Umroh Istimewa (9): Jejak Sejarah Konstantinopel

Petunjuk arah tempat di areal Istana Sultan Ahmed (Mehmed). Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya break menulis cerita umroh ini, karena kok ya ngedrop cukup lama. Alhamdulillah kini sudah lumayan baik, jadi saya teruskan kembali tulisannya. Jangan berhenti membaca dan menengok blog pribadi saya yes 😀

Usai makan siang (oh ternyata nama restoran tempat kami makan kuliner khas Turki adalah Bukhara Resto). Siang itu di Istanbul terasa tenang, meski selalu ada denyut kehidupan yang nggak pernah benar-benar berhenti. Udara cukup bersahabat siang itu, nggak terlalu panas; masih ada sisa-sisa dingin hujan dari pagi harinya.

Universitas Marmara, Istanbul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dari restoran kami berjalan kaki menuju komplek istana Sultan Ahmed (Mehmed). Jalannya semua berbatu rapi. Ketika sudah mulai masuk areal bersejarah ini, ada penanda, petunjuk jalan. Di sisi yang lain, saya melihat identitas kampus: Universitas Marmara.

Udara sejuk menguar bercampur aroma roti simit dari pedagang yang baru membuka gerobak. Saya menarik napas, menatap jalan berbatu yang menurun sedikit, lalu mulai melangkah. Mengikuti teman-teman rombongan. Sebagian masih berfoto. Sebagian duduk-duduk lelah. Oh ya, habis makan biasanya memang ngantuk dan enaknya tidur. Sebagian berjalan saja menuju tempat wisatanya.

Saya dan Bu Yuli di jalur pedestrian menuju lokasi wisata komplek istana Sultan Ahmed (Mehmed). Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jlur pedestrian yang saya ikuti dikelilingi bangunan-bangunan kuno bergaya Ottoman; jendela kayu dengan kusen gelap, kafe kecil dengan meja besi, dan toko suvenir yang penuh gantungan mata biru nazar. Setiap 50- an langkah, terdengar logat bahasa yang berbeda (sekurangnya yang bisa saya identifikasi ada bahasa): Inggris, Arab, Jepang, Perancis, Jerman, Belanda dan tentu saja Turki yang dilafalkan tegas tapi hangat.

Saat mendekat ke kawasan Sultanahmet, Masjid Biru menjulang di kejauhan, kubahnya berlapis-lapis seakan memanggil. Ada ramai orang berfoto di sini. Saya sempat terpesona dengan masjid cantik ini. Hingga diingatkan Gus Faqih mengikuti rombongan. Kalau nggak, mungkin saya lebih lama di tempat ini. Masjid, versi saya memang punya daya tarik tersendiri bagi saya pribadi. Setiap piknik, saya pasti berusaha mencari masjid. Bahkan di negeri-negeri komunis seperti Vietnam dan China; mesjid terasa seperti oase yang menyejukkan hati.❤

Areal Mesjid Biru yang sedang pada tahap renovasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di areal Masjid Biru itu, versi saya ada satu bangunan yang tampak paling mendominasi cakrawala: Hagia Sophia, tempat yang terlihat megah, teduh, dan misterius dalam satu pandangan.

Begitu tiba di halaman depan Hagia Sophia, saya terdiam. Antrian mengular karena ini nanti orang mau sholat berjamaah. Dari luar, bangunan ini seperti buku sejarah raksasa yang belum selesai dibaca: minaret (mercusuar, menara; bahasa Arab) Ottoman berdiri tegak, tapi dinding-dinding berwarna merah kusam yang masih menyimpan sentuhan Bizantium.

Pelataran tempat wisata sebelum masuk ke areal mesjid besar di Hagia Sophia. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Antrean wisatawan semakin ramai, tapi suasananya tetap tenang. Cahaya matahari memantul lembut di kubah emas, membuatnya tampak menyala dari dalam.Masuk ke dalam Hagia Sophia terasa seperti memasuki dunia lain; karena ada beberapa hal.

Pertama, pilar marmer yang menjulang seperti hutan batu. Kedua, kaligrafi bundar berukuran raksasa tergantung anggun di dinding. Ketiga, mozaik emas Bizantium yang bersinar samar menjadi pengingat masa ketika tempat ini masih menjadi gereja kerajaan.

Saya di pintu masuk dan tempat wudu di mesjid agung Hagia Sophia. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setiap kali ada yang melangkah di lantai marmernya; seolah terdengar gema halus di telinga saya, seolah ribuan kisah dari abad ke-6 hingga kini berbisik dalam diam yang dinamis.

Di satu sisi ruangan, saya melihat sinar jatuh dari deretan jendela kubah. Boleh jadi itu cahaya yang sama yang pernah menerangi pasukan Sultan Mehmed II saat pertama kali memasuki gereja ini pada 1453.

Saya, Bu Sida, Bu Yuli di areal dalam mesjid agung, Hagia Sophia. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Keluar dari Hagia Sophia, saya melangkah mengikuti kerumunan ke arah taman hijau. Sebenarnya tujuan berikutnya adalah Istana Topkapi. Namun karena kami hanya photostop di tempat ini, jadi saya tidak tahu isinya dan nggak ada pengalaman tentang ini. Saya cek harga tiket masuk di marketplace sekitar 1.2-1.5 juta IDR. Saya kira bukan hanya masalah pertimbangan harga kami nggak ke sini, tapi juga masalah waktu karena luasnya istana itu.

Jadi di sini saya catatkan dari berbagai referensi tentang Istana Topkapi. Tempat ini hanya 3–5 menit berjalan kaki dari lokasi saya berada. Iya, sebuah gerbang megah dengan ukiran emas tampak di depan: Bab-ı Hümayun, gerbang kekaisaran menuju Istana Topkapi, istana pertama Dinasti Ottoman setelah penaklukan Konstantinopel. Konon, kalau memasuki kompleks ini seperti memasuki dunia Sultan Mehmed Sang Penakluk: hening, luas, dan penuh simbol kekuasaan.

Sisi lain halaman Hagia Sophia, masih dalam proses renovasi; jadi nggak semua tempat boleh dimasuki wisatawan. Alhamdulillah, sampai juga saya di Turki. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pada halaman pertama, pepohonan tua menaungi jalur setapak. Burung-burung camar melintas, sementara para pengunjung duduk di bangku taman. Pada halaman kedua, terdapat dapur istana dan ruang dewan. Aroma masa lalu terasa kuat, seakan suara para penasihat dan janissari (pasukan khusus yang dibentuk pada masa Kesultanan Ustmaniyyah abad 14 Masehi) masih bergema di menara keadilan.

Oh iya, untuk bisa menikmati wisata sejarah di areal ini, saya sarankan teman-teman sebelum datang ke sini, sudah punya gambaran tentang Sultan Ahmed 2 (Mehmed 2) dengan penaklukan Konstantinopel…. paling nggak bisa nyambung dengan alur perjalanan wisata yang saya ceritakan ini. Sayang siy memang di tour ini nggak ada guide lokalnya, jadi nggak bisa ditanya-tanya.

Saya dan Bu Yuli di areal taman, sisi lain, Hagia Sophia. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Termasuk ketika saya merasa ada “gap” dari gambaran sejarah dan apa yang saya lihat saat berada di lokasi. Ya, seperti bangunan sejarah lainnya; tentu ada yang rusak, dialihfungsikan, direhab, atau bahkan dihilangkan dari jejak sejarah. Bisa jadi yang ada di sini pun begitu; tapi saya nggak bisa menunjukkan atau menceritakan yang mana saja, karena nggak ada informan valid.

Catatan saya di bagian ini saya rujuk dari perjalanan di lokasi dan data-data yang saya catat dan tandai dari buku-buku, jurnal-jurnal, dan web yang membahas Konstantinopel. Bagian Harem pada saat ini adalah lorong-lorong sempit dengan ubin biru Iznik (ubin dari tembukar yang dibuat di Iznik, kota sebelah barat Anatolia, Turki) pintu lengkung emas, dan jendela kecil yang mengintip ke taman pribadi. Semuanya terasa akrab sekaligus misterius, seperti rahasia yang sengaja disembunyikan oleh kerajaan selama berabad-abad.

Saya, Bu Ening, Bu Atmudah, Bu Neli, Bu Nunu, Bu Yuli di halaman depan Hagia Sophia menuju pintu keluar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Selanjutnya pada halaman ketiga dan keempat; merupakan ruang relik suci. Terasa hening sekali. Lalu di paviliun taman di halaman terakhir, angin Bosphorus membawa aroma laut yang segar. Dari sini, Istanbul tampak tenang dan damai; padahal di bawahnya tersimpan sejarah penaklukan, peperangan, dan kebangkitan yang memukau.

Saat matahari mulai condong ke barat, saya kembali berjalan perlahan ke luar, melewati pepohonan dan gerbang besar istana. Dari Hagia Sophia, ke tempat Sultan Mehmed memimpin kekaisarannya, hingga ke areal Universitas Marmara.

Perjalanan singkat ini bukan sekadar wisata.
Ini seperti menapaki garis waktu: dari Bizantium, ke Ottoman, hingga Istanbul modern yang kini menyatukan semuanya. Di kota ini, sejarah seolah nggak hanya diceritakan. Sejarah berabad ini bisa sampeyan sentuh, lihat, hirup, dan rasakan dengan langkah-langkah kaki dan gerak tangan sampeyan sendiri.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *