
Masjid Nabawi yang akan selalu ada di hati. Ari Kinoysan Wulandari.
Kegiatan ibadah berikutnya adalah thawaf perpisahan. Biasanya pada kesempatan ini, mereka yang “beruntung” bisa mencium Ka’bah, Hajar Aswad, Maqam Ibrahim, Multazam, sholat di Hijir Ismail, dll tempat utama di sekitar Ka’bah. Saya sebut beruntung karena ya memang nggak setiap orang bisa mendapatkannya. Kadang-kadang ada yang sampai berjuang mati-matian pun nggak bisa dapet. Tapi ada yang lempeng, santai aja, langsung bisa mendapatkannya.
Di umroh-umroh sebelumnya karena alhamdulillah wes dapat semua dengan lempeng, saya (masih sering) takjub juga dengan karunia Allah yang luar biasa itu. Karena di tengah kerumunan orang sebegitu banyaknya, kok bisa ya dengan enteng saja mencium Kabah, mencium Hajar Aswad, menyentuh mengusap mencium Maqam Ibrahim, mengusap Multazam, sholat di Hijir Ismail, berdoa sebanyaknya dan nangis puas-puas di areal ini.
Saya pernah rerasan soal ini dengan Mas Dokter; biasanya kalau dalam keseharian kita jadi orang yang “entengan”, gampang menolong, mudah membantu, ndilalah pas di Tanah Suci itu apapun urusan kita ya jadi mudah, gampang saja. Bahkan untuk urusan ambil air Zam-Zam itu, bisa lho di tengah antrian yang begitu banyak orang, tahu-tahu aja satu tempat kosong dan kita bisa mengambilnya dengan mudah.
Kalau yang saya alami malah diambilkan oleh petugasnya, dicukupkan semua thumbler yang saya bawa (saya mengambilkan untuk beberapa orang). Setipe dengan yang dialami Mas Dokter. Padahal nggak sedikit orang yang kesulitan, yang dilarang ambil banyak air Zam-Zam oleh petugas. Wallahu’alam.
Versi saya, kita niy ya memang dituntut berbuat baik terus menerus sepanjang hayat. Mo besar kecil, mari kita terus berbuat baik. Karena “amalan baik” itu nggak cuma ibadah ritual seperti sholat, umroh, zakat, haji, puasa, dll. Tapi juga hal-hal sepele tapi penting, seperti menyingkirkan batu di tengah jalan.
Karena pemikiran itulah, ketika saya nggak bisa maksimal ritual ibadah karena kondisi kesehatan, njur melakukan hal terbaik lainnya dengan totalitas. Uang-uang yang sedianya mau untuk jajan dan belanja, berganti arah untuk berbagi ke OB-OB yang berada di sekitar mesjid. Sebagian saya belikan makanan dan saya bagikan begitu saja ke orang-orang entah dari mana. Sebagian berubah untuk sedekah Al Quran. Dan agak niat juga saya beli makanan burung 😂😅 Selain itu, doa dan dzikir saya jadi lebih banyak.

Areal Kabah. Tempat yang selalu ingin saya kunjungi setiap waktu. Ari Kinoysan Wulandari.
Pokoknya kalau versi saya nggak ada alasan, satu kondisi melemah njur merusakkan semuanya. Yo wes, saya beribadah lainnya yang saya pahami boleh dan bisa. Kita toh nggak pernah dituntut “berhasil”, tapi diminta untuk “berusaha” sekuatnya. Dan sunatullahnya kalau kita berusaha mati-matian, nggak mungkinlah nggak ada hasil baiknya. Sudah hukum alamnya begitu.
Itulah sebabnya pas ditanya oleh Bu Yaya dan Bu Prapti, bahwa saya pasti kesal, marah, jengkel dengan kondisi saya; lempeng saya menjawab, iya normally begitu. Belum bisa saya otomatis nggak jengkel, sudah sampai Mekkah malah ngedrop dan nggak bisa bolak-balik umroh? Tapi setelah menyadari bahwa saya nggak punya “harapan” apapun atas sesuatu, semuanya jadi lebih enteng. Saya tetap bisa mengikuti kegiatan lainnya dengan gembira, senyum lebar. Menyadari sepenuhnya saya nggak bisa “mendikte” takdir. Ditambah keyakinan bahwa Allah sudah mengatur semua dengan sebaik-baiknya. Jadi terasa ringan betul urusan hidup saya.
Setelah semua usaha saya lakukan, versi saya “berserah” adalah kunci kedamaian hati. Terkadang rencana kita memang nggak berjalan mulus; mungkin jatuh sakit, kehilangan barang, atau terjebak kerumunan sehingga nggak bisa mewujudkan rencana kita, dll. Berserah berarti meyakini bahwa apa yang terjadi adalah yang terbaik menurut Allah. Berserah berarti mengakui bahwa kita hanyalah hamba yang kecil dan fakir di hadapan-Nya.
Dibandingkan umroh-umroh sebelumnya, kali ini saya bisa menangkap makna, “Lakukan yang terbaik seolah semua tergantung pada usahamu, lalu berserahlah seolah semua tergantung pada doa-doamu.”
Saya lebih banyak berdiskusi dengan hati saya. Merasakan kalau Allah itu beneran dekat, baik saat khusyuk berdoa maupun saat sedang berdzikir. Semua adalah bagian dari ibadah jika dilakukan dengan ikhlas. Dan baru kali ini, saya terkaget-kaget dengan cepatnya pengabulan doa.
“Ri, HP-ku hilang di Bangkok. Semua data dan foto penting, doakan bisa kembali dengan selamat.” Begitu kata kawan saya yang berada di KL. Begitu saja saya berdoa, dan dalam hitungan nggak sampai sejam, semua sudah terkondisikan dengan baik. HP-nya tertinggal di taksi Bangkok, saat ditelpon ngomongnya bahasa Thai yang tidak dipahami kawan saya; dan baru beres ketika disambung bicara orang Thai yang bisa berbahasa Indonesia. HP akan dibawakan serta saat orang Thai ini ke Indonesia. Subhanallah.
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari
