
Saya dengan salah satu guru saya, Uni Noni. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Pernah nggak sih, kamu merasa hidupmu “biasa-biasa saja”? Padahal kalau dilihat oleh orang lain, sebenarnya banyak banget hal yang bisa kita syukuri. Misalnya, kita sehat, punya keluarga, punya rumah, baju banyak, bisa makan tiga kali sehari, bisa tertawa bebas, bisa beribadah dengan mudah, punya pekerjaan dan penghasilan, dlsb. Tapi anehnya, hati tetap saja merasa kurang. Nah, kenapa ya kita sering kali nggak mudah bersyukur?
Manusia cenderung membandingkan. Saat teman liburan ke luar negeri, kita merasa liburan ke kota sebelah jadi “nggak ada apa-apanya”. Padahal, kebahagiaan bukan datang dari seberapa mewah tempatnya, tapi bagaimana kita menikmatinya.
Membandingkan terus-menerus bikin hati gampang merasa kurang, seolah apa yang ada sekarang nggak pernah cukup. Kita selalu menghitung-hitung yang belum kesampaian atau belum ada, sampai lupa menikmati semua yang sudah ada.
Sering kali kita mengukur hidup dari standar sosial media: harus punya barang-barang branded, wajah glowing, rumah estetik, piknik serba luar negeri, karier cemerlang, mobil mentereng, anak-anak sekolah di tempat-tempat elite favorit, dll. Kalau belum sampai titik itu, rasanya hidup kita (masih) gagal.
Padahal, standar kebahagiaan tiap orang berbeda. Kalau terus mengejar standar orang lain, kita akan sulit banget merasa cukup. Ibarat kata ukuran sepatu kita 40, tapi memakai sepatu ukuran 45 ya kegeden nggak pernah nyaman atau bahkan kesandung-sandung.
Saat sesuatu sudah jadi kebiasaan, kita sering lupa nilainya. Bisa makan enak, minum air bersih, bisa naik mobil, bisa pesan makanan online, punya rumah sendiri, punya gaweyan mapan, dll; semua itu sebenarnya kemewahan yang nggak semua orang punya. Tapi karena terbiasa, kita merasa itu “biasa saja”. Dan karena menganggap biasa saja, kita jadi lupa bersyukur. Iya apa iya?
Kadang, kita terlalu sibuk mengejar yang berikutnya sampai lupa berhenti sejenak. Hidup terasa seperti lomba tanpa garis finish. Kalau hati terus sibuk mengejar, kapan sempat berhenti dan berkata, “Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah untuk semua rezeki dan berkah-Mu hingga hari ini.”
Jadi, bagaimana biar lebih gampang bersyukur?
Belajar sadar momen kecil: nikmati secangkir kopi, obrolan hangat, atau sekadar bisa tidur nyenyak.
Kurangi membandingkan: ingat, highlight hidup orang lain di media sosial bukan cerita penuh mereka. Tampilannya mungkin hanya yang glamour, glossy, happy. Eh, coba ulik kehidupan riil mereka, kita nggak pernah tahu seberapa banyak jatuh bangun, keringat, airmata yang mereka curahkan untuk bisa pada titik itu. Jadi, kalau kamu iri sama “kesuksesan” orang lain, coba tengok perjuangan dan jatuh bangunnya juga.
Tulis jurnal syukur: coba tulis tiga hal yang kamu syukuri setiap malam. Lama-lama, otakmu terbiasa melihat sisi positif.
Berbagi: saat kita memberi, kita sadar bahwa ternyata apa yang kita punya sudah lebih dari cukup. Memberi membawa ruang kebahagiaan.
Bersyukur itu bukan berarti berhenti bermimpi atau pasrah. Bersyukur adalah menikmati apa yang ada sambil tetap berusaha lebih baik. Karena pada akhirnya, kebahagiaan bukan datang dari seberapa banyak yang kita punya, tapi seberapa happy kita menikmati dan menghargai segala yang sudah ada.
Ari Kinoysan Wulandari
