Long Weekend, Ngapain Aja?

Flaurent Salon. Tempat langganan saya sejak tahun 2010-an untuk perawatan badan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Libur panjang Sabtu s/d Rabu atau lima hari, bagi orang Jogja kayaknya biasa aja. Sedari pagi saya keluar rumah, melihat toko-toko kelontong yo tetep buka. Orang jualan hilir mudik. Yang punya usaha bengkel, service laptop, kerajinan, dll ya tetep buka. Nggak libur. Apalagi mereka yang bisnisnya di dunia pariwisata. Libur panjang waktunya meraup rezeki nomplok.

Rencananya pas liburan panjang ini, saya mo jagain tukang yang akan beberes beberapa bagian di rumah. Cuman karena tukangnya lagi dipake di rumah mertua adik saya, dengan gaweyan yang lebih urgent, jadi tempat saya pun mundur.

Berusaha cari tiket pulang kampung yang sesuai kantong saya kok wes amblaz. Iyalah, libur gini kan kudunya pesen tiket dari jauh hari. Dadakan adanya ya harga-harga yang masih terasa eman-eman kalau saya bayar 😂

Ibu saya justru bilang nggak usah pulang. Ntar sekalian aja pas ruwahan; nyekar, ikut selamatan, mandi adat, persiapan Ramadan. Jadi saya pun segera mengganti acara. Menikmati hidup, menyenangkan diri sendiri.

Saya reservasi untuk perawatan badan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Massage seluruh badan selama 1 jam, body spa, hair spa dan perawatan rambut, facial dan totok wajah, ratus, plus meni pedi. Komplit dan suwe.

Hampir seharian saya di Flaurent Salon. Tempat yang wes jadi langganan saya sejak 2010-an saat saya kudu bolak-balik Jogja Jakarta. Terutama untuk massage seluruh badan. Sungguh pas dan cocok di tubuh saya.

Saya mensyukuri berkat Tuhan pada hidup saya dengan cara merawatnya baik-baik. Makan sehat, hidup sehat, olahraga, check up kesehatan, laku ibadah, piknik, meditasi, dll aktivitas positif yang saya pahami sebagai wujud terima kasih saya atas semua anugerahNya.

Wajah saya jelas nggak secantik artis-artis ibukota. Tubuh dan postur saya jelas jauh dari kategori ideal, apalagi kelas peragawati. Toh semua yang diberikan Tuhan itu sungguh luar biasa.

Tubuh dan fisik keseluruhan yang sudah “sempurna” membawa saya menjalani hidup hingga nyaris paroh abad ini. Luar biasa dengan beragam jatuh bangun ekonomi dan masalah kehidupan; tubuh fisik, mental, spiritual saya tetap kokoh kuat, jarang sakit yang beribetan. Ya kalau sakit ringan, capek, drop karena beda cuaca, dll itu jelas wajar. Manusia ini, bukan robot.

Dan saya yakin, di luar semua penjagaan diri yang saya lakukan; yang terbesar adalah “penerimaan” dan “syukur” saya atas apapun yang terjadi dalam hidup. Pahit getir beratnya masa lalu, kalau sekarang saya ingat, kok ya baik-baik aja.

Lepas perawatan yang bikin badan saya enteng dan rileks; saya makan sate, gule, tongseng, kronyosan, sekomplitnya. Sampai beberapa orang melongok ke arah saya makan. Mungkin karena banyak macam porsi saya pesan dan nggak ada orang lain.

Habis? Ya jelas, saya kan bisa mengukur seberapa banyak porsi yang bisa saya habiskan. Lagi pula porsi sate dll olahan kambing di Jogja itu kan mung sithik-sithik. Sate aja seporsi isinya cuman 2 tusuk, tiap tusuk dagingnya mung 3 potong pulaaak. Mana cukup buat pecinta sate kek saya 😂

Dan syukur alhamdulillah, saya masih boleh bebas makan semua olahan daging dll dengan kandungan kolesterol atau asam urat tinggi tanpa khawatir. Teman-teman sebaya banyak yang iri dengan kondisi saya ini 😅

Habis itu saya nylingker ke supermarket. Belanja camilan, makanan frozenan, buah-buahan, dan aneka isian kulkas. Nggo bahan bakar saat saya “bertapa” beberapa hari untuk merampungkan tulisan pribadi saya. Novel yang sudah lama belum kelar 😆😅 dan tentu gaweyan kruncilan yang belum beres.

Untung minggu kemarin saya wes ke Bromo dengan sukacita. Energi kegembiraan itu terasa masih melimpah ruah. Menulis dalam suasana hati gembira itu hasilnya beda. Tenan.

Setelah itu ngapain? Yo pulanglah. Mosok thenguk-thenguk di tempat belanja? Kek kurang kerjaan bae 🤣 Sampai di rumah, saya memasukkan semua belanjaan ke tempatnya dan bersiap memulai long weekend dengan menulis. Pasti kesela juga nonton serial, entah dracin, drakor, atau film film lepas.

Jadi kalau kamu long weekend di rumah aja, menghindari keribetan ramenya jalanan karena liburan atau alasan lain, yo santai aja. Cari aktivitas yang positif.

Misalnya beberes dan bebersih rumah. Main dengan keluarga di sekitaran aja. Bikin acara masak bersama. Nobar di rumah dengan desain ala bioskop. Beresin gaweyan yang ketunda. Baca buku-buku. Dll.

Intinya, versi saya long weekend ya nggak selalu kita harus ikut arus keluar rumah untuk piknik. Yang penting nikmati hidupmu, syukuri berkatmu, dan sehat-happy selalu ❤️

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *