
Di pantai Wisata Kolo, Pulau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Penampakan pantai Wisata Kolo di siang terik. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kami di sisi lain pantai Wisata Kolo, menghindari panas. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Keindahan pantai di Kapota nggak usah saya ceritakan ya. Kedua pantai yang saya kunjungi (Pantai Wisata Kolo dan Kapota Beach, Pantai Kapota) juga setipe dengan pantai-pantai lain di Wakatobi. Keduanya memiliki pasir putih bersih dan air laut yang sangat jernih, dasar laut dangkalnya terlihat jelas dari tepian.
Suasana di pantai ini masih tenang dan alami, suara ombak kecil dan desir angin laut yang lembut. Di sepanjang garis pantai, tampak pohon kelapa dan semak hijau yang memberi kesan teduh. Cuman karena pas kami datang itu lagi panas-panasnya, yo nggak ada sejuk-sejuknya.
Penduduk sekitar beraktivitas di sini, seperti memancing, menjemur ikan, atau membawa perahu kecil ke laut. Pokoknya pemandangan lautnya cantik-cantik. Percaya deh sama saya. Kalau nggak percaya, yo dateng aja langsung ke Kapota.
Minimal harus dua orang, syukur-syukur ada orang lokal. Di sini belum ada penginapan, tapi sewa motor, perahu untuk keliling laut bisa. Rumah makan besar belum ada, tapi warung supermarket lokal cukup banyak. Toilet umum juga belum tersedia. 😀

Identitas Kapota Beach. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jalanan di sepanjang Kapota Beach. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Waktu kami balik ke Wangi-Wangi, masih dengan perahu motor yang sama saat kami berangkat. Kali ini isi perahu longgar banget, penumpangnya hanya 10 orang dan nggak bawa belanjaan mbriyut aneka rupa seperti saat berangkat tadi. Perahu sempat berputar-putar karena gangguan akibat plastik atau sampah.
Saya mung ngikik ketika Pak Ode diteriakin tukang perahu, karena belum bayar ongkos. Lho itu tukang perahunya pas kami turun juga membantu, kok ya nggak minta ongkos. “Aku lupa, Ri. Kan tadi pagi bayarnya duluan pas naik.” Apa iya, kayaknya ongkos berangkat dibayar pas sudah nyampe Kapota deh, Pak Ode😁. Tapi itu jelas lupa, bukan kesengajaan; lha bayarnya ceban saja kok.
Saya nggak ingat Pak Ode pergi ke mana setelah itu. Saya beberapa waktu mung thenguk-thenguk ngelihatin anak-anak main bola di tengah lorong pasar yang sepi. Mereka gembira betul; nggak terpengaruh kondisi “miris” lingkungannya yang sunyi.
“Ri, kamu mau ikan apa?” Itu pertanyaan Pak Ode setelah kami tiba di tempat orang jual ikan kering. Duuh, saya ditanyain ikan, yo jelas ra mudeng. Dalam konsep saya yang tinggal di Jawa, makan dengan ikan apa saja boleh; asal nggak ayam. Orang-orang dekat dan kantor atau di gaweyan pun wes tahu, kalau Bu Ari jangan kasih ayam; kalau nggak terpaksa (laper) pasti ditaruh saja. Kecuali ayam ingkung dari Imogiri (lupa saya nama warungnya) dan ayam lodo Tulungagung. Versi saya itu masakan ayam yang superenak.


Anak-anak bermain bola di lorong pasar yang sepi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Dagangan ikan asin di sini macam-macam. Dari yang kecil-kecilan sampai besar-besaran. Jangan nanya nama ikannya sama saya. Lupa semua. Pokmen dikasih tahu, ingat sebentar, njur lali 😁😂 Kebayang to, baru beberapa hari aja sudah begitu banyak hal detail yang saya lupa dari Wakatobi; apalagi tetahunan.
Dan menuliskan begini, sebenarnya bagian usaha pribadi saya untuk “melawan lupa”. Selain itu biar saya terus ingat ternyata begitu banyak nikmat yang Allah berikan pada saya lewat perjalanan. Biar nggak lupa bersyukur. Menyadari berkat Tuhan pada saya nggak selalu sama atau setipe dengan orang lain.
Biyuu, ngelihatin ikan-ikan besar itu, saya nyaris tergoda beli ini itu dan menghitung orang kiri kanan terdekat. Itu karena saya ngerasa duit tunai masih banyak, masih aman untuk beli-beli 😁🙈 Toh mikirin bawanya itu saya njur berasa malez. Gonta-ganti moda transportasi, belum bagasinya nanti.
Saya pun membeli secukupnya sekira ringan dibawa. Toh ya nggak ringan juga. Bagasinya yang pas berangkat nggak dipake, balik berubah dobel; dari 10 kg jadi 20.9 kg. Ngekek saya, mengambil semua jatah bagasi Pak Ode. Untung penerbangan domestik; overload nyaris 1 kg nya nggak didenda atau suruh bayar. Koper beranak sungguh biasa dalam piknik 😀👏


Aneka dagangan ikan kering. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Di sepanjang jalan ini banyak penjual ikan kering, dengan beragam jenis dan ukuran. Pedagang yo ramah-ramah. Ditanyain seputar ikan, dijawab dengan baik. Rerata harganya yo sama saja. Menawar? Boleh. Diberikan? Kayaknya enggak. Mungkin mereka sudah punya kesepakatan harga satu sama lain antar pedagang.
Untung ada Pak Ode. Kalau enggak, pasti saya juga nggak akan beli ikan kering. Lha itu ikan dijual lepasan tanpa kemasan. Ikannya kan harus dikemas box, dipacking rapi, baru bisa dibawa pergi. Kalau enggak, ya ampun baunya itu pasti bikin barang ditolak masuk bagasi. Terimakasih, Pak Ode.😀🙏
Setelah makan malam, kami beli oleh-oleh. Melihat aneka rupa jajanan tradisional (yang versi saya murah meriah), sudah langsung saya nunjuk ini itu. “Ari itu nggak kebanyakan?” usik Pak Ode. Oh iya, lagi-lagi masalah pindah-pindah moda transportasi dan bagasi, bikin saya hanya membeli secukupnya. Kadang muncul sifat impulsif kalau ketemu produk yang nggak ada di Jogja😁 Beneran itu kalau nggak dikurangi, saya juga repot dengan bawaan berat gitu.🙈
Pas sudah sampai hotel, entah gimana itu orang-orang yang nginep pada rame beribetan nyari tiket. Katanya tiket kapal dari Wakatobi ke Kendari untuk besok sudah habis terjual. Oh, tentu ikut paniklah saya. Lha kan di Kendari sudah ada banyak acara, kalau nggak ada tiket terus mundur, wah bisa beribet pula urusannya.


Dagangan lainnya yang juga tersedia. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Mungkin ini karena saya bukan orang lokal, nggak tahu persis situasinya. Saya lihat Pak Ode kayaknya biasa aja, nggak ada panik-paniknya sama sekali. Pak Ode juga baik banget; demi menenangkan saya, kami pun pergi ke pelabuhan. Cari tiket. Pas sudah sampai di sana, jumpa petugas kapal, ternyata tiket masih tersedia aman. Besok pagi bisa langsung beli di loket sebelum jam keberangkatan. Tiket masih tersedia sangat memadai, yang habis itu hanya tiket yang dijual secara online.
Oalah, jadi begitu ceritanya. Hiizh, itu orang-orang di hotel bikin saya ikutan panik bae. Saya bilang kalau bisa nggak di bawah yang penuh lalu lalang kaki-kaki orang. Karena masih banyak tiket, jadi bisa meminta tempat di atas yang lebih nyaman.
“Ri, seingatku naik kapal waktu lebaran pun tiket nggak pernah habis. Masa ini acara Wakatobi WAVE saja kehabisan tiket. Lebaran aku juga nggak pernah pesan tiket. Naik ya naik aja, nanti bayar tiketnya di kapal.”
Itu kayaknya penegasan mestinya tadi saya nggak usah ikutan panik. Hihi… Ya itu kan Pak Ode yang sudah biasa dengan perjalanan lautnya ke sana kemari, bukan saya😁 Dalam situasi ekstrem pun saya bukan penganut pembelian tiket go show, tiket bantingan, tiket cadangan, tiket calo, dll sebutan tiket non resmi atau standar.


Senyum ramah si penjual ikan kering. Ada ikan teri juga di sini, tapi rasanya justru manis pas digoreng. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kalau sudah niat pergi, pasti semua sudah “terkondisikan aman” jauh hari sebelumnya. Pergi dadakan ke LN pun, begitu jadwal dll fix, semua tiket dan akomodasi langsung diurus (tidak peduli kalau harga jadi tinggi karena dadakan). Yo gpp itu konsekuensi pergi dadakan karena pekerjaan, kan wes ditanggung perusahaan.
Bagian kecil putusan yang menjadi prinsip hidup saya. Saya nggak akan melakukan penghematan besar-besaran atau pembelian nggak masuk akal (murahnya), yang bisa jadi akan membahayakan keselamatan atau justru akan saya sesali nantinya. Percayalah, saya berhitung, dengan manajemen uang ketat; tapi jelas saya orang yang royal, terutama pada diri sendiri. Saya hidup sederhana sewajarnya yang membawa damai dan happy.
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari
