Bromo (5) Si Mogi, Kuda yang Cerdas

Saya dengan Si Mogi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di belakang tempat kami sarapan, saya jumpa kru Ceria. Saya tanya ke Mas Brian acara saat itu. Ternyata sama dengan di Itinerarynya. Acara bebas sampai jam 9, terus ke Pasir Berbisik. Mestinya free time untuk ke Kawah Bromo jam 7-9, tapi Mas Brian dll nggak ke atas. Kru Ceria lainnya menyambung, memberikan info ke saya tentang Kawah Bromo.

Keterangan mereka lebih kurang sama dengan info yang saya peroleh pas kasak kusuk di sekitaran toilet. Ya weslah, lagi pula kaki saya masih gemeteran beberapa kali saking gempornya ke Seruni.

Acara bebas, foto-foto sebentar, saya wes bosan. Saya jenis orang kalau sudah capek tuh yang saya pikirin cuman satu: tidur. Apalagi perut kenyang abiz sarapan to, bawaannya liyer bae. Sudah segar pula keguyur air mandi 😆😂 Kalau sudah tidur, meski sejam aja itu semua lelah fisik saya, kayaknya sudah ilang menguap dan kembali fresh.

Nama tempat kami sarapan itu areal Lautan Pasir. Seperti namanya, di mana-mana ya hamparan pasir. Kali ini pasirnya tidak berwarna “putih”, tapi hitam pekat karena baru saja terkena air hujan. Nggak berdebu dan suhu cukup bersahabat.

Kalau sampeyan datang ke sini pas musim kemarau panjang, bisa dapet tuh warna lautan pasir yang keperakan “putih” karena kering dan terkena sinar matahari. Cuman ya itu, biasanya debunya jadi sangat mengganggu. Belum lagi kalau belerang yang terus menerus dikeluarkan Gunung Bromo tertiup angin dan menabrak-nabrak muka atau mata kita, wes jelas pedis dan bikin merah-merah sakit bagi yang kulitnya alergian atau sensitif.

Itu juga salah satu alasan saya memilih ke Bromo saat masih musim hujan atau pas suhu dingin. Januari Februari termasuk waktu yang ramah untuk eksplore areal ini. Kalau September Desember biasanya hujan deras lebih sering dan sering nggak bisa eksplore. Kalau sudah Maret Agustus, musim kering melanda. Puncaknya di Juli Agustus, ini beneran panas, debu pasir, angin gunung; banyak gangguan meskipun nggak hujan.

Cuman karena waktu masih lebih kurang 30 an menit, saya berkeliling areal tersebut. Tapi ya sama aja. Lautan pasir 😆😅 Banyak orang lalu lalang, foto-foto. Pedagang nawarin oleh-oleh atau piranti khas Bromo. Jeep meraung untuk pergi dan datang. Kuda-kuda berlarian sana sini.

Saya melihat banyak juga orang yang foto-foto dengan kuda. Saya sebenarnya ingin berkuda. Areal ini sungguh menyenangkan dan cukup ideal untuk berkuda bebas lepas. Tapi dengan tubuh lelah, gampang emosi itu jelas nggak bagus untuk berkuda.

Kuda salah satu binatang yang peka energi dan emosi. Binatang ini juga tergolong cerdas, mudah memahami perintah manusia. Kalau si kuda menangkap sebaran energi dan emosi nggak bagus, dia bisa “ngamuk”, lari nggak terkendali dan bikin penunggangnya jatuh terlempar. Nasihat pelatih yang selalu terngiang di telinga saya, “Stabilkan emosimu sebelum berkuda”.

Saya wes nggak niat sewa kuda. Lha tadi saja untuk pergi segitu dekat di Seruni 300-400 rb PP. Pikir saya, berarti ya kisaran 200 rb lah kalau mo pake kuda. Kalau cuma dipake bentar atau foto-foto doang, rugi doong. Aaah perempuan, mo punya duit pun tetep akan itung-itungan 😆😅 Kecuali lagi bucin, hihihi…

Eh, tiba-tiba Mas Sidiq nanya, saya nggak foto dengan kuda. Saya balik nanya apa bisa sewa kuda untuk foto doang, karena mestinya sewa kuda itu ya untuk berkuda. Katanya bisa dan cuma 20 rb. Saya kaget semurah itu. Saya pikir ya tetap 200 rb an. Saya bilang kuda yang dipake orang-orang foto itu kecil, nggak gagah, saya nggak mau.

Jadi saya berkeliling dulu, cari kuda yang versi saya cukup besar dan gagah. Kalau berkuda, kuda besar gagah itu larinya lebih kencang dan kita tuh berasa terbang tapi masih di daratan 😂

Ada si bapak dengan kuda putihnya yang lagi dipake foto orang. Mas Sidiq bilang kalau saya mau pake kuda itu, harus segera bilang ke bapaknya, ntar keburu pergi. Saya pun bergegas, tanya nama kudanya dan bapak itu bilang namanya Mogi. Bagus juga namanya.

“Mogi, kamu umur berapa?” Tanya saya sambil mengelus surainya (rambutnya). Si bapak menjawab dua tahun.

Pas saya tanya berapa untuk foto. Ya benar, 20 rb saja. Ya wes. Saya ajak ngobrol dulu si Mogi biar kenal.

“Mogi, saya Bu Ari. Nanti kamu jangan lari atau jalan jauh ya! Saya lagi capek, jadi mo ambil foto-foto aja. Boleh ya, Mogi? Kalau ada lain waktu jumpa, kita bisa lari atau jalan jauh.”

Dan si Mogi seperti mengerti. Merespon saya dengan menolehkan kepalanya ke arah saya. Wajahnya juga terlihat tersenyum ramah, tanda mengerti. Baru saya naik kuda yang cukup tinggi besar itu. Bapaknya mau membantu, tapi saya bilang kalau bisa naik kuda. Plek, plek, saya wes di atas kuda.

Mas Sidiq ambil foto saya beberapa kali, mutar-muter sebentar. Si Mogi kayaknya pingin juga ngajak saya jalan, dia melangkah beberapa kali sampai bikin saya kaget. Takut kalau dia jalan atau lari beneran, karena pasti jadi lama itu nanti.

Bapak pemilik kuda mengatakan nggak papa. Iya betulan, Mogi sudah berhenti tanpa saya bilang apa-apa. Mungkin maksud si Mogi membantu saya dapat foto-foto yang bagus. Kuda yang cerdas😀

Kalau kamu pernah berkuda, kamu akan ngerti kalau itu termasuk pengalaman seru. Badanmu kecil seperti saya? Nggak usah takut. Begitu kamu bersahabat dengan si kuda, dia akan membawamu dengan baik. Paling-paling kalau belum pernah dan kamu riwil, yo kepental jatuh saat kuda berlari kencang 🤪🙈

Dan pasti sakit semua lah…. soale saya wes pernah beberapa kali, tapi yo nggak kapok. Kalau medannya berpasir bae paling-paling yo makgedebuuk… njur seminggu punggung badanmu memar biru hitam, nyeri sakit semua 😁

Itu sebabnya kalau capek, emosi nggak stabil, energi juga nggak full, versi saya jangan berkuda. Lakukan kalau pas beneran fit dan gembira. Saat itu, rasanya kita seperti dibawa terbang si kuda sambil membuang semua beban jiwaa ragaaa…. hahahah…😂😆

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

2 Balasan untuk “Bromo (5) Si Mogi, Kuda yang Cerdas”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *