Lokakarya Publikasi Ilmiah, Selalu Ada Saat Pertama

Flyer lokakarya publikasi ilmiah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya mengisi kelas atau workshop penulisan dari tahun 2000 hingga sekarang 2026, sudah nggak terhitung, sudah berkali-kali. Untuk berbagai kalangan dari anak-anak piyik SD, SMP, SMA, mahasiswa PTS/PTN, pesantren-pesantren, institusi swasta/pemerintah, hingga kalangan masyarakat umum dari berbagai komunitas. Sharing yang saya berikan beragam; bisa tentang penerbitan buku, menulis buku, menyunting naskah buku, menulis skenario, bimbingan teknis menulis, menulis beragam karya populer (cerpen, novel, novelet, sastra, artikel, esai), dll yang berkaitan dengan industri kreatif. Serasa wes tahu betul apa yang harus saya sampaikan karena jadi makanan sehari-hari saya. Dari kelas gratis, berbayar ringan, sedang hingga eksklusif sangat mahal yang per gundulnya saja bisa kena charge dua digit.

Lalu beberapa waktu lalu, datanglah WA dari sahabat saya, kawan waktu studi S3 tentang permintaan mengisi kelas. Saya baca betul, itu tentang penulisan dan publikasi karya ilmiah. What? Saya mikir untuk menolaknya. Betul, saya juga dosen dan melakukan publikasi ilmiah, tapi rasanya masih terlalu dini untuk boleh sharing.

Publikasi ilmiah saya masih ada di range 20-an artikel, itupun nggak semuanya sebagai penulis pertama. Ada publikasi internasional yang baru terindeks Copernicus, bukan Scopus. Sementara publikasi nasional saya tertinggi baru terindeks Sinta 2. Mayoritas Sinta 3,4,5,6. Versi saya masih jauh dari kapasitas untuk boleh “memberikan pengajaran”. Namun mengingat bentuk kerja sama antar kampus dan dulu kawan ini juga sudah mengisi seminar di tempat saya, sungguh nggak etis menolak atau mengalihkan ke dosen lain.

Akhirnya, bismillah saya memutuskan untuk menjawab iya. Dan sejak saat itu, saya belajar serius untuk membuat materi yang berkaitan. Lebih kurang 20 slide. Satu ppt terlama yang saya buat; karena tiap slide materi saya pikirin betul, membaca berulang materi, merangkum, mengabstraksi, belajar menerangkan, dll sampai selesai. Butuh effort yang jauh lebih banyak dibandingkan mengisi kelas-kelas lainnya.

Alhamdulillah, selesai sudah ppt nya dan saya sekurangnya “pede” membawakan materi. Masalah kemudian muncul, ketika saya menerima link diskusinya Microsoft Team, ya ampun, itu aplikasi belum pernah saya pakai dan saya nggak familiar. Saya sudah minta ganti zoom, tapi itu ternyata langganan kampus Unram. Akhirnya saya belajar lagi, googling, nanya sana sini, dan yach kayaknya setipe saja dengan lainnya. Saya meminta ada operator untuk share slide karena ini masih bikin saya bingung.

Tiba hari H, ya ampun saya kek mahasiswa yang mau ujian. Masuk ruang online pagi betul, belum dibuka oleh host. Siap-siap kali ini lebih dari sejam saya. Mandi pagi-pagi, memilih baju terbaik, dandan rapi-rapi, sarapan cukup, menyiapkan minum manis di samping laptop saya agar nggak grogi. Astaga…. ya ampun Ari, ini bukan kali pertama kamu ngisi kelas online. Saya sampai buka dan baca berulang materi. Bismillah, ya Allah mudahkan.

Wah, saya agak tenang ketika wes mulai acara, sambutan. Hiperbola Pak Sahar bikin hati saya ketawa aja. Ya industri sinetron dan film itu memang bikin orang cepat kaya, sekaligus cepat nyungsep kalau manajemen diri dan manajemen keuangan nggak bagus. Dan saya terkejut sendiri ketika disebut oleh Bu Wadek FIB Unram bahwa Google Scholar saya indeks nya mencapai angka 19.

Apa maksudnya, hingga kini saya juga nggak terlalu paham. Versi saya, itu ya biasa saja karena nggak nambah cuan buat penulisnya. Haaaiish matre banget saya 😂🤣 Realitanya, indeks itu nggak bisa buat bayarin tiket pesawat saya piknik… Hehe…. ya weslah pokoknya berkarya terus sebaik-baiknya.

Dan jeng-jeng…. tiba waktunya bagi saya untuk mendongeng. Tenan to, problem yang terjadi masalah sharing materi. Untung IT nya canggih sat-set langsung bantu share materi… wes aman lah. Meskipun saya masih berasa “kesal” dalam hati, karena sudah saya utak-atik pengaturannya tetep bae gambar saya burem…. Lah ya sudah dandan cantik-cantik jee, kok nggak bisa difoto 🤣🤣 Haizh, masih untunglah suara saya aman didengar teman-teman mahasiswa.

Rampung, selesai. Saya yakin cukup detail dan runtut. Saya siy berharap nggak ada pertanyaan, eh ternyata ada. Angil-angil pula… tiga pertanyaan yang mumetke, jadi saya kudu mikir buat jawab. Keren-kerenlah mahasiswa Unram. Dibuka sesi dua, doa saya kenceng jangan ada yang nanya lagi🙈🙏 Syukurlah, sudah nggak ada pertanyaan. Alhamdulillah rampung. Usai keluar ruangan, saya langsung tarik nafas panjang. Lega. Plong wes rampung. Alhamdulillah.

Saya wes nggak mikir lain-lain. Beberapa hari sebelumnya ada diminta Pak Sahar kirim foto KTP dan NPWP. Cuman karena nggak diminta no rek, saya yo wes nggak berpikir soal honor. Boleh tanya siapa saja yang mengundang saya, saya nggak pernah nanyain soal honor. Pokoknya kalau di luar kota apalagi luar pulau, saya memastikan tiket pp dan akomodasi wes aman, honor wes mengikuti saja. Bahkan kalau pun nggak ada honor nya hanya ditanggung tiket pp dan akomodasi; saya wes bilang sanggup bisa, ya tetep akan berangkat.

Itu bagian dari CSR saya sebagai penulis, kalau nggak ngajar ilmunya bisa makin tumpul. Karena mengajar itu berarti harus sudah belajar. Pernah ada yang meminta saya mengajar gratis. Terus saya bilangin, “Mas, jangan ngomong gratis. Ngomong aja nanti dicharge dengan makan bersama.” Ini untuk menjaga agar energi tetap seimbang. Nggak ada makan siang gratis. Usai kelas, pas makan malam malah sahabat saya (yang kebetulan ikut nganter saya) yang mbayari makan malam saya dan rombongan 10 orang (peserta kelas). Jadi peserta untung ganda, belajar di kelas dan ditraktir makan 😀

Lah kalau kelas online begini, saya lebih santai. Bisa dari rumah, wifi unlimited, sarpras wes ada komplet, ya cincailah. Wong cuma ngisi kelas sebentar bae. Lho bubar kelas diminta kirim no rek. Wah, alhamdulillah pikir saya. Setelah itu saya njur telponan dengan ponakan saya, karena pagi pada mau minta makan siang di ayam crispy. Tapi karena jadwal nggak sinkron, saya bilang ke mereka minta ibunya saja bawain ayam crispy pas pulang kantor atau pesan online.

Saya njur tidur. Beneran tidur pules. Nggak tahu honor wes dikirim dan baru sadar saat bangun terima bukti transfer. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Rezeki nggak terduga. Dan saya sudah nggak akan khawatir lagi mengisi kelas-kelas publikasi karya ilmiah. Tantangan untuk saya, tinggal memperbanyak publikasi Sinta 1-2 dan Scopus Q1-Q4 agar nilai kuliah saya lebih berharga. Kan pede ngisi kelas kalau disebutkan publikasi Q1 sekian artikel, Q2 sekian artikel, Sinta 1 sekian artikel, Sinta 2 sekian artikel.

Ya seperti saya ringan saja kalau ngisi kelas tentang buku, karena buku saya di penerbit mayor wes ada 150 judul dengan 90 an judul masih aktif (beredar dan diperjualbelikan secara komersial). Saya yo tenang saja ngisi kelas skenario karena sudah ratusan skenario saya urusi dan masih terlibat aktif di bidang ini sampai sekarang. Saya nggak grogi ngisi kelas penyuntingan, karena wes ratusan buku saya edit. Nguji skripsi mahasiswa film dan televisi ya biasa aja, karena itu bidang yang saya tekuni lebih dari 10 tahun tanpa jeda. Intinya, versi saya mengajar dari pengalaman itu jauh lebih mudah daripada hanya sekedar menguasai teori.

Sekali lagi, maturnuwun Pak Sahar dkk Tim Dosen FKIP Unram. Terimakasih mahasiswa Bastrindo FKIP Unram. Sampai jumpa lagi.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *