
Jadi Penulis Produktif. Perlu buku cetak wa.me/6281380001149. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Penulis paling ahli pun sesekali membuat kesalahan tata bahasa. Masalahnya, kesalahan kecil ini dapat merusak kredibilitas Anda dan mengganggu aliran pembacaan. Pembaca yang terusik oleh typo dan tata bahasa yang salah akan kesulitan fokus pada ide besar Anda.
Mengedit tata bahasa adalah tentang disiplin. Berikut adalah tujuh kesalahan paling umum dalam penulisan bahasa Indonesia (dan tip praktis untuk menghindarinya).
- Penggunaan Preposisi Di dan Ke yang Terpisah dan Bersambung
Ini mungkin adalah kesalahan tata bahasa yang paling sering terlihat, terutama dalam penulisan online.
Aturan: Preposisi (kata depan) yang menunjukkan tempat atau arah harus dipisah. Imbuhan pembentuk kata kerja pasif harus disambung.
Contoh Salah: Disana (seharusnya di sana), di tempel (seharusnya ditempel).
Cara Menghindari: Jika Anda bisa mengganti kata tersebut dengan “di samping,” pisahkan. Jika tidak bisa, sambung.
di sana (bisa diganti di samping), di kantor (bisa diganti di samping).
ditulis (tidak bisa diganti di samping tulis).
- Penulisan Partikel -Pun dan -Per
Banyak penulis bingung kapan partikel ini harus digabung atau dipisah.
Partikel -Pun: Ditulis terpisah kecuali untuk 12 kata yang sudah baku (misalnya: adapun, meskipun, walaupun, biarpun, ataupun, kalaupun, kendatipun, siapapun, bagaimanapun, sungguhpun, jangankan, dan sekalipun).
Contoh: Anda pun bisa berhasil. (Pun berarti ‘juga’).
Partikel -Per: Partikel per yang berarti “mulai,” “demi,” atau “tiap” harus dipisah.
Contoh: Mereka bertemu per hari Kamis. Harga naik per dua minggu.
- Penggunaan Tanda Koma (,) yang Keliru
Koma adalah jeda penting dalam kalimat; menggunakannya secara berlebihan atau kurang dapat mengacaukan makna.
Fungsi Koma: Memisahkan unsur-unsur dalam pemerincian (Saya suka kopi, teh, dan susu). Memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat mendahului induk kalimat (Karena sakit, ia tidak masuk).
Kesalahan Umum: Meletakkan koma untuk memisahkan subjek dan predikat yang tidak terlalu panjang (Ani, sedang membaca buku – SALAH).
- Kesalahan Penggunaan Kata Di dan Adalah Secara Berlebihan
Beberapa penulis cenderung menggunakan di (sebagai kata kerja pasif) atau adalah secara berlebihan, yang membuat kalimat terasa pasif dan lemah.
Hindari: “Pekerjaan itu adalah untuk membersihkan.”
Perbaiki: “Pekerjaan itu membersihkan.” (Gunakan kata kerja aktif)
- Penulisan Huruf Kapital pada Istilah Unik
Penulis sering tergoda untuk menggunakan huruf kapital pada setiap istilah yang mereka anggap penting.
Aturan: Gunakan huruf kapital hanya untuk nama diri, nama geografis, singkatan resmi, dan awal kalimat. Jangan gunakan huruf kapital untuk istilah umum, bahkan jika itu adalah istilah kunci dalam tulisan Anda.
Contoh Salah: “Kami membahas tentang Karya Tulis Ilmiah.”
Contoh Benar: “Kami membahas tentang karya tulis ilmiah.”
- Penggunaan Kata Penghubung Ganda (Double Conjunctions)
Kesalahan ini terjadi ketika penulis menggunakan dua kata penghubung yang memiliki fungsi serupa dalam satu kalimat, menyebabkan pemborosan kata (redundancy).
Contoh Salah: “Meskipun dia gagal, tetapi dia akan mencoba lagi.”
Perbaiki: Pilih salah satu. “Meskipun dia gagal, dia akan mencoba lagi.” ATAU “Dia gagal, tetapi dia akan mencoba lagi.”
- Penggunaan Tanda Hubung (-) untuk Menghubungkan Semua Kata
Tanda hubung digunakan untuk menghubungkan unsur yang memiliki hubungan erat atau mengulang kata. Penulis sering salah menggunakannya untuk semua gabungan kata.
Gunakan untuk: Kata ulang (berlari-lari), gabungan unsur dengan imbuhan () di-PHK), atau untuk memperjelas makna (ibu-bapak vs ibu bapak).
Hindari: Menggunakan tanda hubung untuk semua gabungan kata yang sudah padu.
Tata bahasa yang benar adalah bentuk penghormatan kepada pembaca Anda. Dengan secara rutin memeriksa tujuh kesalahan umum ini saat mengedit, Anda akan memastikan bahwa tulisan Anda tidak hanya brilian secara ide, tetapi juga bersih, profesional, dan sangat mudah dipahami.
Ari Kinoysan Wulandari
