
Salah satu sisi atap Masjid Nabawi, Madinah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Indonesia negeri muslim terbesar di dunia. Dari 300an juta penduduk (cmiiw) sekitar 80 persen itu penganut agama Islam (atau sekitar 240 juta). Jumlah yang besar dan berasal dari berbagai ras, suku, latar belakang, organisasi keagamaan, pandangan politik, kelas sosial, pendidikan, warna kulit, dll yang berbeda-beda.
Jelas nggak sama pula pemahaman dan pandangannya tentang Islam. Ada banyak kaum alim ulama, banyak kaum terdidik dengan tradisi Islam kuat (lulusan pesantren-pesantren), banyak yang hafal Quran, dan tentu banyak pula yang awam serta nanggung.
Ada pula yang ekstrem fanatiknya, hingga lupa kalau mereka itu tinggal di Indonesia dengan ragaman penduduk yang berbeda dan nggak semuanya beragama Islam.
Di Indonesia, sudah banyak kasus berlatar agama yang digoreng sana sini hingga memunculkan kekisruhan yang merugikan umat Islam.
Pernah tahu warung atau resto yang rame laris manis, langsung kukut bangkrut begitu diisukan babi atau tikus? Atau dituduh syirik karena pake penglaris dan langsung sepi nyenyet?
Pernah mendengar keributan polemik lebar tentang halal (boleh) mengucapkan selamat natal atau haram (nggak boleh, dilarang)?
Pernah mengerti kasus “diam-diaman” warga sesama muslim gegara sholat Shubuh pakai Qunut dan yang nggak pakai? Atau keributan warga tentang sholat tarawih 11 rakaat (dengan witir) atau 23 rakaat (dengan witir)?
Pernah membaca kasus di pemakaman umum desa, warga muslim menolak pemakaman warga non muslim?
Pernah mendengar kasus warga menyapu, mengepel rumahnya setelah didatangi warga lain yang non golongannya (sesama Islam)?
Pernah tahu ibu ibu yang kecelakaan kesrimpet roda motornya gegara gamis nya over klengsreh lebar terkena angin dan masuk jeruji?
Sering dengar suara suara yang bilang kerja sama atau kerja pada nonmuslim itu duitnya haram, karena mereka sebut nama-nama Tuhan selain Allah.
Sering membaca komenan di sosmed, perempuan pakai bikini/baju renang two pieces di pantai (mayoritas publik figur) malah disuruhnya pakai jilbab menutup aurat?
Sering mendengar perlakuan ekstrem, sarkas atau menghakimi sebagian muslim lain gegara masih makan minum pizza hut, mcdonald’s, fanta, sprite, coca cola, starbuck dll yang dianggap pro zionis?
Dll kasus yang mestinya nggak bikin kisruh kalau kita punya tradisi crosscheck, apa ya istilahnya dalam Islam, tabbayun? (cmiiw) dan menghormati perbedaan karena pandangan dan pemahaman setiap muslim pun berbeda-beda terhadap Islam.
Lha mbok yakin, mayoritas umat Islam Indonesia itu Islam awam, karena keturunan, dan banyak pula yang Islam KTP.
Jadi yang merasa paham-paham Islam itu kalau baiknya kan ya memberi edukasi, membimbing biar muslim lainnya lebih mengerti. Bukannya malah menghakimi atau mutungan, memblokir, memutuskan silaturahmi hanya gegara hal-hal yang sebenarnya dia pun belum tentu tahu dasar-dasar pilihan orang lain.
Saya Islam sejak lahir karena bapak ibu saya Islam. Namun saya beneran memilih Islam secara sadar dan dewasa, setelah pencarian panjang saya akan Tuhan, itu sekira saat saya mau sarjana.
Sejak itulah saya berusaha “berislam dengan benar”, meskipun jelas masih banyak banget kurangnya, bolong-bolong ilmu, nggak paham ini itu, nggak sesuai aturan di sana sini. Saya yakin, Allah lebih tahu bahwa saya berusaha jadi muslim sebaik-baiknya mengikuti tuntunan Al Quran dan Hadis dengan teladan Nabi Muhammad SAW.
Yaa Robb, ampunilah semua dosa saya dan selamatkan saya lahir batin dunia akhirat. Yaa Rasulullah, saya mohon syafaatmu kelak di hari kiamat. Allahumma sholi ‘ala Muhammad wa ‘ala ‘ali Muhammad. Amiin YRA.
Dari banyak belajar, berguru, ikut pengajian, saya sepakat dengan anjuran “mudahkan dirimu dalam beragama”.
Salah satu nasihat yang saya ingat dari almarhum Mbah Moen, lebih kurang, “Kalau nggak kuat puasa Senin Kamis (sunnah) ya nggak usah puasa. Kalau nggak kuat tahajud ya nggak usah tahajud. Kalau nggak bisa sedekah banyak ya nggak usah sedekah banyak. Kalau nggak kuat ngaji (baca Quran) lama ya nggak usah ngaji lama. Kalau nggak mampu haji, ya nggak usah haji. Salah satu cara jadi muslim yang baik itu, milikilah hati yang baik.”
Nasihat sederhana yang isinya dalam banget, tapi terasa mudah dijalankan. Kita sebagai muslim hanya diminta memiliki hati yang baik. Padahal itu kalau dibreakdown atau dijabarkan, berarti kita harus baik dalam semua bidang kehidupan dengan segala aturan dan konsekuensinya.
Atau nasihat Gus Baha, lebih kurang, “Daripada kamu sholat tahajud tiap malam, lalu berdoa, terus sekian lama nggak kabul-kabul, kemudian kamu mempertanyakan keadilan Allah; lebih baik kamu malam hari tidur nyenyak, bangun pagi segar bugar, lalu mensyukuri nikmat Allah bisa tidur nyenyak.”
Nasihat yang mengutamakan kebaikan yang mudah daripada sesuatu yang terlihat baik, tapi njur bikin nggrundel atau mengeluhkan keadilan Allah.
Hidup beragama rasanya, versi saya jadi lebih mudah, lebih ringan. Beribadah sesuai kemampuan masing-masing. Pandangan kemudahan inilah yang dulu kala hingga sekarang tetap membuat saya “jatuh cinta” pada Islam.
Islam versi saya adalah agama yang penuh rahmat dan kasih sayang. Serangkaian aturan yang dirancang Allah untuk jadi panduan hidup yang mudah diikuti oleh setiap individu, dari berbagai latar belakang.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Ayat ini menegaskan bahwa prinsip dasar dalam Islam adalah kemudahan (taysir) dan bukan kesulitan (ta’sir).
Mari kita lihat, beberapa kemudahan dalam Islam yang saya ingat. Kalau kemudahan ini diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan beragama, pasti membawa kedamaian dalam kehidupan sehari-hari.
- Konsep Dasar Kemudahan dalam Islam
Kemudahan (taysir) adalah salah satu nilai inti dalam syariat Islam.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidaklah seseorang memberat-beratkan agama melainkan dia akan kalah (lelah). Maka bersikap luruslah, dekatilah kesempurnaan, dan bergembiralah.” (HR. Bukhari).
Penerapan kemudahan ini bukan berarti melonggarkan hukum atau mengabaikan aturan agama, tetapi menjadikannya seimbang dan relevan dengan kondisi manusia.
Prinsip ini mencakup aspek fleksibilitas dalam hukum syariat yang memungkinkan umat Islam bisa menjalankan agama dengan nyaman tanpa tekanan.
- Kemudahan dalam Ibadah
Islam memberikan kemudahan dalam pelaksanaan ibadah, terutama ketika seseorang menghadapi kesulitan.
Contohnya:
Sholat: Jika seseorang tidak mampu berdiri karena sakit, mereka diperbolehkan shalat sambil duduk atau berbaring.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sholatlah sambil berdiri, jika tidak mampu maka sambil duduk, dan jika tidak mampu maka sambil berbaring.” (HR. Bukhari).
Puasa: Dalam bulan Ramadan, umat Islam yang sakit, dalam perjalanan, atau tidak mampu berpuasa karena alasan tertentu diperbolehkan untuk menggantinya di hari lain atau membayar fidyah.
Wudhu dan Tayamum: Ketika air tidak tersedia atau tidak dapat digunakan karena alasan kesehatan, Islam memperbolehkan tayamum sebagai pengganti wudhu.
Prinsip-prinsip ini menunjukkan betapa Islam memahami keterbatasan manusia dan memberikan alternatif yang praktis untuk tetap menjalankan ibadah.
- Kemudahan dalam Muamalah (Interaksi Sosial)
Dalam aspek sosial, Islam mendorong keadilan, kebersamaan, dan fleksibilitas. Beberapa prinsip yang mencerminkan kemudahan dalam muamalah antara lain:
Hutang Piutang: Allah SWT berfirman:
“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia memperoleh kelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 280).
Jual Beli: Islam melarang segala bentuk transaksi yang merugikan, seperti riba, gharar (ketidakjelasan), dan penipuan.
Namun, prinsip dasar dalam jual beli adalah keadilan dan kemudahan bagi kedua belah pihak.
Pernikahan: Islam menganjurkan kesederhanaan dalam pernikahan untuk memudahkan umatnya menikah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah.” (HR. Abu Dawud).
- Kemudahan dalam Menyikapi Perbedaan
Islam adalah agama universal dengan umat dari berbagai latar belakang budaya, bahasa, dan tradisi.
Dalam konteks ini, Islam mengajarkan toleransi dan kemudahan dalam menyikapi perbedaan:
Ijtihad dan Fatwa: Ketika tidak ada nash (teks Al-Qur’an atau hadis) yang jelas mengenai suatu masalah, ulama melakukan ijtihad untuk memberikan solusi yang relevan dengan kondisi zaman dan tempat.
Toleransi dalam Mazhab: Umat Islam dianjurkan untuk menghormati perbedaan pendapat antar mazhab dan tidak saling mencela.
Hubungan Antaragama: Islam mengajarkan untuk hidup berdampingan dengan damai dengan pemeluk agama lain.
Allah SWT berfirman:
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam).” (QS. Al-Baqarah: 256).
- Kemudahan dalam Menghadapi Ujian Hidup
Islam juga memberikan kemudahan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan, baik yang bersifat fisik, mental, maupun spiritual.
Beberapa cara Islam membantu umatnya meliputi:
Doa dan Zikir: Islam mengajarkan umatnya untuk selalu berdoa dan berzikir sebagai cara untuk mendapatkan ketenangan hati.
Pahala atas Kesabaran: Dalam hadis disebutkan bahwa ujian yang menimpa seorang Muslim dapat menjadi penghapus dosa jika dia bersabar dan bertawakal kepada Allah.
Keringanan dalam Syariat: Contohnya, seseorang yang tidak mampu berhaji karena kondisi finansial atau fisik tidak diwajibkan untuk menunaikannya.
- Kesalahpahaman tentang Kemudahan dalam Islam
Kemudahan dalam Islam kadang disalahartikan oleh sebagian orang sebagai kebebasan tanpa batas. Namun, penting untuk memahami bahwa kemudahan dalam Islam tetap berada dalam koridor syariat.
Rasulullah SAW bersabda:
“Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, ia telah menjaga agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kemudahan bukan berarti melanggar aturan atau mencari jalan pintas yang bertentangan dengan ajaran Islam.
- Implementasi Kemudahan dalam Kehidupan Sehari-hari
Berikut adalah beberapa cara praktis untuk mengimplementasikan prinsip kemudahan dalam kehidupan sehari-hari:
Beribadah sesuai kemampuan: Fokus pada kualitas ibadah, bukan hanya kuantitas.
Menghormati perbedaan pendapat: Jangan memaksakan pandangan pribadi kepada orang lain.
Menghindari sikap ekstrem: Bersikap moderat dalam menjalani agama agar tetap konsisten.
Memanfaatkan teknologi: Menggunakan aplikasi atau media digital untuk memudahkan belajar agama, seperti membaca Al-Qur’an, mendengarkan kajian, atau mengikuti kelas online.
Sungguh saya mengakui, Islam adalah agama yang menawarkan kemudahan. Prinsip taysir ini adalah bukti nyata bahwa Allah SWT menciptakan syariat sebagai panduan hidup yang fleksibel dan relevan dengan kebutuhan manusia.
Dengan memahami dan mengamalkan prinsip kemudahan ini, umat Islam dapat menjalani agama dengan lebih damai, seimbang, dan bahagia.
Mari kita jadikan prinsip kemudahan dalam beragama ini sebagai inspirasi dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya agar kita dapat menjadi individu yang taat beragama tanpa merasa terbebani, serta mampu menghadirkan kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain.
Ada banyak perbedaan pandangan, sikap, dan pilihan orang akan aturan Islam. Kalau itu semua ternyata berbeda dengan pandangan, sikap, dan pilihan kita; menurut saya, kalau tidak mengganggu kedamaian bersama; mari kita hargai saja.
Sungguh celakalah kita kalau menganggap diri lebih baik dari orang lain. Karena itu sudah termasuk dalam sikap sombong. Dan disebutkan dalam Islam, tidak akan pernah masuk surga orang yang di hatinya ada sedikit saja sikap sombong. Wallahua’lam.
Ari Kinoysan Wulandari
Tulisan yang mencerahkan dan bikin adem
Terimakasih Bu… Semoga bermanfaat