Surga di Wakatobi (4): Sumber Mata Air Abadi

Sejuk segar sumber airnya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nggak banyak orang yang mau berbesar hati, terutama menghadapi kekalahan, kegagalan, ketidakberuntungan, kesialan, musibah, dll sebutan yang setipe. Postingan saya kemarin tentang gagalnya snorkeling, banyak respon japri ke saya.

“Sayang Ri, mestinya kamu balik aja ganti alat-alat kembali dan turun lagi.”

“Kalau aku masih di situ, pasti balik dan turun lagi, Ri. Ongkosnya ke sana kan nggak murah.”

“Bisa-bisanya kamu sesantai itu pergi ke Wakatobi nggak lihat bawah laut.”

Dll. yang intinya menyayangkan, menyesalkan apa yang saya lakukan atau alami di Sombu. Saya terima aja dengan baik. Kan mereka nggak ada di posisi saya. Nggak tahu jadwal acara saya. Nggak tahu situasi saya di sana. Dan terlebih nggak tahu kondisi fisik tubuh saya.

Sebagai orang yang nggak belia lagi, sudah banyak hal jatuh bangun kehidupan saya lewati. Lebih dari 30 tahun, saya sudah nggak pernah berharap atau punya ekspektasi tertentu pada apapun, siapapun. Dengan begitu, semua hal yang terjadi bisa saya terima dengan mudah, tanpa penyesalan. Terlebih kalau saya sudah mengusahakan terbaik (versi saya), ya wes. Mungkin itu bukan rezeki saya. Dan saya akan melanjutkan progres atau urusan lainnya.

Anak-anak gembira saja naik turun sumber itu. Banyak yang wes jago renang dan nyelam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pembelajaran itu saya peroleh ketika saya baru fresh graduated, sarjana, mati-matian melamar gaweyan di Kompas Gramedia (KG). Semua proses lolos sampai ke wawancara terakhir. Oh, saya wes pede bakal diterima karena saya tahu orang-orang kunci di situ mayoritas lulusan Sastra dan Psikologi UGM. Ada 2 kandidat terakhir, saya dari UGM dan satu lainnya dari UI. Hambok yakin, mereka kalau misalnya nilai saya saat test kerja itu ada kurang-kurang dikit pun pasti akan tetap memilih yang satu almamater. Sudah bukan rahasia lagi hal seperti ini di dunia kerja.

Ealah, dadakan saya demam tinggi, badan sakit nggak jelas, nggak bisa datang ke wawancara terakhir. Dan gagallah saya jadi bagian KG itu. Saya terpuruk, 3 hari nggak mau masuk keluar rumah. Ternyata itulah cara Allah untuk mencegah saya masuk ke bidang yang nggak terlalu saya suka. Editor tulisan, tentu saya bisa. Njelimeti satu per satu kata di balik meja malem-malem pula (karena dulu koran terbit pagi) itu jelas nggak menyenangkan bagi saya. Saya lebih senang berkeliaran di luar ruangan.

Ternyata Allah menggantinya dengan yang jauh lebih baik. Menarik saya ke Multivision Plus Jakarta tanpa test, datang tinggal urus kontrak kerja dan kesepakatan waktu kerja, bekerja dengan orang-orang yang luar biasa, iklim kerja yang kondusif, sarpras perfilman yang terbaik dan termaju pada masanya, kawan-kawan yang support, dll yang luar biasa.

Dua remaja di sumber air kedua. Airnya lebih hijau lebih jernih, tapi lebih dalam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jadi orang yang diminta bergabung, berasa “gagah” saya, minta ini itu fasilitas selengkapnya. Dan baru saya sadari kemudian, kalau saya di KG gaji saya jauh dari cukup untuk memback-up urusan saudara-saudara dan orang tua saya. Kalau di sini, duit saya masih turah banyak, saya masih bisa hidup baik, piknik sana sini tanpa rasa bersalah.

Sejak itu, saya belajar bahwa Allah lebih tahu dan lebih baik mengurusi hidup saya daripada saya atur begini begitu. Wes saya tinggal menjalani saja sebaik-baiknya, nggak perlu punya harapan begini begitu. Toh semuanya malah lebih ringan dijalani. Marah, kesal, kecewa, sakit hati ya itu bagian dari warna kehidupan. Tapi begitu sadar, ya wes saya maafkan dan terima, lalu terlupa begitu saja.

Apalagi hanya urusan kecil soal gagal snorkeling. Lain waktu bisa datang lagi. Kalau nggak, ya berarti itu bukan rezeki saya. Nggak menyesalinya karena wes saya usahakan sebisa saya semampunya.

Versi saya, kalau sampeyan ingin hidup bebas penyesalan; berhentilah berharap pada apapun dan siapapun. Cukup bergantung dan tawakal sama Allah. Atur dan program hidupmu, jalani dan usahakan sebaik-baiknya, lalu biar Tuhan mengurus lainnya. Nanti hidupmu akan terasa enteng, baik, indah, menyenangkan, banyak senyum, banyak syukur, dan banyak happy. 🥰

Pohon-pohon besar yang melingkupi areal sumber mata air. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oke, itu intermezzo panjang merespon tanggapan kemarin. Sekarang saya lanjut cerita di Wakatobi. Cuaca panas di tempat ini sangat ekstrem. Gosong. Harus banyak minum, tapi biasanya nggak banyak buang air kecil karena menguap bersama keringat. Kadang saya merasa “air” di tubuh saya ikut menguap ke udara saking panasnya.

Setelah dari Sombu, kami ke Wambuliga sebentar dan niatnya terus balik hotel. Karena acara pembukaan Wakatobi WAFE nanti jam 14-an. Saat itu wes jelang siang, hampir waktunya Jumatan.

Nah, di dekat hotel saya menginap itu ada sumber mata air di pinggir jalan. Pas baru datang, saya sudah dikasih tahu untuk mandi-mandi di situ; karena akses gampang dan airnya sangat jernih sejuk.

Orang-orang sekitar menggunakan tempat ini mandi sehari-hari. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa. Anak-anak pulang sekolah pun, taruh tas ganti seragam langsung loncat-loncat terjun mandi di air. Kami pun belok arah ke tempat itu.

Ada 3 sumber mata air besar di situ. Tempat pertama paling kecil, paling dangkal meskipun kedalaman bagian tengah ya 2 meteran, tapi kiri kanannya sumber air banyak batu besar untuk duduk-duduk dan pegangan. Tempat ini isinya cenderung anak-anak kecil dan ibunya yang mengawasi.

Sumber mata air kedua lebih besar, lebih lebar dan lebih dalam antara 4-6 meter. Di sekitar juga banyak batu besar untuk pegangan. Anak-anak remaja tanggung lebih suka pakai sumber air ini. Mereka berloncatan sambil berteriakan heboh. Seru sekali melihat kegembiraan mereka. Masuk tempat ini gratis, nggak ada charge bayar. Masuk semua areal pantai juga nggak bayar. Tapi parkir tetep bayar 😄

Batu nama di areal jalan depan sumber mata air. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sumber mata air ketiga posisinya agak di sudut, tapi jarang dipakai orang. Tentu airnya juga tetap jernih seperti sumber mata air lainnya. Mungkin terlalu dalam, jadi nggak banyak yang mau pakai. Kita kan kalau akses fasilitas yang paling gampang aja.

Versi warga sekitar sumber mata air sudah ada sejak lama banget. Leluhur-leluhurnya juga sudah mengenal adanya sumber mata air itu. Sumber mata air ini terus mengalir dengan debit air yang stabil sepanjang waktu. Bahkan di musim kemarau yang sangat panjang, sumber air ya tetap segitu gitu aja. Jernih, segar, menyehatkan. Orang-orang mandi mandi, ya minum-minum air juga di situ. Deskripsinya berasa kek penjelasan tentang air zamzam di Mekkah saja. Mata air abadi. Tapi ya itulah keajaiban sumber mata air ini.

Saya nyebur, mandi sepuasnya. Segar banget airnya. Melihat muka anak-anak yang gembira ria, saya kok ya ikut senang. Ya kegembiraan juga seperti virus, menular dengan cepat. Anak-anak itu adalah bagian dari wajah masa depan bangsa ini. Semoga mereka tetap gembira dan semangat menjemput tantangan zaman yang semakin nggak ringan.

Dalam hati saya menyebut, untung ini sumber mata air lokasinya di Wakatobi. Kalau di Jawa sudah dikomersialkan dan “disajeni”. Terlebih sumber-sumber mata air itu terletak di tempat strategis pinggir jalan, di bawah naungan banyak pohon besar berumur lewat ratusan tahun. Konon etnis Jawa memang paling “pintar” kalau urusan komersialisasi dan sakralisasi tempat dengan sesajen dan aneka ritual 😁😂

Puas mandi mandi dan ciblon, saya balik hotel. Mandi bersih, lalu tidur 😂 Ya ampun, orang-orang sekitaran saya pada heran dengan gampangnya saya tidur dan sekaligus bangunnya, tanpa rasa pusing. Haha… mungkin karena saya nggak ada beban batin atau pikiran apa-apa. Selesai satu urusan wes gak saya pikir lagi 😂😁

Jam 13.30 an saya wes rapi bersiap ke Marina Togo atau Maritime Center untuk pembukaan Wakatobi WAFE. Wah lihat list acaranya, kayaknya sampai malem itu. Dan saya ikut semangat karena dengar orang-orang di hotel juga rerata datang untuk diving dan lihat acara Wakatobi WAFE. Pasti seru ini, pikir saya antusias. Wes terlupa saja urusan snorkeling. 😁😂

Bersambung.
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *