
Berada di alam juga salah satu “surga” yang biasa saya ciptakan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Hidup nggak selalu mudah. Pasang surut kehidupan selalu kita alami. Kadang kesulitan lebih sering menghampiri dibandingkan kemudahan. Kecuali bagi mereka yang sudah dari kakek moyangnya golongan konglomerat, mungkin nggak kenal kata kesulitan.
Hampir setengah abad, hidup saya pun beragam warna. Mudah, senang, bahagia, beriringan dengan segala masalah dan tantangannya. Namun di tengah-tengah kesulitan itu, saya biasa menciptakan “surga” untuk diri sendiri.
Bagi saya, ketika sudah lelah bekerja membereskan banyak urusan; lalu bisa duduk nyaman mojok di perpus, rumah, atau kafe selama lebih kurang 2 jam baca novel tanpa gangguan hingga selesai, bagi saya itu “surga”. Atau boleh nonton film terbaru di bioskop tanpa direcoki siapapun, itu juga “surga”.
Hal-hal yang membawa kegembiraan dan kebahagiaan, bagi saya adalah “surga” yang harus kita ciptakan, di tengah hiruk pikuk kehidupan. Mungkin saja, bagi orang lain surga itu bercengkerama dengan pasangan, bermain bebas dengan anak tanpa gangguan telepon kantor, mengajak si anjing piaraan keliling komplek, memasak roti dengan resep terbaru, menjahit baju, berenang, dll yang saya yakin tiap orang punya kebiasaan berbeda.
“Kalau nanti masalah ini selesai, aku akan bahagia.”
Kalimat itu mungkin pernah terlintas di benak kita. Kita sering nungguin gaji naik, anak lulus sekolah, utang lunas, kesehatan membaik, atau keadaan jadi lebih mudah. Kita sering kali menunda kebahagiaan sampai semua persoalan selesai. Sayangnya, hidup jarang berjalan seperti itu.
Saat satu masalah selesai, masalah lain datang menyapa. Setelah satu tujuan tercapai, muncul tujuan berikutnya. Jika kebahagiaan selalu ditaruh di ujung perjalanan, kita bisa menghabiskan hidup dengan terus menunggu.
Padahal, kebahagiaan nggak selalu ditemukan ketika semua keadaan sempurna. Sering kali, kebahagiaan lahir dari kemampuan menciptakan “surga kecil” di tengah hidup yang nggak sempurna.
Setiap orang memiliki beban dan ujian yang berbeda. Ada yang sedang berjuang membayar cicilan. Ada yang menghadapi konflik keluarga. Ada yang bekerja keras tapi penghasilannya pas-pasan. Ada yang bergumul dengan penyakit. Ada pula yang tampak tersenyum di luar, tapi diam-diam menyimpan kesedihan yang nggak diketahui siapa pun.
Kesulitan adalah bagian dari kehidupan manusia. Nggak ada seorang pun yang benar-benar bebas darinya. Namun, yang membedakan seseorang bukanlah ada atau enggaknya masalah, tapi bagaimana cara dia menjalani hidup di tengah masalah tersebut.
Ada orang yang tetap mampu tertawa meskipun hidupnya nggak mudah. Ada pula yang memiliki banyak kemudahan tapi merasa hidupnya hampa. Kebahagiaan ternyata nggak selalu ditentukan oleh kondisi luar. Bahagia justru ditentukan oleh cara kita memandang dan menjalani kehidupan.
Menciptakan surga sendiri bukan berarti berpura-pura bahwa hidup baik-baik saja. Bukan pula menolak kenyataan bahwa kita sedang menghadapi kesulitan. Menciptakan surga sendiri berarti menemukan hal-hal yang masih layak disyukuri di tengah keterbatasan.
Saat hujan masalah datang bertubi-tubi, kita sering hanya melihat apa yang hilang. Kita lupa melihat apa yang masih kita miliki, seperti masih bisa bernapas dengan lega, masih memiliki keluarga yang peduli,
masih mampu berjalan, bekerja, membaca, dan belajar; masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
Hal-hal yang tampak biasa itu sebenarnya merupakan anugerah yang luar biasa. Syukur memang nggak menghilangkan masalah, tapi bikin hati lebih lapang.
Kita hidup di zaman yang sering mengajarkan bahwa kebahagiaan harus besar, mewah, dan spektakuler. Padahal, banyak kebahagiaan justru bersembunyi dalam hal-hal sederhana; secangkir kopi hangat di pagi hari, obrolan ringan dengan sahabat, tawa anak-anak di rumah, baca buku yang disukai, menikmati angin sore setelah seharian bekerja, memandang langit senja yang perlahan berubah warna.
Semua itu nggak membutuhkan biaya mahal. Namun, sering kali justru di situlah letak ketenangan yang sesungguhnya. Orang yang mampu menikmati hal-hal sederhana memiliki cadangan kebahagiaan yang nggak mudah habis. Ia nggak perlu liburan mewah atau pencapaian besar untuk merasa hidupnya berharga.
Kesalahan yang sering kita lakukan adalah membiarkan satu masalah mendominasi seluruh kehidupan. Ketika mengalami satu kegagalan, kita merasa hidup sepenuhnya gagal. Ketika menghadapi konflik, kita merasa nggak ada lagi yang baik dalam hidup.
Padahal, hidup selalu lebih luas daripada satu persoalan. Mungkin pekerjaan sedang sulit, tapi keluarga masih mendukung. Mungkin kesehatan sedang menurun, tapi persahabatan tetap menguatkan. Mungkin keuangan sedang terbatas, tapi masih ada kemampuan untuk berkarya dan belajar.
Kesulitan memang nyata, tapi jangan biarkan kesulitan menjadi satu-satunya cerita yang kita baca dari kehidupan. Masih ada halaman-halaman lain yang menyimpan harapan.
Media sosial sering membuat kita merasa hidup orang lain lebih indah daripada hidup kita. Kita melihat foto liburan mewah mereka, pencapaian prestasi mereka, rumah indah mereka, keluarga mereka, dan keberhasilan mereka. Yang nggak kita lihat adalah perjuangan, air mata, kegagalan, dan kecemasan yang mungkin juga mereka alami.
Ketika terlalu sering membandingkan diri, kita kehilangan kemampuan menikmati apa yang ada di depan mata. Kita sibuk mengagumi taman milik orang lain sampai lupa merawat taman sendiri. Padahal, surga yang kita cari mungkin sedang tumbuh perlahan di halaman kehidupan kita. Banyak orang menghabiskan energi untuk mengubah keadaan, tapi lupa merawat hati.
Padahal, hati yang damai sering kali lebih berharga daripada keadaan yang sempurna. Merawat hati bisa dilakukan dengan banyak cara:
- Berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
- Membaca buku yang menginspirasi.
- Menulis jurnal syukur.
- Berolahraga secara teratur.
- Mengurangi paparan hal-hal yang membuat pikiran negatif.
- Menjalin hubungan dengan orang-orang yang membawa energi positif.
Hati yang terawat akan lebih kuat menghadapi badai kehidupan. Banyak orang mengira kebahagiaan adalah hadiah yang datang begitu saja. Padahal, kebahagiaan juga merupakan keterampilan yang perlu dilatih.
Mungkin saat ini hidupmu belum ideal. Masih ada tagihan yang harus dibayar. Masih ada masalah yang belum selesai. Masih ada doa yang belum terjawab. Tetap, ciptakan surgamu sendiri. Temukan alasan untuk tersenyum meskipun hidup belum sempurna. Nikmati secangkir teh hangat, peluk orang-orang yang kamu sayangi, syukuri napas yang masih diberikan, dan rayakan langkah-langkah kecil yang berhasil kamu lalui.
Karena sesungguhnya, surga kecil dalam kehidupan bukanlah tempat tanpa masalah. Surga kecil itu adalah kemampuan untuk tetap menemukan keindahan, makna, dan rasa syukur di tengah segala keterbatasan. Dan ketika kita mampu melakukannya, hidup yang sederhana pun dapat terasa begitu kaya.
Ari Kinoysan Wulandari
