
Salah satu kampus di Singapura. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Usai makan minum, saya berdoa dan sholat di pesawat. Meminta air pada pramugari dan kembali tidur. Beneran tidur yang nyenyak. Bangun lagi untuk makan snack dan sholat. Tidur kembali sampai terdengar pemberitahuan pesawat hendak mendarat. Changi, Singapura.
Karena tidur saya tidak tahu apa yang terjadi di kiri kanan saya selama di pesawat. Begitu turun dan masuk areal bandara, saya langsung izin ke toilet. Bebersih badan, ganti baju, dan kembali ke rombongan. Badan saya terasa lebih bugar dan fresh.
Keributan jamaah perkara haus nggak diberi air minum masih saya dengar. Saya mengarahkan mereka untuk ambil air minum yang ada di bandara.
Saya melewati imigrasi rada lama. Di sini imigrasinya sudah otomatis; tinggal scan paspor, foto, sidik jari, dan keluar. Karena badan saya yang belum tinggi itu 😅 kamera otomatis tidak bisa mengidentifikasi keseluruhan wajah saya. Pas berangkat ada petugas, jadi kamera langsung disetel lebih rendah. Kali ini nggak ada petugas. Saya ke office nya, baru kamera disetel seukuran tinggi badab saya dan bisa keluar dari imigrasi. Heish, besok-besok pakai sepatu hak tinggi ya, Ri 😂😅
Kami dijemput TL Singapore, Pak Rusli dan Mbak Mayra. Dibawanya kami ke areal Jewel Changi. Agak lama juga kami di sana. Saya siy happy saja.
Negeri yang nggak ada separohnya kota Surabaya ini, adalah Negeri Jiran pertama yang di tahun 2006-2007 bikin saya jatuh cinta untuk tinggal.
Negeri yang bersih, rapi, tertib, dan cantik. Sempat terpikir kalau biaya hidup di sini setara Jakarta saja, saya wes sejak lama pindah kewarganegaraan.
Sayang, biaya hidup di sini sangat mahal. Kalau Jakarta biaya hidupnya 6-10x biaya hidup di Jogja, maka Singapura 6-10× biaya hidup di Jakarta.
Kalau ada transit internasional; saya lebih memilih Singapura daripada bandara lainnya. Singapura memberi gambaran pada saya tentang tata kota yang sangat efektif.
Lepas dari Jewel, kami menuju restoran Padang sekalian sholat Dhuhur. Saya kira dengan budget yang sangat ringan di Dewangga itu, city tour Singapura akan berlangsung singkat, makan dengan nasi box dan tidak menginap. Ternyata enggak.
City tour seharian sampai jam 8 malam. Makan siang tersaji model orang Padang makan dengan aneka menu di meja. Masih menginap semalem di hotel yang bagus di areal wisata, masih dapat nasi box makan malam dan nasi box sarapan keesokan paginya.
Biyuuu… wes hitunglah sendiri itu… saya merasa ini bonus berlimpahan. Kalau sampeyan biasa jalan atau traveller, westalah bisa menghitung sendiri charge wisata hari itu. Terlebih Singapura bukan tempat yang murah untuk jalan-jalan.
Dari makan siang, kami ke Merlion Park. Tempat patung singa mancur😆😅 (istilah saya sendiri), ikon Singapore yang wes bertebaran di mana mana. Konon nggak ke Singapura kalau kamu nggak foto di situ. Karena wes bolak-balik ke Singapura, saya malahan banyak eksplore sudut-sudut yang sepi pengunjung. Menikmati Singapura dari sisi yang lain.
Usai dari sana, kami ke Universal Studio. Wes, gembira betul saya. Berkeliling dan foto-foto seolah nggak berasa lelah lagi kaki saya. Alhamdulillah. Sebagian kami ada yang belanja belinji. Boneka, sovenir, kaos, dll. Sampai malamlah kami baru keluar areal itu.
Sekitar jam 8 kami tiba di hotel. Pembagian kunci kamar (sekamar berdua) dan nasi box untuk makan malam. Beberapa dari kami masih shopping di sekitaran hotel setelah memasukkan bawaan ke kamar.
Masalah muncul saat saya tahu, kawan sekamar saya (sebut saja Bu J); selain tidurnya mendengkur, harus lampu terang, AC pun harus mati. Pengap sesak rasanya di saya; sementara dia tidur sesengguran mendengkur.
Saya masih belum bisa tidur, ketika Bu J ini bangun dan bolak-balik ke kamar mandi. Lalu dia bilang mau ke sebelah (kawannya ada di kamar sebelah). Nggak lama Bu J balik lagi. Kelihatan resah dan tidak nyaman.
Saya tanya kenapa, Bu J bilang masuk angin. Biasanya dikerok. Saya menawarkan diri mengerokinya. Lama itu sampai sekujur punggungnya merah-merah, lalu dia muntah-muntah. Saya memberinya air minum dan kelihatannya setelah itu dia lebih tenang. Saya menyuruhnya tidur agar cepat sehat.
AC saya nyalakan dengan temperatur paling panas agar tidak pengap. Pas Bu J sudah tidur, saya turunkan ke level dingin.
Baru saja saya tertidur, badan saya sudah diguncang-guncang dengan keras. “Ayo Bu Ari, berangkat. Nanti kita telat!”
Saya melek dan melihat HP, belum jam 2 dini hari. Astaga…!
“Bu, kita keluar kamar jam 4. Boarding jam 7. Nanti saya bangunkan!”
Saya berusaha tidur lagi, tapi wes nggak bisa. Mung bisa scrolling HP sampai pagi. Wes, beneran gangguan tidur. Pagi-pagi saya mandi dan bersiap-siap. Jam 3 lewat saya wes keluar kamar. Membantu ibu ibu yang beribetan ngisi form beacukai, kesehatan, imei.
Kami mendapatkan nasi box lagi pagi itu saat keluar kamar hotel. Tapi saya taruh saja karena rasanya masih kenyang dan ke Jogja nanti sebentar saja, bisa langsung cari makan di YIA.
Begitu masuk pesawat, saya tidur. Membayar gangguan tidur di kamar hotel. Saya bangun ketika sudah mendengar pemberitahuan pesawat hendak mendarat di YIA.
Alhamdulillah, Jogja. Begitu seru saya pas keluar dari pesawat. Proses imigrasi lumayan gampang. Saya nggak bisa langsung pulang. Kudu nungguin bagasi dan air zamzam yang sedang diurus TL.
Ealah, di sini lho sudah mau pulang itu, kami masih diberi nasi box lagi. Alhamdulillah. Niy Dewangga beneran mantap kok support layanannya.
Kali ini saya makan, karena ya wes lapar terus masih rada lama nungguin bagasi. Selesai makan, pas adik saya wes menjemput dengan mertua dan dua tetangganya. Ponakan saya si Mail nanti kami samperin saat mau balik.
Alhamdulillah. Saya pamitan pada semuanya. Saya wes nggak ngelihat keberadaan Bu X. Embuh nggak tahu ke mana. Seinget saya, Bu X juga mo ikut bus rombongan Dewangga yang balik ke kantor.
Saya sempat bilang Bu B kalau foto-foto Bu X di HP saya (yang kalau minta fotonya maksa dan nggak mau pake HP nya sendiri) sudah saya kirim semua ke nomor Bu X. Mbok ya respon oke ajalah kalau nggak mau terimakasih. Bu B bilang, “Kalau Saya takbuang delete saja, Bu Ari. Dia aja nggak peduli kok.”
Saya cuman tersenyum, sebelum mengekori adik saya yang mendorong troli isi barang barang dan bagasi bawaan saya. Mungkin benar kata orang, saya terlalu baik…
Ari Kinoysan Wulandari