Surga di Wakatobi (17): Terimakasih, Wakatobi…!

Makan kepiting, makan rusuh. Nggak cocok untuk yang suka jaim. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah, sampai pelabuhan Kendari. Wes malam itu. Gerimis mengiringi yang bikin udara malah gerah. Di sini pas kapal sandar situasinya lebih riuh. Tukang tukang angkut barang, dengan semena-mena menarik barang bawaan kita untuk dibawakan dengan charge. Saya sempat kaget dan untung kebiasaan reflek memegang erat barang-barang saya. “Enggak, enggak. Terimakasih.”

Lha mereka nggak ada tanda pengenal, barang dibawa kabur pun saya nggak bisa mengidentifikasi wajah atau nama mereka. Tukang ojek dan mobil sewaan yang nawarin kendaraan pun sampai masuk ke ruang-ruang kapal.

Biyuuu, penumpang masih beribetan mau turun, wes disesaki tukang-tukang jual jasa. Tambah banyak orang. Untung Pak Ode cepat setuju dengan tawaran harga antar dengan mobil. Jadi kami pun cepat turun dan keluar dari keriuhan di kapal. Eh, tapi masih nungguin drivernya ambil barang titipan.

Kiri kanan tempat kami makan, dipenuhi pohon-pohon bakau. Seberang itu laut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dari pelabuhan Kendari sampai Horison, hotel kami menginap nggak jauh. Saya ki kalau habis bepergian wes ketemu tempat tidur, bawaannya ya tidur. Karena belum makan, lepas taruh barang-barang di hotel; kami keluar lagi untuk makan malam.

Janjian dengan Pak Erens di Senin malam terlewatkan; saya yang wes terlalu lelah. Tapi karena perubahan jadwal kapal dan pesawat, kami harus singgah lebih lama di Kendari. Besok masih bisa jumpa.

Oh ya, di Wakatobi saya nggak makan kepiting. Wah di Kendari malah jumpa. Ya ampun kayak dapat hadiah aja bisa makan kepiting besar tanpa gangguan. Masaknya mantap pula enaknya, haha…. Ari makan melulu yang diingat 😁🤣

Saya sampai menoleh serius ke Bu Rasiah, memastikan dia ini memang teman saya; saking lamanya nggak jumpa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kata Pak Ode pas sudah di Jawa, itu kalau orang punya asam urat, darah tinggi, atau kolesterol, bisa berhari hari nggak bangun gegara makan kepiting. Iya kan, kepiting tinggi purin dan full protein hewani. Bablas saja kalau orang yang tubuhnya sudah penuh purin dan kolesterol kok makan kepiting gitu 😁

Kalau saudara lelaki saya bilangnya, “Terberkatilah hidupmu sehat, Mbak. Masih bisa makan apa saja sepuasnya. Aku aja udah nggak berani makan seafood. Apalagi kepiting besar gitu.” Mungkin berat kepitingnya 6 ons lebih, hampir 3x lipat berat steak daging sapi yang baik 😀 Alhamdulillah, saya sehat.

Di kapal yang ribet riuh pun saat wes lelah, saya bisa tidur nyenyak. Apalagi di hotel yang nyaman dan sejuk. Pules sampai pagi. Sarapan di sini menyenangkan karena menunya macam-macam. Ada makanan tradisional, ada menu sehari-hari.

Lepas mengisi kelas di FIB Universitas Halu Oleo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Yang paling saya ingat jamu populer minuman saya sehari-hari pun ada. Beras kencur dan kunyit. Haha… tentu bukan sekedar pengaruh Jawa, tapi di negeri Sulawesi kunyit dan kencur tumbuh subur dengan buah rimpang yang besar-besar. Beda dengan Jawa yang rimpangnya kecil-kecil.

Mengisi kelas di Halu Oleo. Ramah tamah dll. Karena hari itu Bu Rasiah ada tamu bule-bule, jadi warawiri mider ke sana ke mari, berbagi hati dan waktu hanya sebentar untuk kami. Hectic begitulah. Saya siy maklumi aja. Program yang termasuk dadakan ya begitu. Paling penting sebenarnya jumpa dengan kawan-kawan lama.

Siangnya karena masih harus beberes gaweyan, saya pun kudu ngajar online; kami balik ke hotel. Janjian jumpa makan malam dengan Bu Rasiah. Beres bekerja dan mengajar online, saya sempat tidur. Hidup damai begini memang menenangkan.

Bu Rasiah nggak bisa jumpa kami karena ada urusan. Usai makan malam, kami dijemput Pak Erens untuk ngopi sampai dini hari hampir jam 01. Wah kalau diteruskan bisa sampai pagi beneran itu 😀 Ah, kalau saya ngobrol dengan orang-orang positif siy nyantai aja. Tahu-tahu ide tulisan di kepala saya wes banyak banget.

Bersama Pak Erens dan teman-teman lainnya di Kendari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya ingat cerita Pak Erens saat ngurus sertifikasi dosen. Ketika semua dosen masih beribetan koreksi ini itu (belum submit dan kunci permanen), Pak Erens yang merasa sudah rampung, ya langsung submit, kunci saja. Katanya saat itu, lolos alhamdulilah, tidak lolos ya tetap alhamdulilah; nanti diulang lagi, sekurangnya sudah menyelesaikan sebaik-baiknya.

Prinsip kerja yang sepertinya memotret cara kerja saya juga. Begitu ringan menjalani, nggak banyak pikiran. Toh lolos juga sertifikasi dosennya; dan berarti itu memang rezekinya. Karena banyak juga dosen yang berusaha mati-matian, bikin ulasan sesempurna mungkin; eh masih nggak lolos. Terimakasih banyak Erens sudah menemani dan membantu kami selama di Kendari. Sampai jumpa lagi.🙏

Keesokan paginya, Pak Ode mengisi kelas; saya thenguk-thenguk sambil merampungkan artikel-artikel di hotel. Jam 11 an lewat saya diinfo petugas hotel kalau nggak bisa extend kamar karena wes penuh. Saya bilang akan check out sesuai jadwal. Kendari memang jadi tempat lomba baca Al Quran nasional. Dan Hotel Horison berada di ring satu dari tempat penyelenggaraan lomba. Jadi pasti sudah penuh dipesan sampai acara selesai.

Saya kirim pesan ke Pak Ode agar segera balik untuk check out. Karena saya tahu, ngisi kelasnya di Prodi Sejarah; yang pasti akan molor dari jadwal. Selain jumpa teman-teman lamanya, pasti juga banyak diskusi ilmu terbaru atau hal update lainnya seputar sejarah. Dan seterusnya itu pasti bikin lupa waktu 😄😁

Kami makan siang dengan Pak Aslim (cmiiw). Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pak Ode datang dengan Pak Aslim (cmiiw), seniornya di UGM. Kami check out hotel dengan masih menitipkan barang-barang dan akan kami ambil lagi saat mau ke bandara. Kami makan siang dengan ngobrol sana sini. Lupa saya kok nggak pesan ikan masak untuk dibawa pulang. Karena ingetnya tuh masih jalan panjang. Padahal Kendari Surabaya kan nggak sampai dua jam. Wes gakpapalah. Besok-besok bisa ke Kendari lagi. Kan nggak nyeberang-nyeberang laut kalau ini😆

Kami diantar sampai bandara. Dan masih cukup waktu untuk thenguk-thenguk, nggak buru-buru menunggu pesawat datang. Sholat juga dengan tenang. Lha itu Pak Ode, sempat-sempatnya beli jajanan 😁🤣 Ya ampun, saya bae wes gak kepikiran untuk makan lagi. Tapi tetep saya ikut ngabisin jajanan Pak Ode🙈

Terbang sebentar, tenang aman, alhamdulillah Surabaya. Wes di Jawa ini. Udara Surabaya yang panas, tapi berasa “lebih dingin” daripada Wakatobi. Alhamdulillah wes balik ke habitat asal saya.😀

Terimakasih Wakatobi. Terimakasih Pak Ode. Terimakasih Pak Erens. Terimakasih Bu Tuti. Terimakasih Bu Muna. Terimakasih semua teman yang membantu dan mewarnai perjalanan saya kali ini. Semoga Allah membalas semua kebaikan dengan berlimpah berkah. Mohon maaf bila ada kata, tindak, perbuatan atau catatan tulisan yang kurang berkenan. Catatan perjalanan saya ke Wakatobi, saya cukupkan sampai di sini. Sampai jumpa di catatan perjalanan saya berikutnya. 🙏

Tamat
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *