
Topeng-topeng unik dan berkarakter khas Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Selepas pandemi, saya lebih sering ikut open trip (OT) daripada mengatur trip pribadi. Mengikuti OT lebih praktis dan seru; biaya sangat terjangkau, destinasi sudah jelas, jadwal sudah diatur rapi, teman perjalanan bertambah, nggak ribet dengan birokrasi perizinan. Tapi, sebagai orang yang doyan dolan sejak belia, saya tahu persis bahwa budget yang dianggarkan oleh biro travel sering kali hanya pengeluaran di permukaan. Banyak komponen yang belum ditanggung.
Biasanya saya menyediakan dana 100-150% dari besaran biaya yang saya bayarkan untuk OT; untuk oleh-oleh dan berbagai hal. Wes itu, hitungan paling gampang dan bikin saya merasa nyaman aja ikut OT. Nanti akan saya spill anggaran dan penggunaannya. Dan tiap orang bisa saja sangat berbeda ya keperluan dananya, tergantung tujuan dan penggunaannya.

Contoh oleh-oleh dari Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Di luar program yang sudah ditentukan biro, ada banyak hal kecil yang bisa bikin perjalanan OT makin berkesan. Biar tetap hemat dan sesuai kantong, penting untuk menyiapkan budget tambahan dan tahu prioritasmu. Ingat ya, list prioritasmu dan sesuaikan dengan budgetmu. Bukan ikut-ikutan orang lain. Berikut ini beberapa hal yang bisa kamu lakukan di luar agenda OT, untuk memberi acuan dalam mengatur budget.
Pertama, cicipi kuliner lokal. OT biasanya menyediakan makanan standar, tapi jangan lewatkan kesempatan mencicipi hidangan khas daerah. Bagi yang pertama kali ke Bali, sisihkan budget khusus untuk kuliner (misalnya Rp100.000 sd 200.000 per hari). Cari rekomendasi warung lokal atau street food. Utamakan makanan khas yang sulit ditemui di kotamu.

Contoh souvenir dari Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kalau sudah bolak-balik ke Bali ya nggak usah. Atau kalau kamu nggak sreg dengan makanannya, yo nggak usah sok familiar bisa makan apa saja. Perutmu sakit nggak ditanggung biro! Atau kalau makanannya kayak enak, tapi harganya nggak sesuai budgetmu, coba cari rekomendasi yang lebih sesuai dengan kantong.
Kedua, belanja oleh-oleh seperlunya. Oleh-oleh memang menyenangkan, tapi jangan sampai jadi beban. Tentukan anggaran khusus (misalnya maksimal 30-50% dari total budget). Pilih oleh-oleh praktis: makanan kering, kopi, kerajinan kecil. Batasi belanja hanya untuk keluarga inti atau teman dekat.

Sisi depan pusat oleh-oleh Joger. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Ikut OT dengan Sering Travel ini kita diajak ke pusat oleh-oleh Djoger, Krisna, dan Dewata Agung (pusat produksi pie susu). Tentu di sini macem-macem jenis oleh-olehnya. Kalau sampeyan memang perlu dan budgetnya ada atau sesuai, ya belilah. Tapi kalau nggak beli, tenang aja, kamu nggak perlu berkecil hati dengan mereka yang belanja-belinji. Kamu nggak minta uang mereka dan bisa jadi tujuan piknikmu memang beda dengan mereka yang belanja banyak oleh-oleh.
Aturan ini sudah saya pake secara ketat untuk diri sendiri. Jadinya saya nggak pernah nanyain teman sebangku, sekamar, seperjalanan dalam OT belanja apa saja, makan apa saja. Itu urusan mereka, bukan urusan saya. Dan saya disiplin sekali pada diri sendiri agar nggak kepoan, julidan, nyinyiran pada orang lain. Karena saya juga nggak demen orang lain berlaku begitu pada saya.

Prinsip hidup di areal Joger. Jahid, jakup, jamul, jamat, japer, jagim. Intinya agar hidup selamat setiap orang harus jaga hidung, jaga kuping, jaga mulut, jaga mata, jaga perasaan, dan jaga iman. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Itu prinsip sederhana yang aman untuk semua perjalanan dengan beragam orang dari berbagai latar belakang dan tingkatan sosial ekonomi yang berbeda. Kecuali, mereka nanya minta bantuan sebaiknya beli oleh-oleh apa, di mana, dll. Kalau saya tahu, saya jawab. Kalau nggak, nanya TL atau guidenya.
Ketiga, eksplorasi waktu luang. Gunakan jeda waktu kosong untuk melihat sisi lain destinasi. Pada saat kami sudah check in hotel, saya tahu banyak yang masih keluar lagi berkeliaran untuk tujuan masing-masing. Ada yang cari makanan, oleh-oleh, pergi ke tempat wisata lain, dlsb.
Kadang mereka yang begini juga cari spot sekitar penginapan untuk jalan santai, berinteraksi dengan warga lokal (bisa dapat cerita unik), hunting foto atau video tanpa harus keluar uang. Ini memang bagus dan menyenangkan.

Bagi penggila cokelat, Bali sudah punya banyak signature-nya. Pilih-pilihlah yang sesuai. Rerata nggak pahit meskipun porsi cokelatnya 65%. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Tapi kalau dirimu nggak sekuat mereka, sudah lelah, dan hanya ingin segera tidur istirahat, ya tidur saja. Nggak usah sok-sokan tenggang rasa sama mereka yang masih cukup energi (dan uang) untuk ubyang-ubyung. Ingat, kalau kamu sakit mendadak atau anggaranmu jebol, mereka nggak ikut menanggung.
Keempat, ikut aktivitas opsional. Banyak OT menawarkan tambahan kegiatan. Seperti OT ini saat di Panglipuran ada sewa baju adat Bali, di Tanjung Benoa ada macem-macem wahana water sport, di Tanah Lot ada nonton Tari Kecak. Helooo… kalau ada rupa-rupa begini, pastikan tanya harga aktivitas opsional sebelum ikut. Pilih yang sesuai minat (jangan ikut hanya karena teman ikut). Pastikan budget nggak mengganggu kebutuhan utama. Pokoknya urus prioritasmu, cek-cek budgetmu.
Kelima, nikmati hiburan sederhana. Nggak semua kesenangan butuh biaya mahal. Coba nikmati sunset atau sunrise gratis di spot terbuka. Dengarkan musik jalanan atau tontonan lokal. Nikmati ngobrol santai dengan teman-teman baru.

Tempat pembelian oleh-oleh paling hits di Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Keenam, dokumentasikan perjalanan. Kenangan perjalanan bisa abadi lewat foto dan video. Meskipun dari biro sudah ada dokumentasi, tetap gunakan kamera ponsel untuk dokumentasi sederhana. Simpan file di cloud/drive agar nggak hilang. Jika ada budget lebih, pertimbangkan sewa fotografer lokal untuk foto-foto dan dokumentasi yang lebih baik.
Intinya, ikut OT nggak akan mengcover seluruh keinginan piknikmu. Siapkan dana tambahan sekurangnya 30-60% dari biaya OT untuk hal-hal di luar program. Pastikan kamu tahu prioritas dan fleksibel. Pilih aktivitas dan pembelian sesuai dengan keinginan dan kemampuanmu, bukan sekadar ikut-ikutan.
Ari Kinoysan Wulandari
Bersambung
