
Saat mau berangkat umroh di seberang lokasi WC 3, Masjidil Haram. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Jujurly, emosi saya wes nggak stabil saat mulai masuk kereta api cepat. Saya dapat copy print tiket dengan nama, no kursi, perhentian, durasi, dll nya. Begitu masuk, tentu dong nyari nomor. Ternyata paling ujung belakang. Lhah wes ditempati. Saya bilang kalau itu kursi saya. Tapi niy lelaki menolak pindah, mungkin dia lebih senang di sisi jendela. Piye toh? Saya tunjukkan tiket, baru mau pindah. Oke, saya kira masalah sudah selesai. Tapi njur ada reribetan di kursi deretan sebelah, seorang perempuan yang duduk di sisi jendela, tidak mau diminta pindah oleh lelaki yang baru datang. Beribetan entah apa dalam bahasa Arab, pokoknya si perempuan akhirnya pindah posisi. Lalu beribetan dengan lelaki di sebelah saya dan akhirnya pindahlah dia di sisi saya.
Saya sebenarnya merasa lega karena sesama perempuan. Tapi di situlah masalahnya. Niy si makhluk betina ya ampun, berisik ngobrol di telepon dengan suara cukup keras. Saya menegurnya agar lebih pelan. Tapi nggak mempan. Hampir dua jam saya di kereta nggak bisa tidur karena omongannya yang ribut berisik melulu di sepanjang perjalanan. Ya Gusti, yang nggak tahu adab dan etika telepon di kendaraan umum nih ternyata nggak cuma di Jakarta (paling sering), tapi juga di Madinah. Dongkol dan jengkelnya saya wes saya redam, istighfar bolak-balik; tapi ya tetep kesal karena saya sensitif dengan suara. Terganggu sangat dengan kelakuannya. Eh dia masih meribeti saya pula dengan menanyakan stasiun-stasiun perhentian kereta. Membagongkan tenan.
Emosi negatif itu berdampak buruk pada kesehatan saya yang (pancen wes nggak prima) sejak sebelum berangkat. Tiba di hotel Mekkah yang mestinya saya gembira karena akan umroh pertama, langsung berubah sedih karena bocor. Sepanjang hidup saya, tanda hitung kalender jadwal haid selalu tepat waktu. Pernah ada satu atau dua kali bergeser mundur sehari.

Sisi lain halaman Masjidil Haram, sebelum umroh. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Jadi saat bepergian ke mana-mana (nggak cuma umroh), saya wes menandai ini dan tahun-tahun berlalu, semuanya oke. Makanya bocor maju 5 hari dari jadwal itu sungguh bikin saya syok. Bingung. Panik. Kesal. Sedih. Campur aduk jadi satu. Saya langsung memberitahu Ustadz Faqih dan tidak bisa ikut umroh malam itu, diminta minum obat dan diterangkan beberapa hal rinci tentang kondisi darurat; yang sebelumnya saya tidak tahu.
Bagian ini, meskipun bersifat pribadi dan sangat perempuan, saya tulis share di sini agar kalau ada jamaah putri yang mengalami kondisi nggak terduga seperti saya, tetap tenang, cari solusinya, dan lanjutkan selesaikan kewajiban sampai rampung. 🙏Saat Bu Sida, Bu Yaya, Bu Prapti sudah meninggalkan kamar untuk umroh; tangis saya meledak.
Ya Allah, sudah sampai Mekkah, nggak jadi umroh? Apa yang salah dengan saya? Uang untuk bayar nggak beres? Saya yakin dan bisa memastikan bahwa uang itu berasal dari hasil kerja halal dan nggak ada tambahan pihak lain. Belum maaf-maafan ibu dan keluarga? Jelas sudah. Dan saya yakin nggak ada yang beribetan saya umroh, karena mereka yo wes umroh nggak cuma sekali dua kali. Jadi itu masalah pun sudah terlewatkan. Hati saya nggak bersih? Ya Robbi, sedari awal mendaftar jelas banget niat saya ibadah, bukan lainnya. Lalu apa?

Situasi pelataran Kabah saat saya umroh, cukup padat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari
Ujian-ujian. Saya langsung nangis lagi begitu ingat ini. Iya, pahala umroh nggak hanya dari berulangnya (banyaknya, berapa kali) thawaf dan sai, tapi juga sempurnanya hati ikhlas menerima semua ujian-ujian yang ada sejak berangkat sampai pulang ke Tanah Air. Setelah menemukan jawabannya ini, hati saya lebih tenang. Lalu memahami kembali pesan Ustadz Faqih. Mengingat saya nggak pernah sekalipun minum obat penunda/penahan haid, jadi pasti nggak ada obat itu di kantong obat saya.
Ini bukan semata-mata urusan darah nggak menetes, tapi kalau kondisi prei sholat begitu, kekuatan saya tuh kayak “hilang” lebih dari 50 persen. Jadi mending wes gak aktivitas berat. Apalagi dibebani menahan “darah kotor” selama beberapa hari karena minum obat, saya wes kebayang betapa “nggak keruannya” rasa tubuh saya.
Sebenarnya ikhlas-ikhlasan nggak umroh pun versi saya yo tetep oke. Akan saya ikhlaskan daripada saya tumbang, pingsan, drop yang merepotkan diri sendiri dan rombongan. Nanti minta lagi, berdoa sungguh-sungguh, segera dipanggil lagi ke sini. Masalahnya tuh saya wes ambil miqat niat umroh yang harus dibereskan, atau langsung rampung dengan bayar kambing. Bukan sekedar bisa bayar kambingnya, tapi saya ingin dan sudah rindu ke Kabah dan Masjidil Haram. Jadi saya kudu, mau nggak mau minum obat untuk merampungkan urusan umroh itu.

Alhamdulillah, usai thawaf. Pelataran Kabah, Masjidil Haram. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Selain itu, jadwal maju 5 hari, persediaan pembalut juga nggak memenuhi kebutuhan. Oke, Mekkah memang jauh, tapi ini bukan kota asing untuk orang Indonesia. Jadi saya memutuskan untuk segera keluar, mencari dua keperluan saya itu.
Karena mau ke apotek dan supermarket, saya ngecek sekalian obat darurat apa yang wes habis dan perlu beli. Lhah, ternyata di kantong obat ada obat penahan haid. 5 saja dan saya baru ingat kalau ipar saya sempat bilang ada obat tersisa, saya bawa saja untuk jaga-jaga. Mungkin langsung dimasukkan kantong obat tanpa memberitahu saya lagi. Alhamdulillah, saya pikir itu cukup untuk merampungkan urusan satu kali umroh.
Lalu pembalut? 2 biji jelas nggak cukup. Pantyliner pasti jebol untuk kondisi begini. Pikir saya wes tinggal beli pembalut. Setelah beres umroh yang terlanjur niat itu, saya nggak ada niatan lagi untuk memaksakan diri ikut aktivitas fisik berat karena urusan kesehatan. Jadi nggak niat beli obat penahan haid.

Ini usai sholat sunnah thawaf di pelataran Kabah, Masjidil Haram. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Dengan kondisi begitu, saya tetap bersyukur Allah Maha Baik. Pas saya mau ambil uang Riyal untuk beli keperluan itu, kok tangan saya nyentuh plastik di backpack bagian dalam. Lhah pembalut satu plastik isi 12 biji, bahkan saya nggak inget kapan beli atau masukin ke situ. Wah berasa nemu harta karun. Yach, meskipun di Mekkah ada toko obat dan pembalut, harganya tentu nggak semurih di Jogja. Alhamdulillah; kayak blessing in disguise. Cukuplah sampai pulang.
Saya pun berdoa mohon agar diberi pahala sama baiknya dengan kawan-kawan saya yang malam itu umroh dengan sempurna. Berdoa banyak hal, agak lama. Njur saya pergi ke luar hotel. Ngapain? Beli es krim, cokelat, dan jajanan 😂🙈 Saya makan di lobi hotel, nggak ambil pusing dengan lalu lalang orang. Es krim dan cokelat untuk mengembalikan mood saya. Dan begitu wes berasa baik, saya kembali ke kamar. Minum obat, njur tidur pules, sepuasnya tenan. Saya nggak tahu kapan Bu Sida dkk kembali ke kamar. 🙈
Besoknya pagi-pagi saya bekabar Ustadz Faqih tentang kondisi saya. Wes mampet. Njur saya bebersih sesuai aturan, sarapan, dan berangkat umroh pribadi dikawal penuh oleh Ustadz Faqih. Pas awal berangkat, Bu Sida dan suaminya ikut untuk thawaf sunnah, tapi saya nggak ingat kapan kami terpisah.

Situasi saat saya sai, cukup padat tapi masih ada ruang kosong. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Dari hotel ke Masjidil Haram, Ustadz Faqih sempat menanyakan apakah kondisi saya cukup sehat, saya jawab sehat. Mungkin karena sudah tidur lebih banyak malam sebelumnya dan nggak wira wiri ke mesjid. TL kami ini juga mengingatkan saya tentang larangan-larangan selama Ihram dan membaca doa talbiyah dalam perjalanan menuju Masjidil Haram.
Setelah tiba di Masjidil Haram, Ustadz Faqih akan mengarahkan saya ke area Thawaf dengan tenang. Wah, dia ini sabar tenan. Mengantar saya sepenuhnya, meskipun sebelumnya baru pulang umroh bersama rombongan. Kebayang capeknya, lha jamaah saja diminta istirahat sehari kecuali ibadah di mesjid. Kayaknya Ustadz Faqih juga mengukur kemampuan saya yang nggak prima, dengan jalan pelan banget.
Kegiatan umroh saya seperti umroh lainnya. Memasuki masjid dengan mendahulukan kaki kanan dan mengucapkan doa masuk masjid. Lalu memulai thawaf dari Hajar Aswad dengan melakukan Istilam (memberi isyarat pada Hajar Aswad) sambil mengucapkan “Bismillahi Allahu Akbar” dan memulai putaran pertama. Ustadz Faqih terus mendampingi saya, memastikan setiap putaran saya lakukan dengan benar dan khusyuk.

Saya dan Ustadz Faqih di areal sai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Pada setiap putaran, dia mengajarkan dan mengingatkan doa-doa yang disunnahkan, terutama antara Hajar Aswad dan Rukun Yamani; yang disunnahkan membaca doa sapu jagad: Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina adzabannar.
Ustadz Faqih juga bertindak sebagai “tameng” saat saya nyaris terdesak-desak oleh orang-orang “besar” yang ikut thawaf. Dia mengingatkan agar saya tetap fokus pada ibadah meskipun dalam keramaian. Saya di putaran ke-4 wes mulai merasa klenger, keringat dingin mulai menetes-netes di punggung saya. Padahal Ustadz Faqih jalannya wes superlambat demi saya bisa terus kuat. “Ya Allah kuatkan, sekurangnya sampai saya merampungkan umroh ini dengan sempurna. Amin YRA.”
Alhamdulillah, setelah menyelesaikan 7 putaran thawaf, Ustadz Faqih mengantar saya ke tempat yang memungkinkan untuk sholat. Disunnahkan sholat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim jika memungkinkan, atau di mana saja di area Masjidil Haram. Ini saya sholat penuh tangis; penuh haru; karena ya Allah, maturnuwun Gusti, saya masih diberi kesempatan ini. Doa saya banyak. Doa untuk diri sendiri, keluarga, sahabat, kerabat dan semua titipan doa. Semoga Allah kabulkan. Amin YRA.

Di areal sai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Oh iya, dua rakaat sholat sunnah thawaf, biasanya dengan membaca Surah Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Surah Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Kalau mau surat lain ya bebas saja, tapi kalau ikut rombongan kan waktu kita terbatas. Detelah sholat, Ustadz Faqih mengantar saya untuk minum air Zam-Zam sambil memanjatkan doa-doa kebaikan.
Selanjutnya sai (berlari kecil antara Safa dan Marwah). Prosesi ini adalah lari kecil atau berjalan cepat antara bukit Safa dan Marwah, sebanyak 7 kali perjalanan. Permulaannya ke areal bukit Safa, menghadap Ka’bah, dan mengucapkan zikir dan takbir. Hingga berlangsung 7x. Di sini beneran berasa energi saya drop. Langkah saya beneran lambat. Waktu untuk sai mungkin lebih lama dari semestinya.
Alhamdulillah akhirnya rampung. Tahallul (mengakhiri ihram), memotong rambut saya lakukan secara mandiri. Alhamdulillah, haru dan lega plong beneran hati saya. Ya Robb mohon sebaik-baiknya pahala yang sempurna dan undang lagi saya ke sini dengan kondisi dan fasilitas terbaik. Amiiin YRA.

Usai umroh dalam perjalanan balik ke hotel. Masyaallah saya kaget pas lihat foto dan menemukan angka 11 di belakang saya. Selain tanggal kelahiran saya, angka kembar dalam energi sering menjadi tanda terwujudnya doa, terkabulnya harapan, hidup yang lebih baik, dll. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Secara pribadi saya mengucapkan terimakasih sebesar besarnya pada Ustadz Faqih yang mengawal penuh umroh saya dengan sabar, tenang, menyempurnakan semua urusan syariat tanpa kecuali, dan menjaga keselamatan saya dari awal sampai akhir. Semoga Allah membalasnya dengan berlipat kebaikan. Amin YRA. Terima kasih juga kepada Dewangga yang telah memilih TL berkualitas dan profesional untuk mengurus kami dengan sebaik-baiknya 😊🙏
Ustadz Faqih meminta agar saya makan dulu sebelum istirahat; saat kami sudah kembali ke hotel. Percayalah, saya bae agak “takut” ngeliat wajah saya saat itu. Pucat pasi seperti wajah orang mati, nggak ada aliran darah. Ya, dan badan saya wes lemes pool, seperti hilang tulang belulang untuk menopang badan agar kuat berdiri.
Usai makan, saya balik kamar dan nggak butuh waktu lama, saya tertidur pules. Alhamdulillah, sekurangnya umroh kali ini wes saya selesaikan semaksimal, sebaik yang bisa saya lakukan. Sungguh Allah saja yang tahu, betapa inginnya saya bolak-balik umroh saat ada di Mekkah ini.
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari
