
Ini lokasi saya masih di sekitaran puncak Seruni. Jalannya menurun, lebih “berbahaya” daripada saat naik. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sebelum pandemi (awal tahun 2020) saya terbiasa pergi dengan 1 atau 2 sahabat. Zaman itu belum begitu banyak biro yang bikin open trip (OT). Kami lebih sering arrange mau ke mana, kapan, budgeting. Lalu berbagi tugas, siapa yang pesan hotel/pesawat, transport/makan/tiket wisata/fotografer dll. atau memilih biro.
Kalau berbagi tugas, di awal kami sudah ngumpulin uang “iuran” untuk segala sesuatu yang perlu dibayar awal. Kami memilih 1 bendahara yang pegang duit tunai. Pas tiba di lokasi, dialah yang bayarin tiket wisata, makan di tempat, charge foto dadakan, tips dan bayar guide di lokasi, bayar toilet pun dia yang kasih duit recehnya.
Kalau uang yang dipegang bendahara mulai menipis, kami iuran lagi. Usai piknik, kami akan membagi uang tersisa atau kasih ke kotak sedekah sesuai kesepakatan.
Begitu dalam waktu lama, bahkan untuk trip-trip yang jauh di pelosok Sumatera atau Kalimantan. Alhamdulillah, saya happy-happy aja. Sampai kemudian, kami pesan trip lewat biro. Ndilalah embuh piye kok jadwal tugas 2 sahabat saya itu berubah dadakan. PNS atau ASN jelas gakbisa sembarangan izin apalagi bolos kalau nggak mau kena surat cinta 😆😅
Padahal saya wes bayar full di biro. Mereka juga sudah hampir lunas. Mau nggak mau saya harus berangkat kalau nggak mau duit ilang melayang. Mereka ya pasti rugi kan duit gak bisa ditarik ulang. Bismillah, saya berangkat. Lho ternyata sendirian ikut OT nggak seserem yang saya pikirkan 😅😂 Saya pun mulai “terbiasa” kalau harus pergi sendiri.
Ikut OT sendirian versi saya, bisa menjadi pengalaman yang seru dan memperluas jaringan pertemanan. Berikut beberapa tips dan trik untuk memastikan sampeyan dapat pengalaman istimewa.
Pertama, pastikan dulu jiwa ragamu sehat kuat. OT sendiri, berarti sampeyan siap menanggung segala sesuatunya sendiri tanpa ada orang yang sampeyan kenal untuk “membantu”. Pastikan cek kesehatanmu.
Saya kalau harus sendiri, ekstra ketat terhadap urusan kesehatan. Seperti pas mau ikut OT Pacitan dengan Ceria, begitu dokter bilang kondisi kesehatan kurang oke, saya pilih mundur saja. Risiko uang hilang itu harus dihadapi, tapi syukur alhamdulillah boleh reschedule di Ceria. Terimakasih ya 😀
Kedua, pilih biro terpercaya. Lakukan cek ricek tentang penyedia OT, baca ulasan dari peserta sebelumnya, dan pastikan mereka memiliki reputasi yang baik. Cek juga itinerary yang sesuai dengan minat dan semua fasilitas yang disediakan.
Ketiga, ketahui siapa yang bertanggung jawab pada OT yang kita pilih. Admin, TL, fotografer atau kameramen, driver/kru transportasi, guide, helper, dll yang bisa kita contact bila ada sesuatu yang kita perlu. Kenali, catat contact mereka.
Keempat, siapkan semua fotokopi dokumen identitas seperti KTP, SIM, atau paspor.
Bawa barang pribadi yang penting seperti obat-obatan, alat mandi, dan pakaian yang sesuai dengan destinasi.
Kelima, kenalan dengan peserta lain.
Bersikap ramah dan terbuka akan membuat kita lebih mudah berinteraksi dengan orang lain. Ada banyak teman baru yang saya peroleh dari OT.
Tapi yo nggak usah memaksakan diri. Kalau di OT, mereka yang pergi dengan partner (entah pacar, gebetan, selingkuhan, pasangan, saudara, anak, keluarga, teman, bestie dll) biasanya nggak mau atau nggak sempat kenalan dengan orang lain. Wes sibuk dengan “dunia mereka” sendiri. Feel free aja, dapat kenalan alhamdulillah. Gak dapat ya tetap enjoy dengan tripnya.
Keenam, bawa uang tunai secukupnya, terutama jika destinasi berada di daerah terpencil yang mungkin tidak memiliki banyak ATM. Hitung berapa budget yang harus disiapkan.
Cek-cek apa yang nggak ditanggung biro, biaya lain yang mungkin ada, budget oleh-oleh dan souvenir, budget wahana yang optional, dan urusan biaya toilet. Eh ini meskipun receh tapi bisa habis banyak lho biaya toilet ini. Pastikan sediakan uang pas, kalau kamu nggak ingin bayar berlipat.
Misalnya charge toilet 2 rb tapi uangmu 5 rb, itu suka dan sering banget lho saya dibilangin nggak ada kembaliannya. Jadi terpaksalah mengikhlaskan 5 rb. Sekali oke, bolakbalik ya berlipat. Jadi pergi OT saya juga nyiapin recehan 2 rb dan 1 rb an untuk urusan ini.
Ketujuh, ikuti dan patuhi aturan yang diberikan oleh penyelenggara trip untuk kenyamanan dan keselamatan semua peserta. Ikuti jadwal yang telah ditentukan agar perjalanan berjalan lancar dan sesuai rencana. Jangan bikin acara sendiri.
Meninggalkan areal, bahkan meskipun ke toilet pastikan izin TL atau sekurangnya ada orang yang kamu pamiti ke mana kamu pergi. Aktifkan HP agar mudah dihubungi bila ada perubahan jadwal mendadak karena force majeur.
Kedelapan, bersikap fleksibel. Bersiaplah untuk situasi yang tidak terduga seperti perubahan cuaca atau jadwal. Bersikap fleksibel akan bikin kita lebih happy. Bila
ada waktu luang selama perjalanan, gunakan untuk refleksi pribadi atau menjelajahi tempat sekitar secara mandiri jika memungkinkan.
Kesembilan, jaga komunikasi. Jangan takut bertanya kalau ada yang nggak jelas atau belum paham. Jaga pembicaraan dengan sesama anggota tour. Kalau memerlukan sesuatu, jangan ragu juga bertanya atau meminta pada penanggung jawab OT.
Kesepuluh, jaga barang berharga dan selalu waspada terhadap lingkungan sekitar untuk menghindari kehilangan atau hal yang nggak diinginkan. Bawa selalu tas berisi barang penting bersama sampeyan. Jangan menaruh di kursi kendaraan atau menitipkan pada orang yang sampeyan pun nggak tahu namanya.
Intinya, kalau harus pergi sendiri OT karena beragam sebab; tetap enjoy aja. Ingat untuk bersenang-senang dan menikmati setiap momen dalam perjalanan. Versi saya berada di OT sendirian, itu kesempatan untuk mengeksplorasi dunia dengan cara baru.
Dengan mengikuti tips ini, semoga sampeyan dapat ikut OT sendirian dengan lebih percaya diri dan fun.
Happy Piknik ❤
Ari Kinoysan Wulandari