
Saya dengan Bu Yuli sarapan di hotel Ibis, Dubai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Masuk bandara Dubai, aroma kemewahan dan kemegahan mulai terasa. Saya lebih fresh karena sepanjang waktu keberangkatan lebih banyak tidur dan tidur. Alhamdulilah gigi saya ora beribetan. Sempat berasa nyeri, tapi begitu minum obat nyeri yo wes lewat saja.
Pagi itu dengan bus kami menuju Hotel Ibis Dubai, untuk bebersih badan dan sarapan. Lumayanlah badan kena air, bisa cuci muka bersih-bersih dan gosok gigi. Kalau orang Jawa bilang sibinan. Makanan di resto hotel ini enak-enak dan melimpah. Alhamdulillah.
Kesan pertama saya, Dubai bersih, rapi, sejuk, tertib, mewah, dan jangan tanya soal harga di sini 😁 Fantastik juga alias cukup larang nggo ukuran kantong saya. Di sini saya mung beli cokelat dan es krim. Dua jajanan favorit yang bisa memperbaiki mood. Saya mengikuti semua kegiatan tour dari Dewangga dengan senang hati.

Dubai Frame, ikonik nya Dubai Trade Center 2. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Baru kali ini saya ke Dubai. Jadi yo jelas semangat. Di areal pertokoan yang semua produk branded begitu, duh saya ngerasa betapa ketimpangan ekonomi itu riil adanya. Ngelihat sepatu-sepatu, baju-baju, parfum-parfum, perhiasan cantik-cantik sekisar harga 2000 USD ke atas, itu kok ya berasa ngenes di hati saya. 😆😂 Terasa betul “kisminnya” saya di depan harga-harga USD yang aduhai ini. Ya ampun, itu semua serasa nggak terbeli lho dengan mata uang IDR yang saya punya 😁
Untung saya nggak tinggal di sini, jadi nggak perlu berkecil hati dengan semua produk pajangan itu. Meskipun di hati saya, perasaan itu kadang muncul juga kalau saya masuk ke mall-mall terbesar di negara-negara Asia Tenggara. Wes, kesenjangan tenan antara label harga dan duit yang saya punya.
Makanya saya malez beut kalau diajak ke mall tanpa urusan yang jelas. Lihat harga-harga selangit itu, kadang bikin hati mengeluh dan nggak bersyukur bae 😁 Berasa betapa banyaknya kekurangan uang saya untuk membeli barang-barang yang sudah ada label mereknya itu.

Aquarium raksasa air laut di mall Dubai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Di mall Dubai ini ada aquarium raksasa air laut, berisi ikan-ikan dan aneka hewan laut. Duh, saya nggak bisa ngitung berapa jenisnya dan nggak ada keterangan untuk itu. Kalau sampeyan turun ke bawah laut Wakatobi, insyaallah ketemu semua deh dengan makhluk-makhluk laut yang ada di aquarium itu. Wakatobi, Sulawesi Tenggara memiliki kekayaan bawah laut yang luar biasa.
Dari 1500 jenis spesies makhluk bawah laut yang ada di seluruh dunia, 750 spesiesnya ada di bawah laut Wakatobi. Saya ingat jelas jumlah ini, karena disebut-sebut oleh Wagub Sultra pas pembukaan Wakatobi WAVE 2025, 3-5 Oktober 2025 —saya datang atas undangan Bupati Wakatobi. Tapi percaya deh, kalau orang kita disuruh memilih piknik ke Wakatobi atau Dubai, lha mbok yakin pasti mayoritas memilih Dubai. Lagipula charge biayanya lebih murah ke Dubai daripada datang ke surga bawah laut di negeri para pelaut ini.
Kalau sampeyan foto-foto di areal aquarium raksasa ini gratis alias gak bayar. Kalau masuk untuk bisa melihat langsung makhluk-makhluk laut di air dengan tabung kaca (semacam sea walker di Tanjung Benoa, Bali) yo bayar tiket 50-75 USD (cmiiw). Versi saya isih bagusan sea walker di Tanjung Benoa atau Bunaken lah, langsung ke laut luas; ini mung ke aquarium raksasa buatan manusia.

Gedung pencakar langit, ikoniknya Dubai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Lepas dari aquarium raksasa, kami masuk ke ikonik Dubai. Gedung pencakar langit yang sangat tinggi. Lupa saya tingginya berapa ratus meter. Yang jelas gedung-gedung di Dubai itu sekarang jadi gedung-gedung tertinggi nomor satu di dunia; wes ngalah-ngalahin gedung-gedung tinggi di Beijing. Kalau China penakluk kemustahilan (telur, beras bae China bisa bikin tiruan yang seenak aslinya), maka Dubai boleh disebut sebagai penakluk ketinggian.😁
Di sini ada juga kolam buatan yang berwarna hijau tosca cantik diterpa sinar matahari di siang bolong. Hadeuh, saya merasa nyesel salah pilih warna baju karena warnanya setipe dengan warna air aquarium raksasa dan warna air kolam. Nah kolam ini kalau bahasa kampung saya disebut dengan embung 😁 ya tapi embung-nya Dubai dibandingkan dengan embung Nglanggeran atau embung Potorono di sekitaran rumah saya, jelas beda jauh… Gengsinya itu lho…. begitu kata ipar saya 😅
Mo panas-panas juga, foto-foto yang saya ambil cukup banyak. Jelas bukan foto saya selfie. Tapi foto tempat-tempat, areal unik, orang-orang, bangku-bangku, lah kucing pun saya potret. Pokokmen apapun yang kena “beda” di mata saya yo takpotret. Berguna atau enggak, ya urusan nanti.

Embung-nya Dubai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Setelah itu kami ke areal patung tiga jari. Ke tempat ini dari mall Dubai itu naik bus atau enggak ya? Saya lupa dan lupa pula nama tempatnya.😅😂 Pokoknya tempat itu disebut patung tiga jari. Ini tempat wisata yang masih tergolong baru di Dubai. Jadi yo wes iyiklah… Ditungguin sampai lama pun, orang tetap banyak. Nggak ada sepinya. Mereka lalu lalang, jalan jalan mider, foto-foto, memvideo, duduk-duduk ngobrol, makan es krim atau jajanan, pacaran –bebas peluk cium di sini asal nggak berisik, dll.
Sepuasnya di sini, saya motretin banyak hal yang versi saya menarik. Dubai boleh jadi masih “Arab”, tapi kehidupannya sungguh sudah nampak “hedon” dalam keseharian. Saya nggak bisa bahasa Arab dan mereka (orang lokal) nggak bisa bahasa Inggris. Jadi saya nggak bisa nanya seputar kehidupan dan pendapatan orang-orang Dubai dari warga lokal.
Dari TL Dewangga lokal Dubai, Mas Dhani saya dapat gambaran kehidupan yang makmur dari warga Dubai. Jawaban begini, sungguh nggak memuaskan hati saya yang biasa turun meneliti di lapangan. Browsing beberapa ketemu juga “sisi lain” atau “sisi gelap” kehidupan di balik glamournya Dubai dengan gedung-gedung tinggi yang fantastik itu. Yach, ini sekurangnya membetulkan teori, semakmur apapun sebuah negara; selalu ada minoritas terabaikan dalam berbagai bidang. Intinya, ora kabeh orang Dubai sugih juga😁

Patung tiga jari. Saya dengan Bu Yuli. Abaikan figuran yang nggak diedit. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Siangnya kami makan di Little Bali, rumah makan Indonesia yang khas Bali. Tentu makanan yang disajikan pun masakan Nusantara khas Bali. Enak dan melimpah tenan makanan. Ikut trip dengan Dewangga, jangan khawatir soal makan. Tiap kali naik bus pun kita dapat snack berat dan 1 botol air mineral. Di mana saja sejak keberangkatan sampai kepulangan.
Usai makan siang yang wes jelang sore itu, kami njur meneruskan perjalanan ke Turki dengan pesawat Emirates. Saya duduk dengan siapa ya di pesawat itu? Sepertinya dengan orang-orang non Dewangga. Lupa, nggak ada fotonya.🙈 Tapi ingat Bu Yuli, Mas Indra, Mas Donni duduk di bangku depan saya. Nggak ada fotonya juga. Wes malez buka HP kalau kantuk sudah datang😆
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari
