Umroh Istimewa (11): Tentang Masjid Quba dan Kebun Kurma

Saya di pelataran Masjid Quba. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Selain memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi, rombongan umroh kami juga ada city tour Madinah; ke Masjid Quba, Kebun Kurma, dan Jabal Uhud. Namun karena keterbatasan waktu dan keterlambatan jamaah berkumpul sebelum pergi, pikniknya hanya ke Masjid Quba dan Kebun Kurma, tempat membeli oleh-oleh.

Masjid Quba memiliki kedudukan yang sangat penting dalam sejarah Islam; karena ini masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW setelah beliau hijrah dari Makkah ke Madinah. Pembangunannya dimulai pada tahun 1 Hijriah (622 Masehi). Kedua, dalam Al-Qur’an, Masjid Quba disebut sebagai masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama, sebagaimana disebutkan dalam Surat At-Taubah ayat 108.

Saya dengan Bu Sida, Bu Prapti dan Bu Yaya di pelataran Masjid Quba. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Salah satu keistimewaan besar Masjid Quba adalah pahala sholat di dalamnya. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bersuci (berwudu) di rumahnya kemudian mendatangi Masjid Quba dan sholat di dalamnya, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala umrah.” (HR. Ibnu Majah).

Rasulullah SAW biasa mengunjungi Masjid Quba dan melaksanakan sholat di sana, terutama setiap hari Sabtu, baik dengan berkendara maupun berjalan kaki. Masjid ini terletak di Quba, sekitar 5 km di sebelah tenggara Kota Madinah (atau sekitar 4-5 km dari Masjid Nabawi).

Rombongan kami di Kebun Kurma. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pada awalnya, masjid ini dibangun di atas kebun kurma dan proses pembangunannya melibatkan Rasulullah SAW dan para sahabat secara gotong royong. Bangunan awalnya menggunakan tiang dari pohon kurma dan atap dari pelepah daun kurma bercampur tanah liat. Saat ini, masjid ini telah direnovasi dan diperluas menjadi sangat megah, mampu menampung hingga 20 ribu jemaah.

Kebun kurma adalah salah satu destinasi yang tidak terpisahkan dari kunjungan ke Madinah, terutama karena lokasinya yang dekat dengan Masjid Quba. Tempat ini sekarang jadi tempat belanja oleh-oleh yang paling terkenal di antara janaah umroh dan haji dari Indonesia.

Hanin si bocil termuda dalam rombongan kami beserta keluarganya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Perkebunan kurma diyakini telah ada sejak masa sebelum hijrahnya Nabi ke Madinah. Kota Madinah sendiri dikenal sebagai tempat yang ideal untuk budi daya kurma karena kondisi tanah dan udaranya yang sejuk.

Kebun Kurma yang sering dikunjungi jemaah haji dan umrah umumnya berlokasi sekitar 15 menit perjalanan dari Masjid Quba. Tempat ini tidak hanya menawarkan pemandangan pohon kurma, tetapi juga menjadi pusat bagi para jemaah untuk berbelanja berbagai jenis kurma Madinah yang terkenal.

Saya, Mas Donni, Bu Neli, Bu Nunu, dan Bu Yuli menikmati bakso (bukan unta 😅) di Kebun Kurma. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Beberapa jenis kurma yang populer di Madinah antara lain: kurma Ajwa dikenal sebagai “Kurma Nabi” karena merupakan salah satu makanan kesukaan Rasulullah SAW dan diyakini memiliki keutamaan sebagai obat dari racun dan sihir. Ada juga kurma Sukkarri, kurma yang sangat terkenal karena teksturnya yang juicy dan rasanya yang sangat manis, sering berwarna cokelat keemasan. Ada juga kurma Safawi, Ambar, dan Khalas yang merupakan jenis-jenis kurma berkualitas tinggi dengan cita rasa khas masing-masing.

Karena sudah beberapa kali ke tempat ini, saya lebih memilih menikmati bakso di sini daripada berbelanja. Saya hanya membeli beberapa jenis manisan buah yang sesuai lidah saya. Oh ya, kelebihan tempat ini selain jenis dagangan beragam, di sini orang boleh ngicipin semua makanan dengan gratis. Sepuasnya, asal nggak dikantongin. Pokoknya kalau cuman ndableg makan apa saja bisa sepiasnya dan nggak ada yang melarang atau menegur. Yach, meskipun harga belanjaan di sini juga sedikit bunyi (lebih mahal) dibandingkan tempat-tempat lainnya.

Ustadz Faqih yang baik hati, bawain belanjaan jamaah 😅 Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Bagi saya pribadi, kunjungan ke Masjid Quba dan Kebun Kurma memberikan pengalaman spiritual dan wisata sejarah yang mendalam. Kedua tempat ini mengingatkan pada perjuangan awal Islam dan kekayaan alam Kota Nabi.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *