Surga di Wakatobi (11): Sumber Mata Air Jodoh

Pintu masuk mata air seratus (moli’i sahatu). Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pas kami masih ngobrol, Bu Tuti nanyain saya sudah ke sumber mata air di seberang itu apa belum. Saya jawab belum. Lalu dia ngajak ke sana. Katanya itu disebut sumber mata air seratus (karena banyak) dan sering juga disebut sumber mata air jodoh. Konon yang mandi di situ bisa awet muda dan lekas dapat jodoh.

Saya ngikik sekilas, “Wah repot dong Bu, kalau jodohnya jauh di sini.”

“Ya ketemu jodohnya dari tempat lain, bukan di sini.”

Saya hanya bilang iya. Meskipun kalau soal mitos yang berkaitan dengan jodoh itu, tetahunan silam kayaknya sudah saya terima. Misal kalau di acara pengantin kita dapat buket bunga pengantin, nggak lama lagi kita akan menikah. Wes embuh berapa kali saya dapat, kok ya lewat saja.

Sumber mata air yang paling besar. Di belakang saya itu pantai dan air laut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Terus katanya suruh ambil curi melati si pengantin perempuan, biar cepet menikah; kok ya lewat begitu saja. Belum lagi beberapa mitos Jawa, yang berkaitan dengan jodoh, kayaknya pernah juga kena di saya. Toh semuanya nggak mempan. Lalu saya pun wes nggak ambil pusing dengan segala mitos itu.

Terlebih setelah saya pikir-pikir, bisa jadi rezeki jodoh, pernikahan, rumah tangga itu nggak setiap orang boleh dapat seperti bentuk-bentuk rezeki lainnya. Dan kayaknya saya yo nggak apa-apa, baik-baik saja meskipun belum berjodoh, belum menikah. Saya juga nggak berpikir menjalani hidup bahagia kudu ikut patokan aturan umum, menikah, berkeluarga, punya anak-anak.

Sudah lebih dari 10 tahun pula, saya wes melepaskan diri dari keinginan mencari jodoh dan pernikahan. Toh saya hidup baik-baik saja. Kadang-kadang masalah “lajang”, “sendiri” itu hanya terasa kalau saya kudu hadir kondangan. Awal-awal dulu itu sempat saya merasa nggak enak hati, nggak nyaman dengan pertanyaan, “Datang sama siapa?”

Saya dengan Bu Tuti di bebatuan pantai areal sumber mata air seratus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Toh lama-lama yo biasa saja. Setelah itu saya menormalisasi pergi sendiri; karena kewajiban seseorang itu kalau diundang ya datang, kecuali ada udzur yang kuat. Apalagi kalau yang mengundang kita kenal baik.

Waktu itu Bu Tuti dan suaminya balik ke rumahnya dulu. Lalu menjemput kami lagi untuk bersama-sama ke mata air seratus ini. Yach, mata air ini juga salah satu keajaiban yang ada di Wakatobi. Sumber air tawar yang jernih ini berada di garis pantai, di tepi laut. Segaris dengan air laut, tapi tetap tawar, nggak bercampur air laut. Letaknya di tepi jalan, tapi untuk mencapai lokasinya, kita harus menuruni batu-batu terjal yang cukup butuh perjuangan.

Pak Ode, saya, Bu Tuti dan suaminya (Pak Damrin) di sekitaran resor pantai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saat melewati bebatuan ini, saya ingat saat pergi ke Pegunungan Bintang (Papua), ya ampuuun menuruni bebatuan lancip-lancip tajam dengan kemiringan hampir 60 derajat dengan jarak yang lumayan bikin kaki saya gemeteran. Memang benar, di Indonesia semua tempat wisata bagus, sering butuh effort yang nggak kira kira secara fisik dan mental. Untunglah menuruni batu-batu di sini nggak sepanjang ke Pegunungan Bintang itu.

Ada banyak sumber air di sini, makanya disebut mata air seratus. Salah satu yang sangat besar, biasa digunakan orang lokal untuk mandi-mandi dan aktivitas harian seperti mencuci. Percayalah airnya jernih, segar, dan kalau diminum seperti air mineral kemasan itu. Menghilangkan dahaga. Tentu saya mandi-mandi di situ. Bukan gegara mitos soal jodoh, tapi ya memang airnya sungguh menyegarkan. Tentu menyenangkan pula kalau saya awet muda 😁😂 Soal dapat jodoh gegara mandi air tawar di situ, kayaknya lebih ringan kalau saya bilang “nggak percaya” 😁

Kami berjalan dari satu sumber mata air ke sumber mata air lainnya. Sesukanya saya berhenti, ya berhenti. Mo jalan ya jalan lagi. Sore itu hanya ada kami berempat. Westalah berasa milik pribadi tenan. Nggak ada orang lalu lalang. Boleh sepuasnya menikmati seluruh pemandangan di pantai itu. Nggak ada yang mengganggu.

Pasir pantai di sini berwarna putih di sepanjang garis tepinya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kami terus berjalan sampai dekat areal resor. Di sini pasir putih terlihat lebih luas. Namun karena khawatir mengganggu tamu-tamu resor, kami nggak pergi lebih jauh. Bu Tuti menerangkan kalau seluas jarak laut di belakang resor itu sudah jadi “milik” resor karena memang begitulah aturan di situ.

Orang membeli tanah, maka bagian laut di belakang tanah itu (secara otomatis) menjadi miliknya. Wah, saya agak bengong dengar aturan ini. Apa memang begitu? Lha kalau di belakangnya itu laut dengan pulau-pulau, apakah otomatis juga jadi milik si pembeli tanah? Entahlah. Ntar kalau ada yang ngerti soal hukum ini, saya mo nanya banyak.

Usai dari sana, kami balik lagi ke jalan masuk tadi. Kami melewati lagi areal sumber-sumber mata air. Kalau nggak inget sudah sore, mungkin saya masih betah di tempat ini. Pas keluar dari tempat ini, kami harus jalan naik melewati batu-batu yang sebelumnya arah menurun.

Menara mercusuar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ya ampun, karena wes capek, berasa beut rada menggos-menggos saya jalan naik. Ampun, semangat boleh sama, menurunnya kekuatan fisik dengan bertambahnya umur, jelas nggak bisa dilawan. Jadinya saya butuh waktu lebih lama sampai ke parkiran.

Setelah itu mampir ke rumah Bu Tuti karena saya minta cangkang-cangkang keong (yang cantik). Masih dibawain oleh-oleh (lupa sebutannya), tapi makanan pengganti nasi itu bisa tahan 2 bulan. Mantap betul. Makanannya itu sampai sekarang masih tersimpan di kulkas rumah saya. Belum sempat memakannya 😀

Setelah makan minum (ringan), kami pamit. Itupun masih ditawari mandi dan makan dulu (lagi). Saya menggeleng karena nggak bawa baju ganti. Dan baju saya berasa wes kering sebelum sampai hotel. Itu gegara Pak Ode ngajak ke menara mercusuar dulu sebelum mengantar saya balik ke hotel.

Ya ampun jalanannya ke mercusuar itu… naik turun belak-belok… heizh, kadang saya heran ke mana perginya semangat petualangan saya tetahunan silam. Sekarang tuh, kalau jalan pakai “ribet” dan “capek” dikit, kalau nggak penting-penting amat, saya kok wes pilih enggak. Hemat energi biar panjang umur.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

2 Balasan untuk “Surga di Wakatobi (11): Sumber Mata Air Jodoh”

  1. soami=sebutan untuk suami yang ngeyel dipukul berkali2, eh salah, itu sebutan untuk makanan yang masih ada di kulkas dan tahan 2 bulan. ha…ha…
    molii sahatu=sebutan untuk mata air seratus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *