Umroh Istimewa (7): Iki Bosphorus atau Mahakam Siy?

Salah satu sisi Bosphorus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Hujan turun lumayan deras saat kami meninggalkan Best Fashion. Tujuan kami selanjutnya ke Bosphorus. Salah satu ikonik pariwisata di Turki. Kami akan naik kapal keliling untuk melihat keindahan salah satu tempat unik di dunia ini. Karena separoh wilayahnya sangat Asia, dan separoh lainnya sangat Eropa; tapi menyatu dalam satu laut di negara yang sama: Turki.

Karena hujan, jalan-jalan di sini terasa sedikit berbeda. Kudu payungan, jaketan, bahkan banyak orang di lokasi perahu atau kapal yang krubut-krubut pake jas hujan. Saya pun ke sini dengan jaketan dan payungan. Kalau masih bulan November di sini belum turun salju, tapi udara sudah lumayan dingin dan sering turun hujan.

Ada gunanya juga saya bawa payung. Areal kapal sandar, Bosphorus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nanti kalau Desember akhir, salju-salju cantik bisa dilihat di banyak tempat di wilayah ini. Konon bagi warga di berbagai negara empat musim, kalau menyaksikan salju pertama kali turun kudu cepet-cepetan make a wish; bikin harapan, doa; karena katanya doa dan harapan itu lebih cepat terkabul atau terwujudnya. Wallahu’alam.

Naik kapal, karena hujan cukup riuh kami nggak bisa di atas dek yang langsung outdoor. Di atas kapal yo boleh siy, tapi jelas kehujanan. Dan itu bukan pilihan yang disarankan untuk trip panjang begini. Saya duduk-duduk saja di sisi jendela kapal dengan Bu Yuli menikmati pemandangan.

Saya dengan Bu Yuli. Di dalam kapal untuk keliling Bosphorus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di seberang sisi kanan saya ada Mas Donni dan Mas Indra. Entah mereka berdua heboh cerita apa dengan Mas Issam, si fotografer di Turki sampai ketawa lepas begitu. Saya lebih fokus ke pemandangan di luar jendela kapal dan tentu nggak nyimak obrolan mereka. Saya juga nggak terlalu perhatian pada aktivitas orang-orang saat itu. Kayaknya ya biasa saja. Foto-foto, makan-makan, ngobrol, ngelamun, balesin WA, dll.

Di sini ada dijual makanan minuman aneka macam. Popmie pun ada 😁😅 Yungalaah, jauh-jauh ke Turki kok makan popmie 50 rb. Di Jogja mung 5 rb wes dimasakin. Sama seperti saat saya ngetawain temen-temen deket yang ke Eropa Barat non biro wisata. Lha jauh-jauh ke Eropa kok mung makan ayam McD berulang, mbok di rumah bae sepuasnya. Katanya takut nggak halal karena semua identitas makanan pake bahasa yang nggak mereka kenal 😄😁

Lepas betul ketawa mereka. Mas Donni, Mas Indra, Mas Issam (fotografer di Turki). Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kalau versi saya siy, dolan itu ya termasuk menikmati seluruh makanan lokalnya (yang halal). Kalau perlu membaur dengan kehidupan orang-orang setempat; agar kenangan dan pengalamanmu tentang tempat asing itu lebih berwarna.

Hal kek gitu biasanya yang bikin piknik atau private trip saya jadi lama. Apalagi kalau merasa sedang banyak uang dan partner saya itu sahabat yang juga doyan dolan. Klop sudah. Mblayang suwe gakpapa. Uang habis ya nanti kita cari lagi 😁🙏 Menurut saya pengalaman itu jauh lebih berharga daripada kepemilikan atas barang-barang.

Orang-orang sibuk dengan aktivitas masing-masing saat di dalam kapal. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pengalaman hidup, ilmu dan keahlian, mindset positif, karakter baik, kemampuan beradaptasi dan berkomunikasi dengan baik; itu adalah hal-hal yang melekat pada setiap personal, yang mo diapakan juga tetap nggak bisa dicuri orang lain. Dicontoh, direduplikasi bisa, tapi diambil dicuri, jelas nggak mungkin.

Beda dengan mobil bagus, produk produk branded dll barang bisa dengan mudah diambil atau dicuri orang. Bisa rusak, bisa terbakar, hancur kena bencana, dll. Jadi pilih-pilih dengan apa yang hendak kamu klaim sebagai milikmu.

Oh ya, soal popmie dan McD tadi bukan berarti nggak boleh makan yang sudah biasa lho ya. Lha wong di Madinah bae saya yo jajan popmie kok. Di Jakarta transit malah makan indomie rebus dengan Mas Donnie dan Mas Indra. Tapi ya itu karena pingin dan rindu aja, bukan menu harian. Trip umroh kali ini embuh saya kok nggak minat beli McD atau KFC 😁

Sisi lain view Bosphorus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di kapal ini juga ada layanan foto langsung jadi. Ning larang iki. Masa 3 foto 5R aja 350 rb. Ada bingkai bagus siy, jadi kelihatan mewah. Saya tawar 100 rb gak boleh, ya wassalam wes. Saya pikir fotonya saja, rasah dibingkai berat gitu nambahin beban bagasi bae😆😅

Pokoknya di Bosphorus ini berasanya saya kek tour Sungai Mahakam dari Samarinda sampai Kutai Kartanegara pp (silakan sampeyan baca catatan saya DSBK dari awal sampai rampung). Ada jembatannya pula di tengah-tengah pelayaran saat di Bosphorus ini.

Beuuuh, jadi berasa persis, mung Mahakam nggak ada bangunan super kuno dan megah kek di Bosphorus; tapi Mahakam dengan bangunan rumah-rumah panggung berdiri di atas air juga nggak kalah eksotisnya. Ditambah kapal kapal batu bara dan pasir besi yang hilir mudik. Mahakam air tawar. Bosphorus air laut.

Jembatan melintas di atas laut Bosphorus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Foto-foto sakkemengmu sakbosenmu di sini. Kanan kiri semua oke viewnya. Ini kalau matahari cerah pasti bagus banget di kamera. Cuman karena hari hujan, jadi banyak warna abu-abu. Yo weslah terima saja dengan syukur. Saya toh juga tetep ambil foto-foto sesuka, semampunya.

Eh beneran lho, kalau kamu jago motret, pasti ada ratusan foto yang bisa kamu jual via aplikasi online. Setiap sudut Bosphorus ini memancarkan kekuatan sejarah dan tradisi yang kental. Burung-burung terbang rendah begitu cantik. Rintik hujan dan mendung pekat, seolah nggak menghalangi mereka menjemput rezekinya masing-masing.

Burung-burung yang mengajarkan kita bahwa rezeki sudah dijamin oleh sang Pencipta. Mereka berangkat dengan perut lapar di pagi hari, pulang dengan perut kenyang di sore hari. Tanpa menyimpan makanan, mengingatkan kita ojo serakah. Keperluan kita dalam hidup ini sebenarnya nggak banyak-banyak amat kok.😄

Burung-burung terbang rendah di areal Bosphorus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Situasi di kapal cukup adem, tapi karena saya wes jaketan ya hangat. Temaram cuaca bikin hati rindu sinar mentari yang benderang. Belum belum saya wes rindu Jogja yang hangat sepanjang tahun.

Kami turun dari kapal masih lanjut perjalanan berikutnya. Saya agak lupa dari sini tuh terus ke mana ya? Nanti saya lihat lagi foto-fotonya. Trip panjang bikin ingatan saya terdistraksi; apalagi setelah mulai beribetan dengan teriakan deadline akhir tahun 😁 Dan saya bukan jenis orang yang terniyat mencatat agenda piknik dengan tertib saat berada di lapangan.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *