
Saya di areal lautan pasir. Sudah penuh kabut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Usai sarapan di lautan pasir, saya tanya Mas Brian (TL) di mana lokasi toilet. Cukup jauh, tapi karena saya mau mandi dan ganti baju, saya pun bergegas. Dengan pesan ke Bu Fifi kalau saya belum kembali, berarti masih di toilet.
Lautan pasir di sepanjang hamparan mata memandang. Dengan jeep-jeep berseliweran, kuda-kuda berlarian, orang berlalu lalang, motor-motor meraung di areal pasir, hingga pedagang hilir mudik ramai menawarkan dagangan.
Sampai toilet, terkejutlah saya. Antrian mengular. Kotor pasir di mana-mana. Wah, bisa-bisa nggak jadi mandi ini. Karena kalau kelamaan di kamar mandi digedor pintunya.
Pas saya antri itu, seseorang di depan menanyai saya dari mana. Setelah saya jawab Jogja, ibu itu kelihatan gembira sekali. Lalu cerita begitu saja, dua anak lelakinya sebelumnya kuliah di UIN dan UII lalu dapat beasiswa S2 di Mesir dan Arab Saudi. Sementara 2 anak lainnya sekarang kuliah di UAD dan UNY.
“Semuanya saya suruh cari beasiswa, sekolah tinggi biar bisa jadi dosen, Mbak. Nggak apa-apa gajinya kecil, tapi insyaallah berkah dan amal jariyahnya banyak.”
Kata-kata ibu itu sebenarnya biasa saja, tapi seperti godam bertalu-talu di telinga saya. Hampir 3 tahunan ini saya menetap jadi dosen UPY; tapi lebih sering kesal dengan gaji yang seiprit, keribetan administrasi, potongan tunjangan-tunjangan karena belum publikasi artikel internasional; yang bikin penghasilan saya sebagai dosen sebulan untuk transport umum pun, saya masih nombok.
Kalau nggak inget ibu saya yang lebih senang saya jadi dosen daripada jadi penulis, wes tahun pertama saya hengkang. Dosen memang bukan keinginan saya. Saya studi S3 lulus 2016 itu karena memang perlu ilmu untuk menulis buku-buku saya. Dan sampai 2021, ijazah dan gelar doktor yang banyak orang mati-matian berjuang itu, di saya nganggur saja. Ada tawaran dosen dari ini itu, tapi karena semua di luar Jogja, saya pilih emoh.
Pas ditawarin di UPY karena di Jogja, saya pikir ya weslah oke. Tapi mana tahu kalau gaji dosen pake ijazah S3 pun begitu kecil. Saya rasa pemerintah kalau ingin mencerdaskan bangsa, itu aturan penggajian guru, dosen, ustad/dzah dll sebutan pendidik anak bangsa kudu diupgrade 5-10x lipat dari sekarang biar fokus mendidik.
Lha gimana mau fokus kerja, gajinya seimit dengan kebutuhan keluarga segerobak? Saya beruntung jadi dosen, wes solid ekonomi dari pekerjaan sebagai penulis profesional. Lha kalau enggak, nomboki kekurangan biaya operasional itu dari mana kalau nggak ngutang-ngutang?
Saya diam agak lama, tapi merasa sepertinya Allah sedang mengajak saya berbicara lewat ibu yang entah siapa ini. Ya weslah, mari ikhlas-ikhlasan aja. Wes gak usah terlalu dipikirin urusan duitnya kalau jadi dosen.
Sepanjang waktu ini toh saya yo wes maksimal berusaha tetep jadi dosen yang baik, tanpa mikirin gaji itu. Karena saya yakin Allah memberi ganti lewat jalur lain. Meskipun sering kesal juga dengan tuntutan institusi (yang versi saya) nggak masuk akal dengan fee yang mereka berikan.
Tahu-tahu kok hati saya plong sendiri. Wes benlah, saya akan ingat kata-kata itu. Gajinya kecil, tapi amal jariyahnya besar. Mana tahu justru itu yang kelak bawa saya ke surga. Biar nggak terlalu bikin kesal hati lagi. Atau seperti kata manajer saya, gaweyan dosen dianggap kerja bakti saja. Haish, kerja bakti kok tiap hari 😅😂
Pas giliran saya masuk toilet; saya gosok gigi, cuci muka, mengguyur seluruh tubuh dengan air biar nggak lengket keringat; lalu bersicepat memakai baju. Membereskan kerudung dan make up di luar toilet.
Pas sudah beres saya melihat lihat ke atas dulu. Seingat saya kawah Bromo ada di atas. Saya njur kasak kusuk nyari informasi dari orang-orang yang nawarin kuda dan ojek.
Kalau mau ke kawah Bromo, kita harus jalan kaki dan naik tangga-tangga. Sekira jalan naik ya perlu 30-40 menit. PP berarti wes sejam lebih. Foto-foto 10 menitan, berarti butuh waktu paling cepat 1.5 jam untuk bolak-balik kawah ke areal ini. Ada tukang kuda yang nawarin untuk nemenin kalau saya mau naik. Dia minta bayar 50 rb, sudah termasuk memotretkan.
Saya ngecek cara ke kawah Bromo itu karena di Itinerary nya Ceria ada tour ke kawah pas usai sarapan. Jam 7-9. Cuman karena semua wes telat molor dari awal, jelas ini nggak mungkin ke sana. Saya masih ingak inguk antara pergi ke kawah atau enggak. Kalau ada yang motretin gini malah karuan jelasnya.
Jam wes setengah 9, berarti free time-nya tinggal 30 menit. Repot kalau saya cuman setengah jalan ke kawah; dengan kaki yang rasanya wes gempor dihabiskan oleh Mbak Seruni.
Akhirnya saya memutuskan turun saja, nggak ke kawah. Kembali ke areal makan. Jumpa Bu Fifi katanya orang-orang eksplor di belakang tempat kami sarapan.
Ari Kinoysan Wulandari
Kadang dalam perjumpaan kita dengan orang yang nggak kenal, di situ kita seperti diingatkan untuk bersyukur.
Betul. Menohok, tanpa bisa kita protes