Bali Lovina (7): Tanah Lot, Air Suci dan Penunggunya

Penanda pura di Tanah Lot dimuliakan, dianggap luhur. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kunjungan kami berikutnya ke Tanah Lot. Terletak di Kabupaten Tabanan, sekitar 20 km dari Denpasar, Tanah Lot menjulang kokoh di atas batu karang yang besar. Saat air pasang, pura ini tampak seperti mengapung di tengah laut. Keindahan panorama matahari terbenam di balik siluet pura membuatnya menjadi ikon Bali yang mendunia. Tanah Lot bukan sekadar destinasi wisata. Ini adalah pusat spiritual, tempat di mana mitos, alam, dan keyakinan berpadu.

Sejarah Tanah Lot nggak bisa dilepaskan dari kisah Dang Hyang Nirartha, seorang pendeta dari Jawa yang menyebarkan ajaran Hindu ke Bali pada abad ke-16. Dikisahkan, Nirartha melakukan perjalanan spiritual dan sampai di sebuah pantai dengan batu karang besar yang menjorok ke laut.

Tanah Lot di belakang saya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sang Pendeta merasakan aura kesucian di tempat itu, sehingga memutuskan untuk mendirikan pura di atas karang tersebut. Namun, raja setempat saat itu merasa terganggu dan mencoba mengusir Nirartha. Konon, dengan kekuatan spiritualnya, pendeta sakti ini berhasil memindahkan karang ke tengah laut. Selanjutnya karang tersebut menjadi pulau kecil yang kini dikenal sebagai Tanah Lot; yang berarti “tanah di tengah laut”.

Di kaki karang Tanah Lot terdapat sebuah mata air yang unik. Meski dikelilingi air lautan asin, airnya tetap tawar. Umat Hindu percaya air ini adalah tirta suci, lambang pemurnian lahir batin. Saat upacara keagamaan, air suci ini digunakan sebagai sarana penyucian. Sementara wisatawan kerap merasakan kesegarannya dengan membasuh wajah atau meminumnya sedikit. Keajaiban air ini menjadi salah satu bukti bahwa Tanah Lot bukan sekadar tempat wisata, melainkan ruang sakral yang dijaga oleh alam itu sendiri.

Selain air suci, Tanah Lot dikenal dengan ular laut sucinya. Ular-ular ini hidup di celah karang dekat mata air, dipercaya sebagai jelmaan selendang Nirartha. Mereka dianggap sebagai penjaga pura dari energi negatif dan gangguan roh jahat. Meski berwujud ular berbisa, masyarakat meyakini ular ini nggak berbahaya, kecuali diganggu. Keberadaannya justru memperkuat aura mistis sekaligus kesakralan Tanah Lot.

Gua tempat tinggal ular suci di Tanah Lot. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tanah Lot bukan hanya keindahan yang memanjakan mata, tapi juga kisah spiritual yang menyentuh jiwa. Laut, karang, air tawar, dan ular laut bersatu dalam harmoni, menghadirkan sebuah ruang sakral yang melampaui sekadar panorama.

Inilah sebabnya Tanah Lot nggak pernah kehilangan pesonanya. Ia bukan sekadar tempat untuk menikmati matahari terbit atau terbenam, tapi juga perjalanan batin; sebagai pertemuan antara manusia, alam, dan yang ilahi.

Pada saat kami di sini, suasana ramai sekali. Tumplek byuk orang-orang dari berbagai tempat di penjuru negeri. Antrian di depan tempat air suci mengular panjang. Sementara beberapa orang terlihat di depan sisi gua tempat “ular suci” konon bermukim.

Keramaian Tanah Lot saat kami datang. Makin sore makin penuh. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya, selain sudah cukup lelah, keramaian orang juga sering membuat pening mendadak (kekurangan oksigen bersih). Karenanya saya sadar diri, nggak cari perkara dengan urusan kesehatan. Begitu selesai minta foto-foto dari Kak Bebe, mider di beberapa sudut untuk ambil foto. Njur minum dan thenguk-thenguk saja menyaksikan orang lalu lalang dengan aneka dandanan rupa-rupa.

Sebenarnya ada keinginan untuk melihat ular sakti di gua dan antri air suci. Dulu-dulu saya nggak pernah kepikiran tentang dua hal ini. Ke Tanah Lot, datang ya datang aja. Motret sunrise atau sunset, mider keliling, njur pulang. Cuma gegara cerita Mbokde Saori tentang spirit “berkah rezeki dan kebaikan” via pertemuan dengan ular sakti dan minum air suci, saya jadi tergoda.

Iya dong, kalau kamu doyan dolan nggak cukup sekedar “katanya” atau mendengar cerita. Datang dan buktikan keberadaannya. Cuma karena energi saya sudah lumayan tipis, saya mundur teratur. Apalagi ini jelang maghrib, energi “kaum tak nampak” begitu jauh lebih besar daripada kita. Makanya orang Jawa punya istilah “kesurupan” yang berarti dimasuki “makhluk asing” saat surup “maghrib”.

Jelang maghrib menuju tempat pertunjukan Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Urusan-urusan nggak kasat mata begini, bisa ribet bermasalah kalau kita nggak sedang full energi. Kita bisa kalah lawan kekuatan gaib. Lha celaka kalau kita bisa masuk dunia mereka, nggak bisa balik. Kalau energi kita sedang full siy, aman-aman aja. Kita menang, karena kita “berjiwa dan berfisik”. Versi saya, ternyata menarik juga mendengar kisah-kisah orang lokal Bali tentang betapa sakti dan bertuahnya si ular dan air suci Tanah Lot ini. Wallahu a’lam tergantung mereka yang meyakininya.

Ari Kinoysan Wulandari
Bersambung

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *