Bali Lovina (1): Demi Ketemu Lumba-lumba

Saya dengan Bu Sri (owner Bali Media Grup) usai siaran tentang Herbal dan Pengobatan Tradisional Bali untuk radio Bali.

Dari seluruh tempat di Indonesia, Bali paling indah dalam versi saya. Sejak belia saya sudah jatuh cinta dengan Bali. Alamnya yang indah, budayanya yang kuat terjaga, masyarakat pekerja seni yang ramah, dan tentu kemajuan zaman nggak membuatnya “berubah” dari adat tradisinya.

Sejak belia pula sudah nggak terhitung berapa kali saya ke Bali. Adik saya pun ada yang kuliah di Udayana, Bali. Beberapa orang dekat dan sahabat saya juga tinggal menetap di Bali. Kalau biaya hidup di Bali nggak mengikuti standar USD, mungkin saya pilih menetap di sini. Selain itu, karena saya muslim, kalau di Bali jelas butuh usaha lebih untuk ibadah. Gema adzan nggak akan bersahutan merdu seperti di Jogja.

Toh negeri seribu pura ini serasa rumah “kedua” yang paling sering saya tinggali selain Jogja. Terlebih ketika saya menetap kerja sebagai script editor ngurusin sinetron dan film di Multivision Plus Jakarta, Bali adalah tempat “menghilang” dari rutinitas kerja yang melelahkan.

Saya akan terbang Sabtu pagi-pagi ke DPS lalu kembali ke JKT Minggu dengan penerbangan paling malam. Hampir tiap bulan begitu selama 12 tahun. Ngapain saja di Bali? Ya suka-suka. Kadang jalan, piknik, wisata kuliner, belanja, melukis, kadang cuma pindah tidur tanpa gangguan. Bali adalah sisi lain yang saya kenali dengan sangat baik setiap sudut wisatanya.

Meskipun begitu, ada tiga tempat yang hampir setengah abad umur saya belum pernah saya tengok di Bali. Pantai Lovina. Desa Panglipuran. Desa Adat Pegringsingan. Entah ada aja sebab nggak jadi ke tempat itu. Terakhir di 2019, saya dengan sahabat wes ngatur piye caranya bisa ke tempat-tempat tersebut secara mandiri.

Saat itu saya ada gaweyan di KL. Karena sahabat saya selow, dari KL saya terbang ke DPS. Tiba jam 22 WITA, mestinya jam 23 WITA saya sudah keluar bandara. Niatnya segera istirahat (rumah sahabat saya di sekitaran bandara) agar besok jam 03 WITA saya dan sahabat sudah bisa memulai perjalanan menuju Lovina.

Ndilalah kok saya kena random check dan njelehi tenan pemeriksaan macam-macam karena saya membawa pil-pil putih nggak bernama (placebo) untuk penelitian, tapi nggak ada keterangan yang bikin pemeriksaan makin ruwet.

Rasa waspada (sampai mungkin paranoid) petugas bandara DPS dengan mereka yang gamisan dan jilbaban lebar juga bikin pemeriksaan identitas saya sangat lama. Saya sampai mengeluarkan kartu Kagama (alumni UGM) agar mereka bisa ngecek konfirmasi kalau saya bukan orang tanpa identitas dari Malaysia. Jelas nggak termasuk DPO atau jaringan teroris internasional.

Setelah kejadian itu, saya nggak pernah lagi terbang antar negara melewati bandara internasional pake gamis kerudungan lebar, kecuali umroh dengan rombongan yang urusan berangkat-pulang wes diurus biro dan TL-nya.

Keluar dari bandara saat itu wes hampir jam 04 pagi. Yo jelas ambyar semua rencana kami 😜 Saat itu kami memilih menertawakan sistem birokrasi bandara kita yang ruwet bin angelo itu dengan wisata kuliner dan belanja-belinji, tuku-tuku sakarepmu. Nggak bisa ke Lovina ditunda besoknya; karena saya sudah harus kembali ke Jogja hari itu. Gaweyan urgent gakbisa ditinggal. Lha kan itu yang bikin kita dapat duit.😁😂

Namanya juga keinginan, kalau belum kesampaian kayak mengganggu pikiran aja. Makanya begitu lihat flyer Sering Travel berseliweran di timeline FB saya dan ada destinasi Pantai Lovina, nggak pake mikir dua kali saya langsung daftar. Waktu itu bulan Februari 2025 (bisa cek kwitansi saya di admin) untuk keberangkatan bulan Juni 2025. Niat tenan dan versi saya biayanya ringan. Nggo beli tiket pesawat pp JOG DPS bae racukup😁

Kenapa Juni, kok nggak bulan sebelumnya? Beuh, jadwal saya wes penuh. Januari saya ke Bromo. Februari ke Ijen. Maret eksplore Gunung Kidul. April piknik keluarga besar di daerah DIY. Mei di sekitaran Trowulan, Jawa Timur. Juni belum ada jadwal. Nah itu sebabnya pilihan di bulan Juni.

Tapi ndilalahnya Juni saya ada tugas delegasi Dialog Sastra Melayu 3 Negara (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam) di Kalimantan Timur. Biyuh, mundur lagi jadwal saya ke Lovina. Untungnya boleh diganti di bulan September.

Juni saya beneran turun hampir di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Timur. Juli saya full di Solo bolak balik Jogja. Agustus nggak ke mana-mana karena full dengan lomba-lomba Agustusan dan acara-acara ritual untuk penerimaan mahasiswa baru.

September ke Lovina. Oktober s/d Desember jadwal saya pun sudah penuh. Jadwal piknik (baca: bepergian) saya nyaris sebanyak jadwal mengisi kelas-kelas atau workshop penulisan di seluruh Indonesia; karena banyak juga piknik saya didanai klien atau sponsor.

Itu sebabnya kalau ada temen yang ngajak pergi dadakan, saya langsung setoran bendera putih. Mengganti jadwal nggak semudah membolakbalik tangan, apalagi kalau program yang melibatkan banyak orang. Dan finally, hore akhirnya saya berangkat betulan ke Lovina setelah (rasanya) berabad-abad tertunda melulu 😀🤩

Kenapa pingin sekali ke Lovina? Lihat lumba-lumba di alam aslinya. Di Maluku (tapi kalau secara de facto kayaknya lautan itu sudah masuk wilayah Australia), saya juga sudah pernah melihat lumba-lumba dan itu super “menyenangkan”. Happy dan takjubnya tuh nggak ilang selama berhari-hari.

Lumba-lumba yang saya lihat di Maluku. Sungguh wow… saya masih ingat betul teriakan heboh waktu melihat dua makhluk ini melompat di atas lautan. Sungguh menyenangkan.

Terus ada mitos di kalangan bangsa pelaut atau mereka yang punya tradisi maritim; siapa saja yang bisa melihat (bertemu) lumba-lumba di alam aslinya (adalah orang baik); dan akan mendapatkan beragam kebaikan, kesehatan, keberuntungan, keberlimpahan rezeki, keselamatan, keberkahan, dl.

Makanya saya juga ingin lihat lumba-lumba yang di Lovina. Secara biaya, ke Lovina jelas lebih terjangkau daripada pecicilan lagi ke Maluku. Pokmen kalau wisata Indonesia Timur, kalau nggak ditopang dana sponsor, beneran bisa bikin kantong jebol.

Ke Eropa 7 negara kamu cuma butuh 35 juta 14 hari sudah all in termasuk uang saku pribadi. Ke Maluku 35 juta cuma di Ambon sekitaran dan 7 hari saja, belum kalau laut lagi nggak bersahabat nggak bisa nyeberang, charge hotelmu bisa nambah terus 😂😁 Ke Eropa kalau dibuat flexing di sosmed sering di-like dan di-love banyak follower karena dianggap keren, glamour, kaya; Kalau ke Maluku capek fisik, ribet naik turun perahu, gonta-ganti pesawat kecil, jalan dan sarpras yang belum memadai, diposting di sosmed pun sering dianggap biasa aja😂😁

Wes pokmen, wisata domestik kita (mayoritas) memang masih mahal di ongkos terutama areal Indonesia Timur. Tapi bagi mereka yang doyan piknik; Indonesia Timur adalah “taman surga” yang mengejawantah di bumi. Semua alamnya cantik luar biasa. Biaya mahal, capeknya jalan di medan naik turun, ribetnya gonta-ganti pesawat atau perahu (kadang harus nunggu berhari-hari demi terpenuhi kuota minimal), dll effort besar itu nggak ada bandingannya dengan saat kita bisa berhadapan langsung dengan keindahan alam mahakarya sang Pencipta di muka bumi. Subhanallah ❤

Karena ini ikut open trip 4D3N saya tahu diri. Gakbawa koper, pakaian ganti secukupnya, gak bawa buku-buku yang biasanya selalu ada di tas kalau bepergian, gakbawa bantal pribadi. Lagipula, ini ke Bali; saya tenang aja. Kalau ada apa-apa, ada banyak orang yang bisa ditelponin untuk bala bantuan.

Bagaimana keseruan piknik saya bersama Sering Travel? Ikuti aja catatan saya berikutnya yes. Dan ingat, saya nggak sedang mengendorse biro wisata yes. Saya ikut trip ini bayar mandiri. Walaupun biaya ringan, tetep saya bayar 3x sesuai aturan mereka. Jadi di ingatan saya tuh, serasanya cuma bayar 300 rb (DPnya) sudah piknik ke Bali. Tentu masih banyak item yang kudu bayar dhewe. Ntar saya spill budget kalau sudah selesai ceritanya. Tapi sabar ya… nulisnya dikit-dikit😂

Ari Kinoysan Wulandari
Bersambung

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *