Bromo (2) Soal Bus dan Jeep

Bus yang kami pakai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sebelum ke Bromo, saya cek kesehatan dulu. Standar pribadi yang saya lakukan sebelum pergi ke areal berat (versi saya). Kalau dokter bilang kondisi saya nggak aman, saya pilih mundur. Kalau aman, saya berangkat. Begitu dokter bilang oke, wes nggak ada alasan nggak ikut ke Bromo. Meskipun setengah bulan hectic kegiatan, alhamdulillah kondisi saya prima.

Sabtu sejak pagi saya wes uleng dengan gaweyan kampus. Kalau sampeyan jadi dosen, percayalah wes nggak mungkin cuman nyambut gawe di kampus. Karena kudu bikin laporan, penelitian, pengabdian, bikin artikel ilmiah, buku ajar dan kruncilannya, koreksi dll, belum rapat-rapat yang bikin waktu habis.

Tahu-tahu wes jam dua siang. Inget belum packing untuk ke Bromo. Bagi yang sudah terbiasa pergi, packing ya gampang. Saya masukin baju dll keperluan, nggak sampai sejam. Lalu mandi dan beberes. Saya masih nonton film, ketika Tim Ceria upload di grup kalau bus sudah tiba di Jombor. Lha, jam berapa ini?

Baru jam tiga lewat. Kok rajin tenan ini kru busnya wes di titik kumpul. Padahal jam yang ditentukan jam 16 atau 4 sore. Jadinya saya ikutan bersegera dan meluncur. Walah, saya malah nongkrong berdiri di SPBU Adisutjipto sejam-an nungguin bus datang dari Jombor. Biasanya OT Ceria on time berangkat, kali ini karena 40 an orang; jadi sedikit mundur dari jadwal. Masih bisa dimaklumi.

Masuk bus, mulailah saya mengeluhkan beberapa hal. Lhah kok busnya kecil banget. Kaki saya yang nggak panjang bae gasruk. Terus kabin atas mung cilik, bawah kursi gak bisa untuk naruh tas besar. Untung backpack saya mung segitu, jadi masih muat ditaruh di bawah kursi. Cuman kaki saya jadi sulit gerak. Pas saya mulai duduk, langsung terasa kalau panas. AC nya nggak dingin sama sekali. Waduh, saya wes mulai resah. Jelas gakbisa tidur nanti kalau panas begini.

Besok-besok Ceria perlu memastikan armada dalam kondisi yang prima dan layak untuk orang dewasa standar. Ini berat banget lho buat mereka yang big size. Buat saya aja yang kecil, kursi sesak apalagi yang besar.

Mana begitu pas pulang dan hujan deras, bocor pula atapnya. Untung sebagian peserta sudah turun, sehingga bisa pindah kursi. Kalau enggak, pasti ada yang harus berdiri.

Kalau kru bus mantap banget. Drivernya nyetir cepat, stabil, dan lempeng. Pak kernet yo banyak membantu kalau ambil barang atau perlengkapan di bagasi. Ini keknya masalah armadanya yang besok-besok perlu dicek ricek ulang oleh Ceria.

Di rest area Sragen saya nggak makan minum, wes bawa bekal untuk malam sampai besok pagi. Karena di rumah pas wes ada, saya bawa aja. Lumayan menghemat sekali makan minum.😅

Saya terselamatkan oleh hujan pas malam, sehingga bisa tidur karena lebih dingin. Sudah fresh waktu tiba di rest area Sukapura. Itu sekira jam satu dini hari.

Semua peserta bebersih, ada yang makan minum, ganti piranti untuk ke Bromo. Saya yang merasa udara panas, sebenarnya wes feeling nggak usah bawa jaket untuk ke Bromo. Tapi melihat semua orang krubut-krubut jaketan, pakai slayer, topi, sarung tangan, saya kok ya tergoda bawa gitu lho…

Dan ternyata yo memang nggak kepake di saya. Malah piranti itu memenuhi tas saya hingga tarikan resletingnya terlepas embuh ilang di mana….

Versi saya sekarang Bromo nggak dingin lagi. Kalau hanya 17-20 derajat C itu cincay banget buat saya. Sehari hari di ruangan saya pakai setelan 16 derajat C paling nyaman. Adem.

Keluhan saya berikutnya ke tim Ceria yang membagi anggota regu jeep. Saya ada di jeep 4. Ini ada 6 orang dewasa dan disuruh pake 5 kursi. Terpaksa saya dan Bu Ana duduk berdua di samping sopir. Saya tersiksa sengsara betul gak bisa bergerak sejam lebih dengan medan jalan yang bikin jeep full disco njeduk-njeduk di kepala. Sakit semua.

Besok-besok kudu dicek itu, jeep nya kalau untuk anak-anak yo muat 6 orang. Kalau dewasa ya berilah 1 kursi untuk 1 orang. Pas balik pake jeep, saya wes gak mau duduk berdua. Terus akhirnya suami Bu Ana yang pindah ke jeep 2.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *