Sekolah Memang (Nggak) Gampang

Wisuda S-3 di kampus FIB UGM tahun 2018. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kasus dugaan ijazah palsu sang mantan Presiden Joko Widodo yang begitu heboh dan muncul beragam tudingan, fitnah, saling serang, dll disusul pula dugaan ijazah palsu sang putra mahkota yang jadi Wapres Gibran Rakabuming Raka pun ikut memanas. Belum lagi kasus-kasus setipe yang terjadi pada banyak pejabat dan petinggi negara dan banyak lagi kasus sejenis pada public figur dari beragam bidang kerja. Sesuatu yang menandakan bahwa dunia pendidikan kita memang “nggak baik-baik” saja.

Kalau ada yang bilang sekolah itu gampang, coba deh tanya lagi sama anak-anak yang tiap hari harus bangun pagi, ngantuk di kelas, PR numpuk, plus ulangan yang datang tanpa basa-basi. Sekolah tuh memang perjalanan panjang yang bikin capek, kadang bikin senyum, tapi malah sering kali bikin kita pengen teriak, “Kenapa sih susah (sulit) banget?”

Hal pertama yang bikin sekolah terasa ribet jelas soal tugas dan nilai. Matematika dengan rumus yang muter-muter, bahasa dengan esai yang panjang-panjang, IPA dan IPS dengan hafalan yang nggak ada habisnya. Padahal, nggak semua orang jago di bidang itu. Ada yang otaknya encer di Matematika tapi belepotan kalau disuruh bikin cerpen. Ada juga yang jago gambar, tapi mumet kalau ketemu tabel periodik.

Masalahnya, sistem sekolah kita memberi tuntutan agar siswa oke di semua mata pelajaran. Jadinya apa? Ya jelas, banyak anak yang ngerasa nggak cukup baik, padahal sebenarnya mereka punya bakat lain yang nggak kalah keren.

Selain tugas, dunia pertemanan juga punya cerita sendiri. Buat sebagian orang, sekolah itu tempat nemuin sahabat sejati, geng seru, atau partner kerja kelompok yang bisa diandalkan. Tapi, ada juga yang justru ngerasa sekolah jadi medan perang karena ada drama, gosip, bahkan bullying (perundingan).

Nggak heran, kadang ada yang bilang sekolah itu lebih melelahkan secara mental daripada pelajarannya. Bayangin, harus mikirin nilai yang udah bikin pusing, ditambah lagi drama sosial yang bikin hati panas dingin.

Jangan salah, bukan cuma murid yang pusing. Guru juga punya tantangan. Mereka harus ngadepin puluhan anak dalam satu kelas, dengan karakter yang beda-beda. Ada yang aktif banget, ada yang diem aja, ada juga yang sukanya bikin onar. Bagi guru, ngajarin anak-anak itu nggak sekadar nyampein materi, tapi juga butuh kesabaran ekstra.

Orang tua pun sering kebagian “PR tambahan”. Mereka harus nemenin anak belajar di rumah, ngelesin di luar (bimbel), keluar duit buat keperluan sekolah, dan kadang ikut stres kalau anaknya mulai ngeluh. Ada yang santai, ada juga yang justru makin nambah tekanan karena pengen anaknya selalu ranking satu.

Di balik semua drama itu, sekolah punya banyak momen seru. Main bola pas istirahat, ketawa bareng di kantin, sampai pengalaman pertama ikut lomba atau tampil di depan kelas. Hal-hal kecil kayak gitu justru sering jadi kenangan manis setelah lulus.

Sekolah juga ngajarin kita hal-hal penting di luar buku pelajaran. Dari belajar kerja sama pas bikin proyek, belajar ngadepin kegagalan waktu nilai jeblok, sampai belajar tanggung jawab kalau lupa bawa tugas. Semua itu bikin kita jadi lebih tangguh menghadapi dunia nyata.

Di tingkat pendidikan yang lebih tinggi (kuliah) juga lebih kurang setipe. Program sudah penjurusan, tapi semua studi masih harus meribetkan tetek bengek perkuliahan dasar (MKU) yang sebenarnya wes gak begitu relevan lagi untuk programnya. Tuntutan lulus banyak SKS, selain bikin mumet mahasiswa dan masa studi lama (yang berimbas pada banyak pengeluaran, mahal) membuat kuliah sering jadi momok bagi masyarakat menengah ke bawah.

Makin tinggi tingkat sekolahnya makin ruwet aturannya. Studi S-1, S-2, S-3 bukan hal yang menyenangkan bagi banyak orang karena tuntutan ekstrim agar “lulus” tepat waktu.

Nggak heran kalau banyak lulusan sekolah tinggi yang begitu jadi pejabat publik njur dipertanyakan soal kelulusannya, bahkan dikuliti ijazahnya, nilai-nilainya, sekolah/kampusnya, kawan-kawannya, dll. Ya karena mereka pejabat kok pahpoh, ngahngoh, bikin kebijakan geje, gakbisa bikin sambutan, gakbisa pidato, waton jeplak kalau bicara, dll yang sangat tidak mencerminkan mereka lulusan sekolah tinggi.

Jangan salah, gelar dari sekolah tinggi nggak selalu berarti seseorang bisa memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan mental, dan kecerdasan spiritual yang tinggi pula. Karena itu semua baru bisa diperoleh atau didapatkan dari kesungguhan belajar, beradaptasi, mengikuti proses sekolah dengan wajar. Bukan tembak nilai, bayar beli ijazah dari kampus yang embuh pula status akreditasinya.

Saya wes melewati proses sekolah dari tingkat dasar sampai yang paling tinggi (S-3, Doktor) dari sekolah-sekolah dan kampus terbaik di dalam negeri, tahu betapa nggak user friendly-nya sistem pendidikan kita untuk peserta didik. Beruntung, saya bersaudara tumbuh di lingkungan yang nggak menganggap sekolah kudu nomor 1, kudu terbaik dengan cara apapun.

Wisuda S-3 di halaman Graha Sabha Permana UGM, Januari 2018. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nggak ada orang tua kami begitu. Sekolah ya biasa saja bagi kami. Usahakan yang terbaik dengan cara yang baik dan menyenangkan. Jadi, saya sekolah nggak ada tuntutan kudu juara satu, kudu begini begitu. Jadinya, saya tahu bagian atau subjek pelajaran yang saya senang, nilainya tinggi. Yang nggak senang, nilai kebanyakan ya cukup standar saja untuk kelulusan atau naik kelas.

Lalu apakah dengan standar “sederhana” saat sekolah itu bikin hidup saya nggak baik? Yo enggak tuh. Malah banyak temen yang dulunya pinter-pinter jadi stres karena tuntutan berlebihan dari orang tuanya atau dirinya sendiri pada standar angka dan konversi nilai.

Sekolah saya pun jadi lebih menyenangkan. Semua saya lewati dengan cepat dan hasil terbaik, ya justru karena nggak ada beban. Tapi sekolah sesuai pilihan, yang saya senangi, dan keahlian saya pun terbentuk dengan lebih mudah karena ada kesadaran dari diri pribadi.

Bukan berarti saya bilang sistem pendidikan di negeri kita mudah ya. Sulit, bahkan termasuk sulit banget. Berat betul sekolah di Indonesia karena dituntut semua serba bisa, serba bagus sesuai standar “sama”. Padahal sudah jelas kemampuan dan bakat tiap orang berbeda.

Jadi, nggak heran kalau banyak yo nggak mau ribet, punya duit, dan mental ngaji mumpung, wesbayar saja untuk nilai-nilai dan ijazahnya. Ya bisa jadi memang nggak ada yang tahu. Apalagi kalau nggak jadi pejabat publik atau kerja formsl yang beribetan dengan nilai dan ijazah. Iya kan, kalau membohongi orang lain itu mudah. Yang nggak mudah itu kan kalau membohongi diri sendiri. Sampeyan tahu persis apa yang telah anda lakukan.

Solusinya bagaimana? Saya bukan akademisi yang dari awal usia produktif kerja nyemplung dunia pendidikan. Menjadi dosen juga baru seumur jagung. Tapi versi saya, kasus-kasus jual beli nilai, jual beli ijazah, ijazah palsu, jasa bikin skripsi, tesis, disertasi, dll publikasi untuk kepentingan pendidikan itu; nggak akan terjadi atau minim-lah kalau aturan main dan syarat kelulusan pendidikan atau sistem nya secara umum lebih ramah dan mengutamakan minat bakat pribadi, meskipun belajar secara kolektif.

Misalnya: PAUD-TK itu ya wes bermain, beradaptasi, bersosialisasi, seni praktis menari menyanyi, etika dasar. Nggak malah dibebani calistung yang kalau saya lihat pun mumet, apa lagi guru-guru dan muridnya.

Lalu SD-SMP nah di sini kasih keterampilan ilmu dasar calistung dan etika-etika atau budi pekerti untuk tingkat madya. Lalu di SMA baru persiapan untuk program penjurusan ke perguruan tinggi yang dituju. Ditambah pengetahuan etika yang lebih tinggi dan pengetahuan global (bahasa Internasional, teknologi informasi, public speaking, etika Internasional, dll nilai-nilai universal).

Di perguruan tinggi? Ya mestinya wes kuliah sesuai jurusannya saja, non MKU (ini hampir 1/3 lho dari total 144-156 SKS). Buang buang waktu dan nggak relevan. Apa coba relevansinya Pancasila, Pendidikan Agama untuk Jurusan Sastra Indonesia? Suruh bikin Sastra Pancasila? Yang bener aja…. ini sudah selesai mestinya saat anak wes menempuh PAUD s/d SMA. Nggak perlu ngulang lagi. Apamaneh kalau kurikulumnya gonta-ganti tiap kali menteri atau dirjennya lampu merah alias berhenti 😁

S-2 ya wes simpel saja, nggak perlu ada matkul umum lagi. Perlunya bikin laporan riset (tesis) atau studi terapan dengan produk. Jadi 1 tahun rampung dan nggak mengulang-ulang matkul S-1.

S-3 mestinya juga didesain lebih sederhana tapi komprehensif. Nggak perlu kuliah lagi. Ya wes tinggal laporan riset (disertasi) atau produk untuk studi terapan; tentu dengan standar yang lebih tinggi dari S-2. Jadi 1-2 tahun bisa kelar.

Mungkin kalau begitu, bisa jadi sekolah di Indonesia terasa lebih ringan, biaya lebih sedikit, waktu lebih sedikit, dan relatif nggak memusingkan yang mau sekolah.

Sekolah di Indonesia mau di tingkat dasar, madya, maupun tinggi memang (nggak) mudah. Dibandingkan sisi nyenenginnya, lebih banyak ribetnya. Kadang bikin nangis, kadang bikin berhenti aja saat beribetan dengan segala aturan yang terasa “nggak manusiawi”.

Tapi satu hal yang pasti: sekolah bukan cuma soal nilai dan ijazah, tapi juga tentang perjalanan yang membentuk siapa kita nanti. Kalau kita bisa nikmatin prosesnya, sekolah bakal jadi cerita seru yang suatu hari bakal kita kenang dengan senyum; meski dulu rasanya pengen cepat-cepat lulus.

Bagaimana cerita sekolahmu? Seru? Menyenangkan? Kamu termasuk orang yang beruntung.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *