Tetap Tenang di Tengah Kesibukan

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Juli ini terasa berlari aja. Rasanya baru tanggal 1, ini sudah 10 hari lewat. Gaweyan dosen yang nggak berenti meskipun mahasiswa liburan, terasa membuat hari-hari penuh dilema. Memenuhi ajakan relasi, teman, keluarga, kerabat untuk berjumpa, makan-makan, piknik (karena mereka liburan), dengan tetap harus bekerja merampungkan tugas-tugas.

Pilihannya tentu harus pandai-pandai mengatur waktu, menyela di tengah kesibukan, memastikan semua rampung, untuk sekedar “mengambil waktu” berbincang dan berjumpa. Menyambung silaturahmi penting, gaweyan juga nggak kalah pentingnya.

Bagi saya pribadi, pekerjaan menumpuk, tenggat waktu kian mendekat, dan notifikasi terus berdatangan; rasanya hal yang biasa saja. Wes jadi makanan sehari-hari. Kadang saya malah bingung kalau harus break sehari saja tanpa aktivitas. Biasanya njur bingewatching, nonton maraton sampai tertidur sendiri😁

Situasi kesibukan dan deadline beruntun seperti itu, saya yakin juga banyak orang (dan sering) mengalaminya. Di tengah tekanan, menjaga ketenangan bukan perkara mudah, tetapi sangat mungkin dilakukan. Bahkan, kemampuan untuk tetap tenang saat sibuk adalah kunci untuk menyelesaikan tugas dengan lebih efektif.

Jadi, apa yang harus kita lakukan pada situasi tersebut?

Kesatu, biasanya siy saya menerima semuanya dengan legawa. Menyadari bahwa banyak gaweyan berarti banyak rezeki. Banyak rezeki berarti bisa banyak piknik, banyak berbagi, banyak ikut workshop dan kelas-kelas baru, dll yang memerlukan uang untuk aksesnya.

Kedua, saat ditagih deadline, tarik napas dan sadari bahwa panik nggak bikin masalah selesai. Menarik napas dalam-dalam selama beberapa detik bisa mengaktifkan respons relaksasi tubuh dan meredakan stres. Beri jeda sejenak. Saat panik, otak sulit berpikir jernih. Jadi, sebelum bergerak menyelesaikan pekerjaan, pastikan diri kita dalam kondisi tenang.

Ketiga, tentukan skala prioritas, jangan kerjakan semua gaweyan sekaligus. Kita bisa kelelahan tanpa hasil maksimal. Buat daftar gaweyan berdasarkan urgensi dan tingkat kesulitan.

Jangan mencoba menyelesaikan semuanya dalam satu waktu. Gunakan metode seperti Eisenhower Matrix atau teknik “prioritas A-B-C” untuk memetakan mana yang harus dikerjakan dulu. Fokuslah pada satu tugas, selesaikan, lalu lanjut ke yang berikutnya.

Keempat, atur waktu dengan cerdas. Gunakan teknik manajemen waktu seperti Pomodoro (kerja 25 menit, istirahat 5 menit) untuk menjaga fokus dan menghindari kelelahan.

Kelima, matikan notifikasi HP atau sosmed yang nggak penting biar kita bisa fokus. Kadang, satu jam kerja tanpa gangguan lebih produktif daripada tiga jam yang terpecah-pecah.

Keenam, belajar berkata “Tidak”. Saat deadline sudah dekat, jangan ragu menolak pekerjaan tambahan atau ajakan yang nggak penting atau mendesak. Menjaga kesehatan mental dan fokus lebih penting daripada menyenangkan semua orang. Prioritaskan yang memang jadi tanggung jawab kita.

Ketujuh, ingatkan diri bahwa kondisi itu hanya sementara. Perasaan tertekan bisa membuat kita lupa bahwa kondisi ini hanya sementara. Deadline akan lewat. Pekerjaan akan selesai.

Kedelapan, kita hanya perlu tetap waras dan berjalan satu langkah demi satu langkah. Setelah semuanya selesai, beri penghargaan pada diri sendiri. Rehat sejenak. Nikmati pencapaian kecil.

Jadi, sibuk bukan alasan untuk kehilangan kendali. Justru di tengah tekanan, ketenangan menjadi kekuatan. Dengan kepala dingin, manajemen waktu yang baik, dan mindset positif, kita nggak hanya bisa menyelesaikan tugas, tapi juga bisa melewatinya dengan gembira dan bahagia.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *