Surga di Wakatobi (6): Tari Kolosal yang Luar Biasa

Tanda pembukaan resmi acara Wakatobi WAVE 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah jam 15 an lebih acara wes dimulai. Panas membara sepertinya nggak mempengaruhi animo masyarakat dan peserta. Usai MC mewartakan urutan kegiatan Wakatobi WAVE, karnaval dari tiap kecamatan berparade bergantian sesuai urutan sampai memberikan penghormatan di panggung utama. Karena panas dan jarak saya ke peserta itu jauh (mereka di seberang kanan jalan), jadi saya memperhatikan dari layar besar di belakang.

Dan embuh sungguh membagongkan piye itu panitia kok meletakkan layar besar di belakang tamu undangan. Bukannya kayak begitu biasanya (atau lebih tepat) di sisi depan audiens? Jadi kami semua harus balik arah, putar kursi untuk bisa melihat atraksi, dandanan, dan aneka bawaan khas peserta karnaval.

Panas makin menyengat. Kursi-kursi tamu di tribun utama pun kepanasan dan tamu-tamu bergeser sana sini untuk menghindari panas. Saya lupa itu Pak Ode sudah balik atau belum; tapi kayaknya belum deh karena saya masih duduk sama ibu tadi dan bergeser ke tempat yang nggak kepanasan.

Pidato Bupati Wakatobi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Entah sudah sampai karnaval dari kecamatan mana waktu Pak Ode balik. Saat mendengar Pak Ode berbicara dengan orang lain, si ibu tadi mengenali logat bicaranya sebagai orang lokal. Saya ngikik aja, mendengarnya bertanya asal usul Pak Ode. Hehe… pasti tadi dia juga mengenali saya sebagai orang asing non lokal dari logat bicara saya.

Pokoknya ini acara seru banget kalau nggak keganggu panas yang nggak kira-kira. Lalu kami pindah di sisi depan, maksudnya biar nggak kepanasan. Ya masih sama aja panasnya malah harus berdiri karena nggak ada kursi di sisi kameramen ambil gambar. Cuman ya nonton atraksi bisa langsung, lebih jelas.

Saya diseru ibu-ibu panitia agar duduk bersama mereka di sisi ujung. Aiiih saya sedang malas ditanya-tanya. Karena satu ibu yang tadi aja pertanyaannya banyak, apalagi kerumunan ibu-ibu gitu. Jawab pertanyaan itu bisa bikin capek lho kalau moodmu sedang naik turun gitu. Terlebih kalau pertanyaan aneh-aneh nggak terduga 😁😜 Dengan situasi panas udara yang bisa bikin orang gampang emosi jiwa. Jadi saya nggak mau pindah. Sampai seluruh acara selesai.

Pidato Wagub Sulawesi Tenggara. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Seremonial gini yang nyebelin yo sambutan-sambutan pejabat itu lho. Suwe. Pamer. Numpang tenar. Biasanya gitu. Lho kan beneran 😜😁 Satu persatu embuh wes berapa pejabat yang bicara. Belum kiriman video-video sambutan pejabat yang ikut ditayangkan pula. 😁😜

Duuh, ini tradisi rutinan berbagai event yang saya kenali di mana-mana, tapi tetep aja nggerundel kalau kelamaan. Padahal bagi pejabatnya, ini kesempatan tampil, pamer, eksis. Kalau bisa pidatonya suwe dan semua disampaikan. Padahal makin suwe makin bikin malez 😁😂

Ada juga isi pidato mereka yang mampir di kuping saya. Kalau Wakatobi tahun ini ada 2 event besar, tahun depan ada 9 event. Embuh apa saja ntar saya tanya Pak Ode. Terus flight langsung dari Kendari Wakatobi dibuka kembali tanggal 5 atau 10 Oktober. Sekarang wes dibuka, tiketnya antara 800-850 rb, cek di marketplace langganan masing-masing ya. Bu Sherly (Gub Malut) belum datang ke acara itu karena belum ada penerbangan langsungnya.

Fashion show di lapangan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Terus acara Wakatobi WAVE 2025 ini termasuk event terbaik di Indonesia. Sudah 5x (cmiiw) berturut-turut mendapatkan penghargaan nasional. Apalagi ya? Oh, biota laut di seluruh dunia ada 750 spesies dan 500 spesies nya ada di Wakatobi. Sama harapan-harapan standar pejabat agar Wakatobi lebih baik, rakyat lebih sejahtera, bla-bla-bla….

Selesai pidato-pidato, nah ini acara nabuh gong pembukaan acara. Alhamdulillah wes dibuka secara resmi. Semua pejabat tinggi yang ikut menabuh gong. Berarti sebentar lagi acara tari kolosal. Versi banyak orang dari yang saya dengar ini acara paling ditunggu-tunggu.

Eh ternyata belum mulai tari kolosal juga. Masih ada acara fashion show ditambah atraksi tari mereka yang dandan superbesar. Hihi… saya sampai ngikik lihat mereka. Mulai dandan dari jam berapa ya mereka itu? Dan ya sungguh kuat banget mereka membawa “beban” berat di kepala sesiangan sampai malem lho. Apalagi pas malem masih dimintain foto-foto banyak orang, termasuk saya 😁😜 Hebat tenan mereka.

Sebagian penari dengan kostum “berat” dan “besar”. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya wes duduk saja, menghabiskan jajanan dan minuman sambil menikmati acara. Panas masih cetar, tapi sudah nggak sepanas jam 14 tadi. Itu sudah jam 17 lewat. Seingat saya pas tari kolosal dimulai, langit sudah berganti warna. Ada yang lebih gelap di beberapa bagian. Namun sepertinya warga yang datang semakin banyak.

Pertunjukan hebat Tari Kolosal lebih kurang 40 menit ini memang luar biasa. Semua penari (lebih kurang 1000-an, cmiiw) bergantian memenuhi lapangan Marina Togo dengan beragam kostum dan gerakan yang berbeda-beda. Tari Kolosal yang disajikan sungguh mahakarya yang istimewa. Setiap kelompok tari menggunakan kostum dan atribut yang berbeda-beda. Ada beragam jenis tari yang semuanya menggambarkan kekayaan alam dan adat budaya Wakatobi. Tari Kolosal itu versi saya sebagian dari bentuk riil cinta masyarakat etnis terhadap warisan kekayaan budaya leluhur.

Ini di Wakatobi lho, dengan jumlah penduduk yang pasti nggak sebanyak kabupaten-kabupaten di Jawa. Tentu saja anggaran pemerintah juga sesuai dengan jumlah dan komposisi penduduk. Pasti nggak banyak. Budaya bukan proyek mercusuar pemerintah. Mayoritas didanai mandiri oleh masyarakat etnisnya. Dari pertunjukan itu saya melihat semangat swadaya masyarakat yang luar biasa. Nggak mungkin atraksi sebesar itu kalau nggak karena semangat masyarakat etnis untuk melestarikan, mengembangkan seni dan budaya mereka. Sungguh luar biasa.

Sebagian atraksi penari dalam Tari Kolosal. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Wah, menyenangkan sekali saya dapat kesempatan melihat acara besar begini. Budaya kita memang luar biasa. Dari ujung ke ujung Nusantara semua indah, besar, megah. Tinggal kita saja mau atau enggak nguri-uri melestarikannya untuk kemajuan bangsa.

Acara berakhir sekitar jam 19 malam. Ramai orang berfoto di berbagai spot ikonik Wakatobi WAVE 2025. Ada yang foto-foto dengan para penari. Ada yang foto-foto dengan beragam piranti pendukung acara. Ramai lalu lalang orang di tengah keriuhan suasana. Sebagian sudah dengan membawa belanjaan dan tentengan makanan minuman.

Ada juga warga yang berlarian ke tribun utama untuk salaman dan foto-foto dengan pejabat. Suasana yang mengingatkan saya pada seremonial rutinan upacara kemerdekaan di istana negara. Byuuk, nggak peduli siapapun kalau bisa salaman dan foto-foto dengan pejabat negara. Eeh, saya enggak lho 😁😂

Sungguh elok dengan kostum berat dan atraksi sejak siang s/d malam, mereka tetap senyum saat dimintain foto. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kami malah segera melipir ke pameran UMKM untuk cari makan minum. Mengitari area pameran, melihat aneka produk yang disajikan di situ. Ada makanan,minuman, souvenir, oleh-oleh, aneka baju adat, produk laut, dll yang dihasilkan UMKM di seluruh Wakatobi. Tentu kami harus berbagi jalanan dengan banyak orang. Ada remaja yang pingsan juga dan ditandu cepat untuk dibawa ke ambulans. Biyuuu…..

Agak lama kami di sini. Melihat kerumunan orang di tengah gerahnya udara malam, saya wes memilih segera keluar saja dari areal itu. Usai makan minum, ditawari makan minum lainnya yang banyak dijual di pameran, sudah menggeleng enggak. Disuruh foto-foto di spot-spot ikonik pun sudah malez saya, karena kudu antri panjang. Bahasa simpelnya, kaki saya wes pegel dan perut sudah kenyang. Jelas kan kalau itu, maunya mandi terus tidur😁😜

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *