanya kepada Allah. Di hadapan Ka’bah, semua manusia berdiri sejajar, merasakan kebesaran Allah yang Maha Esa.
Kerinduan kepada Baitullah bukan hanya soal ingin berada di sana secara fisik, tetapi juga panggilan hati untuk selalu mendekat kepada Allah.
Bahkan, bagi yang belum memiliki kesempatan untuk datang, doa dan zikir yang diucapkan dengan tulus sudah menjadi jalan untuk merasakan kehadiran-Nya.
Baitullah adalah tempat yang mengajarkan kita untuk melepaskan ego, memohon ampunan, dan menemukan ketenangan sejati.
Rindu ini tak akan pernah bertepi, karena ia bersumber dari cinta kepada Sang Pemilik Ka’bah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk memenuhi panggilan-Nya, menjadi tamu-Nya di Tanah Suci, dan merasakan nikmatnya bersujud di depan Baitullah. Amin.
Ari Kinoysan Wulandari