Surga di Wakatobi (16): Kapal ke Kendari

Penginepan tempat saya tinggal beberapa hari di Wakatobi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pas mau keluar dari penginepan itu, baru saya sadar wes beberapa hari saya di pulau ini, meskipun rasanya kok baru dateng aja. Iya mungkin karena perginya pagi malem, pagi malem terus. Masuk penginapan ibarat hanya untuk tidur.

Pulau Wangi-wangi cantik banget, indah alami, dan alhamdulillah saya baik-baik aja. Nggak beribetan dengan sakit, ngedrop fisik, dll. Udara laut oksigen bersih, jadi bikin orang lebih sehat. Lidah dan perut saya juga cukup beradaptasi dengan makanan dan kulinernya.

Seperti kebiasaan kalau saya ke tempat baru manapun, pas balik selalu bilang sambil menjejak kaki ke tanah; bawa saya ke sini lagi. Sampai jumpa lagi dalam keadaan terbaik ya. Ada beberapa tempat yang nggak pernah kembali, tapi rerata bisa balik lagi dalam berbagai urusan yang berbeda 😁

Suasana pelabuhan Wakatobi pagi itu nggak terlalu ramai. Banyak orang lalu lalang, tapi masih banyak ruang yang selow. Di kapal kali ini versi saya lebih nyaman. Di atas nggak beribetan dengan lalu lalang orang dengan kaki-kakinya. Beberapa tempat juga terlihat kosong. Beberapa penuh berderet. Ada yang ribet sarapan. Ada yang ngobrol sana sini. Ada yang wes tidur (atau belum bangun?).

Di sisi lain, ada yang bekerja dengan laptopnya. Ada yang sibuk dengan HP-nya. Anak-anak lelarian. Pedagang sana-sini keluar masuk menawarkan aneka dagangannya. Beberapa petugas berseragam hilir mudik, tapi tanpa aktivitas. Kesibukan khas di atas kapal sebelum berangkat.

Di kapal saya ngapain? Bersiap tidurlah 😁 Saya mungkin jenis orang yang nggak bisa “kerja” di tengah moda transportasi. Nonton, baca, bisa, tapi kalau suruh nulis dll yang lebih banyak mikir, sepertinya wes malez duluan. Pokoknya kalau jalan kerjaan saya baca, ngobrol atau tidur. Kerjaan, ya nanti saja😁🙏

Pak Ode masih ambil barang-barang. Pas datang di kapal, dia bawa jajanan macem-macem. Ntar biasanya saya yang makan dan menghabiskan 😄😆 Setelah meletakkan barang-barang dan tasnya, kayaknya Pak Ode keliling kapal. Kawannya banyak.

Di kapal, tempat di bagian atas lebih nyaman. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya wes mager bae nggak mau naik turun. Perjalanan pagi hari itu sampai sore. Tenang banget, nggak ada ombak, nggak ada angin. Lebih tenang, nggak berisikan suara mesin kapal. Tidur senyenyaknya tanpa mendengar gedebukan langkah-langkah kaki.

Di sini dapat makan minum, tapi pas masih banyak pedagang saya jajan. Sekurangnya mata saya melek karena hari terang, wes sempat tidur, nggak capek. Kapal juga nggak terlalu penuh orang. Nggak seperti pas berangkat ke Wakatobi. Ya ampun. Situasi kapal gelap (remang-remang). Kondisi saya lelah, bingung, kaget dengan segala situasi di kapal yang belum pernah saya alami.

Orang-orang tidur bergelimpangan laki-laki dan perempuan tanpa sekat. Barang-barang entah besar kecil bagus lusuh bergelatakan di semua sisi, tanpa nomor, tanpa identitas penanda. Anak kecil yang sempat terdengar tangisannya.

Beragam kumpulan orang yang ngobrol keras-keras dengan bahasa yang nggak saya pahami. Pedagang yang seru-seruan nawarin barang dagangan. Toilet dan mushola yang jauh dari tempat saya tidur. Panas gerahnya udara terasa banget.

Kalau perut saya nggak kenyang saat itu, saya pasti sudah uring-uringan dan (mungkin) memilih turun, nggak jadi berangkat. Stres duluan saya dengan keribetan dan kerieweuhan yang nggak pernah saya pikirin.

Untung wes biasa jalan, saya coba berdamai dengan semuanya. Wes sejauh ini, kudu sampai rampung. Meskipun agak lama menyesuaikan diri, akhirnya saya bisa tidur nyenyak sampai pagi. Kalau inget-inget itu, terima kasih tubuh fisikku yang “kuat” dan “cepat” beradaptasi.

Sekarang wes ada penerbangan langsung, tentu saya lebih memilih pesawat bae. Biayanya lebih mahal, tapi jelas nggak bikin saya stres dengan suasana kapal. Toh itu juga pengalaman seru bagi saya.

Karena masih terang, pulau-pulau yang dilewati dari Wakatobi ke Kendari masih terlihat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pas balik ke Kendari ini lumayan ringan versi saya. Kapal sempat singgah sandar sebentar terus lanjut lagi ke Kendari. Laut tenang. Gugusan pulau-pulau terlihat jelas. Jelang sore Pak Ode mendesak saya turun melihat luar kapal. Seharian saya mung mager dan tidur.

Pas turun, situasi laut tenang. Beberapa kali saya melihat ikan terbang, burung-burung laut terbang rendah. Saya nggak sempat motret karena lihat laut tenang itu justru pikiran saya ingat isinya yang luar biasa. Angin bertiup lembut. Gelombang mengalun pelan. Kelip-kelip lampu di kejauhan mulai terlihat. Pulau-pulau nggak bernama banyak terlewati.

Saat itu ada Mirna, mahasiswa di Kendari yang kuliah teknologi pengolahan ikan; cerita banyak hal pada saya tentang kehidupan laut yang dijalaninya. Menyelam, menangkap ikan, bolak-balik nyeberang laut.

Tentang cita-citanya sekolah maju di Jawa, dll. Saya ki kalau ada yang ngomong sekolah di Jawa (sebagai cita-cita) sering bengong sesaat, tapi baru sadar bahwa itu nggak mudah karena jauhnya lokasi dengan yang disebut Jawa. Dan itu berarti biaya-biaya yang nggak ringan.

Lalu dia pergi karena menurutnya dingin. Angin sudah mulai berat, pun gerimis membawa dingin. Saya masih di situ saja, nggak terusik. Memikirkan betapa beragamnya jenis kehidupan.

Di kapal saya juga ngobrol dengan dua bocah yang kelihatan tenang, tapi matanya berkabut. Pas saya tanya pergi dengan siapa, jawabnya pergi dengan ibunya. Bapaknya tidak ikut harus melaut biar dapat uang. Mereka bertiga harus ke Kendari karena neneknya (dari pihak ibu) meninggal mendadak tanpa sakit.

Apa yang tertangkap dari cerita itu? Nenek meninggal mendadak, dan pasti mereka (ibu bapak anak-anak ini) nggak punya uang darurat. Biaya naik kapal bertiga, mungkin dipinjam dadakan dari keluarga lain atau tetangga. Belum barang dan uang takziah yang harus dibawa.

Jadi bapaknya (yang meskipun turut berduka karena mertuanya meninggal, tetap kudu melaut agar punya duit untuk cepat bayar utangan). Ini persepsi saya pribadi, tapi jelas kasus setipe banyak terjadi di kalangan menengah ke bawah. Jangankan dana darurat, lha hidup sehari-hari tanpa hutang saja, wes alhamdulillah banget.

Nggak lama, dua bocah itu pamit balik ke kapal. Mirna datang lagi. Katanya dia melihat kawanan lumba-lumba dari sisi kapal tempat bawaan motor motor. Wah, sayang juga saya nggak mengekori dia pas pergi tadi. Ah saya memang nggak ada niat lihat lumba-lumba di sini.

Dan kehadiran dua bocah tadi, seperti menyentil lagi sisi nurani saya lainnya. Banyak orang di negeri kita yang hidupnya masih berada dalam belenggu kemiskinan. Siapa yang bisa memangkas rantainya? Ya diri kita sendiri.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *