

Gambar-gambar seperti itu banyak di berbagai tempat di Wakatobi jelang acara Wakatobi WAVE 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sebelum masuk ke areal acara Wakatobi WAVE 2025, kami makan siang. Ada juga lho di Wakatobi ini yang jualan bakso dan mie ayam. Yang jualan orang Jawa. Dan nggak seperti bakso atau mie ayam di Jawa, di sini porsinya super besar. Pokmen kalau saya yang doyan makan aja bilang porsi super besar, wes pasti banyaknya di atas rata-rata. Kayaknya semua makanan di sini “porsi besar”. 😁😂
Sambil makan saya melihat lalu lalang penari-penari yang akan berpartisipasi di acara Wakatobi WAVE, orang-orang yang mau nonton, hilir mudik orang-orang membawa aneka piranti pentas, kendaraan motor mobil melintas silih berganti. Di sudut yang lain banyak pula rombongan orang dengan pakaian adat turun dari pick up atau mobil, lalu foto-foto di bawah pohon. Motor-motor dan mobil-mobil sebagian ada yang parkir di seberang jalan kami makan. Tanda bahwa ada kegiatan besar di sekitar tempat itu.


Saya nggak tahan untuk nggak melihat apa saja isian “menara” di atas kepala penari ini, yang ternyata hasil laut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sebenarnya jalan dari parkiran ke lokasi acara itu deket banget. Tapi ya ampun karena panas matahari jam 14-an Wakatobi beneran terik menyengat kulit dan saya seperti melihat tangan saya berasap (air menguap dari dalam tubuh); yang dekat pun rasanya nggak sampai-sampai. Belum lagi kalau Pak Ode harus berhenti-berhenti karena sapa-sapa temen-temennya (yang jumlahnya banyak itu).
Saya berusaha tutup mata kalau harus berhenti di panasan, karena beneran bikin kepala terasa nyut-nyutan. Minum air bolak-balik agar nggak dehidrasi. Kalau situasi seperti ini di Madinah atau Mekah sudah saya guyur kepala dengan air zamzam. Kalau sampai dehidrasi, hipertermia, panjang urusannya. Biasanya sebentar saja wes kering lagi itu kerudung meskipun diguyur basah air.

Di gerbang masuk Wakatobi WAVE 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya lupa ngecek berapa derajat itu suhu udara Wakatobi saat itu, tapi pasti di atas 38 derajat saking panasnya. Di sini saya yo nggak mengguyur kepala dengan air. Lha bawa air minum aja cuman sebotol, habis dong kalau diguyurkan. Lebih bagus diminum berulang. 😂😁
Kami masuk areal Wakatobi WAVE bersama dengan banyak orang yang lalu lalang. Bertemu orang-orang dengan aneka dandanan. Sebagian peserta pendukung kegiatan ini masih terlihat hilir mudik. Tentu dengan beragam dandanan dan pirantinya yang beragam.
Saya melihat di semua sisi yang disediakan tempat untuk warga wes penuh. Termasuk kursi-kursi untuk mereka warga undangan atau perwakilan. Saya berhitung cepat, mereka yang ada di kursi kursi itu dari jumlah deret ke samping dan ke belakang, pasti lebih dari 200 orang. Kalau ada 4 sisi yang ada di lapangan ini, yach lebih kurang 800-900an orang. Belum lagi jumlah tamu undangan dan pejabat-pejabat di panggung utama; mungkin sekitar 80-100 an orang. Ya lebih kurang 1000 an orang (cmiiw) di siang bolong itu yang sudah memenuhi areal Marina Togo atau Maritime Center ini.


Salah satu sisi tempat di lapangan Marina Togo yang penuh peserta. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sementara saya mendengar perwakilan peserta karnaval dan pendukung acara dari tiap kecamatan untuk kegiatan ini lebih kurang 200-300 orang. Kalau ada 8 kecamatan di Wakatobi, hitung cepat jumlah perwakilan saja wes 1600 s/d 2400 orang.
Dan pasti jumlah 1000-an orang yang sudah ada di lapangan itu akan bertambah kalau peserta karnaval bergabung duduk-duduk selepas acara. Belum lagi warga yang terus berdatangan untuk melihat acara. Pantaslah udara yang wes panas terik di tengah laut, tambah panas karena banyaknya orang di areal tersebut.
Orang sebanyak itu pun, versi mayoritas warga lokal disebut masih “sepi” karena tahun ini yang berpartisipasi hanya perwakilan setiap kecamatan. Sementara tahun sebelumnya, yang berpartisipasi seluruh desa yang ada di Wakatobi. Kebayang meriahnya. Yach, karena ada efisiensi anggaran.

Jangan selalu percaya foto, karena senyum saya ini untuk menghormati orang yang mau salaman; dengan menahan kepala yang rasanya wes nyut-nyutan gegara panas. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Versi saya, hal itu sebenarnya nggak perlu mengubah partisipasi desa dan warganya. Kan yang efisiensi itu mung dana dari pemerintahnya. Kalau kita warga, rakyat, wah urusan budaya begitu biasanya dana swadaya dan kekuatan mandiri masyarakat tetap kuat dan solid. Karena saya melihat di Jawa, perayaan Agustusan di desa-desa non bantuan dana pemerintah pun, begitu besar dan meriah. Dananya yo jelas swadaya mandiri warga desa. Apalagi event sebesar Wakatobi, pasti mereka mau berpartisipasi. Namun kalau event besarnya banyak atau berulang kali, nah itu baru jadi masalah buat warga. Malez juga kalau bolak-balik iuran dana sosial dan kerja bakti massal😆😂
Kepala saya mulai terasa pusingnya. Wes kalau sudah begitu, sulit bagi saya untuk “beramahtamah” pada orang-orang nggak dikenal. Jadi langkahnya rada cepat untuk menuju lokasi. Begitu saya duduk di tempat undangan, minum obat dulu biar nggak sampai pingsan. Areal tribun VIP dan VVIP ini pas kami datang, belum penuh dan nggak terasa panas.
Baru ada beberapa tamu undangan di situ. Ada yang ribet foto-foto di depan background. Njur pergi. Tapi ada rombongan bapak-bapak itu sudah tahu mereka lho foto di situ, dan orang-orang masih antri nungguin untuk foto, mereka malah ngobrol di situ dan nggak pergi-pergi.

Pak Ode dengan para figurannya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Karena nggak kenal, ya kami nggak bisa mengusir atau menyuruh mereka pergi. Terus mikir juga kalau ntar mereka pejabat dan tersinggung kan bisa panjang urusannya. Qkqk… jadilah fotonya Pak Ode dengan banyak figuran 😁😜 Saya bae emoh difoto dengan background mereka. Jadi yo nggak punya foto di tribun itu.
Setelah itu Pak Ode pergi entah ke mana, lha kan dia temannya banyak di tempat kelahiran. Saya masih berusaha menetralkan sakit kepala saya gegara panas matahari. Melihat lalu lalang ibu-ibu pejabat yang datang dengan dandanan menor (eh tapi itu nanti pasti luntur deh kena panas), keribetan ajudan yang juragannya minta dibawain ini itu, cipika-cipiki keramahan “standar” antar pejabat, dll.
Saya wes duduk anteng nggak nyapa-nyapa orang karena kepala masih berat. Setelah sudah reda sakit kepala, baru saya mau menyapa seorang ibu paruh baya di seberang yang bolak-balik ngelihatin saya bae. Jelas kelihatan kalau saya bukan orang lokal dan asing, makanya dia kepo. Kami ngobrol lama. Lumayan menghabiskan waktu; karena tahu sendiri acara seremonial kek gitu kan nunggu pejabatnya datang. Mana ini ada menteri-menteri (atau yang mewakili), gubernur (atau yang mewakili), bupati dll pejabat penting undangan lain-lain.
Dan beredar kabar bupati Wakatobi sempat dadakan dipanggil ke Jakarta. Saya nggak tahu saat itu sudah di Wakatobi atau belum, tapi yang jelas bupati itu sudah ada di panggung sebelum pembukaan Wakatobi WAVE.
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari
