
Bahkan untuk membicarakan buku saja (Bedah Buku), kita memerlukan uang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada kenyataan bahwa uang adalah bagian penting untuk memenuhi kebutuhan. Namun, ada kalanya muncul perasaan malu atau gengsi untuk berkata jujur, “Saya perlu uang.”
Padahal, mengakui kebutuhan finansial bukanlah sebuah aib. Versi saya ini adalah hal yang lumrah. Perlu uang sebagai tanda bahwa kita manusia biasa yang punya kebutuhan, tanggung jawab, dan keterbatasan.
Banyak orang merasa gengsi karena takut dinilai lemah, nggak sukses, atau kurang mandiri. Ada juga yang khawatir akan dianggap hanya mengejar materi. Budaya “harus terlihat cukup”, seringkali membuat orang menutupi kenyataan finansialnya, meskipun sebenarnya sedang kesulitan.
Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Dari makan sehari-hari, pendidikan anak, hingga biaya kesehatan, semuanya berkaitan dengan finansial. Mengakui bahwa kita butuh uang bukan berarti mata duitan, melainkan menyadari realitas hidup.
Kesadaran diri itu membuat saya mudah kompromi dengan industri. Dalam menulis pun, saya sadar betul; menulis bagus dan berkualitas itu kewajiban, tapi bahwa buku-buku dan atau karya lainnya (sinetron, series, film, dokumenter, lagu, puisi, dll bentuk dari karya tulisan) itu harus bisa dijual syukur-syukur bestseller, hits, ranting, box office; itu adalah kesadaran penuh: bahwa hanya dengan menulis karya yang laku, saya bisa survive hidup sebagai penulis.
Jujur tentang kebutuhan finansial bisa menjadi langkah awal menuju solusi. Dan itu sudah menjadi kebiasaan saya bertahun-tahun sebagai penulis profesional. Begitu ketemu calon klien, maka standar kita kenalan (kalau belum kenal). Lalu membicarakan konsep dan pekerjaannya, termasuk kruncilan yang sering dianggap sepele (riset, ke lapangan, terjemahan, izin-izin, dll) yang versi banyak orang itu nggak perlu dibiayai–padahal realitanya itu bisa menyedot maksimal dari budget anggaran pengadaan buku.
Setelah sepakat semuanya, saya akan langsung bicara tentang uang. Berapa saya dibayar, sistemnya bagaimana, siapa penanggung jawab atau orang yang harus saya tagih, dll force majeur yang berkaitan dengan tugas tanggung jawab dan hak pembayaran yang harus saya terima.
Alhamdulillah, saya sering takjub ketemu klien yang wes nggak banyak ribet, transfer aja dan kita pun bekerja. Saya termasuk yang percaya, kalau petungnya mudah, hasilnya juga lempeng bagus. Tapi kalau dari awal wes ruwet (misal nggak tepat waktu, gonta-ganti tempat meeting, jam, mangkir ini itu), cenderungnya gaweyannya dan pembayarannya yo ribet.
Jadi kalau sudah ada tanda 1,2 kayak gitu, biasanya saya langsung pilih “nggak menerima”. Kalau nggak enak nolaknya, suruh manajer aja yang menolak. Kalau uang DP sudah dibayar, kembalikan saja biar nggak nyicrit ribut di sosmed. Duit bagi saya memang sangat penting, tapi kalau proses kerjanya nggak bikin happy, weslah cari kerjaan atau klien lainnya saja. Kesehatan jiwa raga fisik mental itu penting.
Dalam keluarga, terbuka soal kondisi keuangan dapat mencegah konflik. Dalam pekerjaan, berani menyebut kebutuhan gaji atau honor yang sesuai justru menunjukkan profesionalisme. Dalam pertemanan, jujur menolak ajakan nongkrong karena alasan finansial lebih baik daripada memaksakan diri.
Kita perlu mengubah perspektif: mengatakan “saya perlu uang” bukanlah kelemahan, tapi sebuah kejujuran. Sama halnya ketika kita mengatakan “saya lapar” atau “saya butuh istirahat.” Dengan mengakui kebutuhan, kita belajar merencanakan, mencari solusi, bahkan membuka peluang baru.
Nggak ada yang salah dengan kebutuhan finansial. Yang keliru adalah berpura-pura mampu saat kenyataannya nggak begitu. Jadi, jangan malu berkata: “Saya perlu uang.” Karena dari kejujuran itu, kita bisa belajar mengatur diri, mencari jalan keluar, dan tetap menjaga martabat tanpa harus terjebak dalam gengsi.
Sederhana saja, kalau nggak perlu uang, ngapain kita tiap hari capek-capek kerja dengan segala problematikanya yang kadang bikin emosi jiwa juga? Jawaban jujur sudah pasti sampeyan temukan di hati masing-masing. 😀
Ari Kinoysan Wulandari
