Umroh Istimewa (2): Usai Daftar Umroh, Ujian Pun Beruntun

Saya, Bu Sida, Bu Prapti, Bu Yaya waktu manasik ke-2. Masjid Suciati, 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya wes “niteni” bahwa saat sudah niat dan daftar bayar untuk umroh, saat itu juga saya kudu siap dengan serangkaian ujian. Sudah bayar pun, kalau nggak dipanggil Allah, bisa nggak jadi umroh haji lho. Sudah banyak contohnya. Termasuk kasus gagal berangkatnya jamaah haji furoda (tanpa antri) dari Indonesia tahun 2025.

Itu beneran peristiwa yang menyadarkan saya, bahwa duitmu (yang banyak pun) nggak akan bisa membawamu ke Baitullah kalau Allah nggak memanggilmu. Jadi ya nggak usah berkecil hati kalau duitmu belum cukup untuk biaya umroh haji. Allah punya 1001 cara untuk memberangkatkan siapa saja yang dipanggil.

Bulan-bulan Januari s/d September saya beneran hectic gaweyan gak berhenti-berhenti. Memang duitnya jadi lebih banyak, tapi capeknya juga nggak kurang-kurang. Terus ketambahan beberapa masalah yang bikin emosi jiwa. Beberapa orang dekat yang biasanya baik-baik tiba tiba rusuh banyak masalah; mau nggak mau terimbas ke saya.

Akhir September saya wes berasa klenger banget. Oktober rencananya saya mung pergi ke Wakatobi 5 hari dan njur anteng siap-siap umroh awal November. Rencana tinggal angan-angan. Jalan Wakatobi itu butuh 8 hari karena perubahan jadwal pesawat dan kapal penyeberangan. Ngepos di rumah ibu di Tulungagung pun molor juga karena ada beberapa urusan.

Jamaah umroh saat manasik ke-2. Masjid Suciati, 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sedikit istirahat di Jogja, kakak saya dari Manado datang ke Surabaya dan nggak bisa ke Jogja. Karena sudah beberapa tahun nggak jumpa, saya ngalahi pergi ke Surabaya. Ketambahan urusan buku dengan klien di sekitaran Lamongan, Gresik, Tuban beneran bikin habis energi saya.

Selesai urusan? Belum. Tanggal 3 November, saya masih harus ngisi pendampingan dosen-dosen Teknik Informatika, UII Yogyakarta untuk nulis buku. Semula jadwalnya 2 hari, saya pangkas 1 hari saja, pagi sampai sore. Saya ada “kontrak” panjang dengan mereka sejak tahun lalu; mendampingi dosen-dosen dari nggak aktif nulis buku; tiap tahun sekurangnya harus terbit 4 buku (1 buku diisi 10 dosen).

Alhamdulillah tahun lalu wes tercapai target. Tahun ini targetnya 8 buku (1 buku ditulis 5 dosen). Tahun depan 16 buku, dst sampai tiap dosen bisa aktif sekurangnya publish 1 buku tiap 1 atau 2 tahun, nggak nulis keroyokan lagi. Gaweyan yang nggak bisa saya tolak karena wes terjadwal sejak lama.

Capek? Jangan ditanya. Lalu di kampus saya beribetan dengan beberapa mahasiswa urusan administratif, dll seputar urusan gaweyan dosen. Sudah tahu ini ujian dan kuat-kuatan mental sebelum berangkat umroh; saya nggak mengeluh. Weslah, anggap saja sudah selesai.

Dan gong yang bikin saya syok itu mendadak di Jumat pagi tanggal 7 November, gigi saya nyeri sakit luar biasa. Saya nyari klinik gigi terdekat yang buka pagi, zonk. Sementara ngisi kuliah nggak bisa saya tinggal. Wes gitu sore ada manasik umroh. Pokoknya saya wes pingin menyerah saja. Sakit jiwa raga. Lelah fisik mental.

Poli gigi di klinik Sembada yang buka sampai jam 8 malam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai manasik kedua itu, saya nangis sendirian di sudut luar mesjid, sakit gigi saya ampuun. Fisik saya lelah banget. Kayaknya kalau mendadak ada pengumuman nggak jadi berangkat umroh besok lusa pun, akan saya terima dengan senang hati.

Saya masih bisa tersenyum dan terlihat baik-baik saja, itu sebagai penghormatan kepada kawan-kawan baru yang akan bersama saya mulai saat berangkat umroh nanti. Meskipun beneran sakit gigi saya nggak terkira. Baru kali ini sakit gigi begitu dalam 15 an tahun. Heish, sakit gigi bae kok yo nyelo-nyelo lagi repot gitu.

Tapi mengingat begitu banyak orang yang berjuang mati-matian bahkan ada yang menabung puluhan tahun demi ke Baitullah, semangat saya bangkit lagi. Kamu sudah memintanya, Ri. Ada ujian ini itu, Allah pasti tahu kamu sanggup melewatinya.

Saya pun ke RSGM UGM, lah kok wes tutup. Nyari-nyari dulu, baru ketemu klinik Sembada untuk poli gigi yang buka sampai jam 8 malam. Antri suwe. Pas sudah giliran saya, dokternya bilang nggak sanggup menangani masalah gigi saya dan harus ke RS. Gigi saya pecah di tengah dan dalam ke akarnya. Horor tenan.

Sebagian gigi tergantung-gantung, sebagian yang lain masih kokoh kuat tapi akarnya semrawut. Saya ngotot pada dokter untuk mengurus gigi saya dan embuh caranya malam ini harus nggak sakit dan nggak nyeri. Lalu dokter menjelaskan P3K gigi untuk kondisi saya.

Langsung saya bilang iya, iya. Dibersihkan, dibius, dicabut bagian gigi yang guncang atau tergantung-gantung. Saat disuntik bius pun saya wes gak merasa. Saya sadar pas tahu darah keluar banyak; kapas yang saya gigit harus diganti beberapa kali. Dampaknya saya langsung lemes lunglai.

“Bu Ari kalau nyetir sendiri harus istirahat setengah jam, minum air dingin dulu. Repot kalau di jalan ada apa-apa.”

Saya mengangguk saja dan njur pindah ke apotik ambil obat dan bayar, lalu thenguk-thenguk, menghabiskan banyak minuman dingin sampai berasa lebih kuat badan saya. Baru pulang.

Syukur alhamdulillah gigi wes nggak nyeri. Mandi, sholat, njur tidur. Terima kasih ya Allah, saya masih bisa melewati ujian hari ini. Itu beneran hari yang paling rusuh sepanjang hidup saya. Sudah berhenti sekali itu saja, nggak usah ada lain kali.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *